Iran Ancam Ledakkan Pusat Data Stargate, Infrastruktur AI Terancam

Jakarta, FORTUNE - Korps Garda Revolusi Islam Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) mengancam akan menyerang pusat data kecerdasan buatan proyek Stargate di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Fasilitas tersebut merupakan proyek infrastruktur AI bernilai sekitar US$30 miliar atau setara Rp509 triliun yang dikembangkan melalui kolaborasi sejumlah perusahaan teknologi global.
Ancaman itu disampaikan melalui video yang dirilis IRGC pada 3 April 2026. Dalam video tersebut ditampilkan citra satelit lokasi pusat data di kawasan gurun Abu Dhabi serta wajah para pimpinan perusahaan teknologi Amerika yang terlibat dalam proyek tersebut. Fasilitas ini disebut sebagai bagian dari proyek Stargate, klaster komputasi AI raksasa yang dirancang menjadi salah satu pusat data terbesar di luar Amerika Serikat.
Melansir Times of India, proyek tersebut didukung sejumlah perusahaan teknologi besar seperti Nvidia, OpenAI, Cisco, Oracle, serta SoftBank, bersama perusahaan teknologi Uni Emirat Arab G42. Pusat data itu dirancang memiliki kapasitas awal sekitar 200 megawatt pada 2026 dan ditargetkan berkembang hingga 1 gigawatt untuk menopang ambisi Uni Emirat Arab menjadi salah satu pusat kecerdasan buatan global pada 2031.
Juru bicara IRGC Brigadir Jenderal Ebrahim Zolfaghari menyatakan bahwa fasilitas tersebut dipandang sebagai target strategis.“Stargate merupakan target sah sebagai balasan atas tindakan Amerika,” ujarnya dalam pernyataan resmi yang disertai video ancaman tersebut.
Dalam pesan video yang sama, juru bicara markas Khatam al-Anbiya Headquarters juga menyampaikan ancaman lebih luas terhadap infrastruktur teknologi Barat di kawasan tersebut.
“Jika Amerika Serikat melanjutkan ancamannya terhadap fasilitas pembangkit listrik Iran, maka langkah-langkah balasan berikut akan segera dilaksanakan. Semua pembangkit listrik, infrastruktur energi, serta teknologi informasi dan komunikasi milik rezim Zionis, dan semua perusahaan serupa di kawasan yang memiliki pemegang saham Amerika, akan menghadapi kehancuran total dan menyeluruh,” kata juru bicara markas tersebut.
Video tersebut juga menampilkan pesan bertuliskan, “Tidak ada yang tersembunyi dari penglihatan kami, meskipun disembunyikan oleh Google.” Rekaman kemudian memperlihatkan lokasi proyek Stargate serta foto para eksekutif perusahaan teknologi Amerika yang terlibat, termasuk dari Nvidia, OpenAI, Microsoft, dan Goldman Sachs.
Ketegangan ini muncul di tengah meningkatnya eskalasi geopolitik di kawasan Teluk, terutama setelah muncul laporan mengenai kerusakan pada beberapa pusat data milik Amazon Web Services di Bahrain dan Uni Emirat Arab akibat serangan fisik. Situasi juga memanas setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperingatkan kemungkinan serangan terhadap fasilitas pembangkit listrik di Iran.
Melansir CBSNews, selain proyek Stargate, kanal Telegram yang dikaitkan dengan IRGC juga merilis daftar 18 perusahaan teknologi besar sebagai sasaran potensial. Daftar tersebut mencakup sejumlah raksasa teknologi seperti Microsoft, Google, Meta, Apple, Intel, Tesla, Palantir, Boeing, Dell, IBM, hingga Boeing yang dituduh memfasilitasi operasi militer dan intelijen melalui teknologi digital dan kecerdasan buatan. Daftar tersebut menunjukkan luasnya spektrum sektor teknologi yang dianggap memiliki hubungan dengan kepentingan strategis Amerika Serikat.
Analis dari Carnegie Endowment for International Peace, Sam Winter-Levy, menilai langkah tersebut mencerminkan strategi Iran untuk meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Amerika Serikat dan sekutunya di kawasan Teluk.
“Iran mencoba menyerang jantung simbolis kerja sama ekonomi antara AS dan kawasan Teluk,” kata Winter-Levy, mengutip Anadolu Ajansi. Ia menambahkan bahwa pusat data merupakan “target lunak” karena sangat bergantung pada pasokan energi dan sistem pendingin yang stabil.
Ancaman terhadap infrastruktur digital ini juga memunculkan kekhawatiran baru bagi industri teknologi global. Kerusakan pada pusat data di kawasan Teluk berpotensi menimbulkan dampak sistemik pada sektor bisnis lain seperti perbankan, logistik, hingga layanan digital.
Proyek Stargate sendiri sebelumnya diumumkan sebagai salah satu inisiatif AI paling ambisius yang didorong pemerintah Amerika Serikat untuk memperluas dominasi komputasi awan dan kecerdasan buatan di luar wilayah domestik. Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick menyebut proyek ini sebagai bagian dari strategi memperkuat kepemimpinan teknologi Amerika di tingkat global.
“Dengan memperluas tumpukan teknologi Amerika yang terdepan di dunia kepada mitra strategis penting di kawasan ini, kesepakatan ini menjadi tonggak besar dalam mewujudkan visi Presiden Trump untuk dominasi AI Amerika Serikat,” ujar Lutnick saat pengumuman proyek tersebut, mengutip Times of India.
Di sisi lain, pemerintah Uni Emirat Arab tetap mempertahankan ambisi untuk menjadikan negara tersebut sebagai pusat kecerdasan buatan global pada 2031, meskipun ancaman keamanan terhadap infrastruktur teknologi di kawasan terus meningkat.

















