Investasi US$10 Miliar Komputer Kuantum IBM Tiba di Singapura

- IBM berinvestasi US$10 miliar untuk mengembangkan komputer kuantum, termasuk kolaborasi dengan SAF dan DSTA Singapura guna mengeksplorasi penerapan teknologi ini dalam pertahanan dan logistik militer.
- Komputasi kuantum dinilai mampu memecahkan persoalan optimasi kompleks jauh lebih cepat dibanding komputer klasik, serta berpotensi mendukung sektor pelabuhan, keuangan, hingga riset ilmiah.
- McKinsey memproyeksikan nilai ekonomi komputasi kuantum mencapai US$1,3 triliun pada 2035, sementara Singapura bersiap sejak dini membangun talenta dan infrastruktur untuk menghadapi era komersialisasinya.
Singapore, FORTUNE — Komputer kuantum bukan lagi sekadar mimpi pengisi film fiksi ilmiah. Ia kini telah berwujud nyata dan negara tetangga tengah berancang-ancang menggunakannya.
Bayangkan sebuah operasi militer, menentukan rute terbaik untuk puluhan truk logistik yang harus mengirimkan pasokan ke berbagai lokasi mungkin terdengar seperti persoalan sederhana. Namun ketika jumlah kendaraan, tujuan, kondisi medan, hingga prioritas misi dihitung secara bersamaan, kombinasi kemungkinannya dapat mencapai angka yang hampir mustahil diproses komputer konvensional.
Inilah salah satu alasan mengapa Singapura mulai melirik komputasi kuantum.
IBM bersama Digital and Intelligence Service (DIS) Angkatan Bersenjata Singapura (Singapore Armed Forces/SAF) serta Defence Science and Technology Agency (DSTA) resmi menjalin kolaborasi untuk mengeksplorasi pemanfaatan komputasi kuantum dalam perencanaan misi pertahanan dan optimalisasi logistik militer.
Meski teknologinya masih berada pada tahap awal pengembangan, Singapura menilai komputasi kuantum berpotensi menjadi salah satu fondasi penting bagi sistem pertahanan masa depan.
"Ada keuntungan yang signifikan bagi keamanan nasional apabila kami memahami bagaimana komputasi kuantum dapat diterapkan, meskipun teknologinya masih dalam tahap awal dan manfaat praktisnya kemungkinan baru akan terlihat beberapa tahun lagi," kata Commander SAF C4 and Digitalisation Command, Military Expert 7 Guo Jinghua, di sela IBM Think Singapore, Selasa (21/7).
Dari drone hingga logistik
Kolaborasi tersebut akan mengkaji berbagai kemungkinan penerapan komputasi kuantum dalam operasi militer.
Salah satunya adalah mengoptimalkan perencanaan misi yang melibatkan drone tanpa awak untuk mengidentifikasi posisi pasukan lawan. Selain itu, teknologi ini juga dieksplorasi untuk menentukan rute distribusi truk logistik maupun kendaraan pengangkut bahan bakar agar misi pengiriman pasokan dapat diselesaikan dalam waktu sesingkat mungkin.
Permasalahan semacam ini dikenal sebagai persoalan optimasi yang sangat kompleks. Setiap tambahan kendaraan, lokasi, maupun kendala operasional akan meningkatkan jumlah kombinasi solusi secara eksponensial.
Guo memberikan gambaran sederhana. Hanya dengan mendistribusikan pasokan menggunakan 20 truk ke 50 lokasi, jumlah kemungkinan rute yang muncul sudah mencapai triliunan kombinasi.
Komputer klasik memang mampu menghitung berbagai kemungkinan tersebut, tetapi waktu yang dibutuhkan menjadi sangat panjang ketika variabel terus bertambah.
Di sinilah komputasi kuantum menawarkan pendekatan berbeda.
Berbeda dengan komputer konvensional yang memeriksa satu kemungkinan demi satu, komputer kuantum mampu mengeksplorasi sejumlah besar kemungkinan secara bersamaan sehingga berpotensi menemukan solusi jauh lebih cepat.
Menurut IBM, persoalan yang membutuhkan waktu ratusan hingga ribuan tahun bagi komputer klasik berpotensi diselesaikan hanya dalam hitungan menit atau jam menggunakan komputer kuantum berskala besar.
Sebagai bagian dari kerja sama tersebut, DIS dan DSTA akan memperoleh akses ke sumber daya komputasi kuantum IBM melalui cloud sekaligus mengembangkan keahlian dalam algoritma kuantum, kerangka pemrograman, dan implementasi teknologi tersebut.
"Kami perlu memastikan bahwa di lingkungan pertahanan terdapat kelompok insinyur dan pengembang yang memahami komputasi kuantum, algoritma, serta framework pemrogramannya," ujar Guo.
Ia menilai langkah tersebut penting agar Singapura tidak tertinggal ketika teknologi komputasi kuantum mulai matang dalam beberapa tahun mendatang.
Para ahli memperkirakan komputer kuantum yang mampu menjalankan algoritma kompleks secara andal sekaligus melakukan koreksi kesalahan (fault-tolerant) akan mulai tersedia sekitar tahun 2030.
"Itulah mengapa kami harus mulai sekarang agar dapat mengikuti perkembangan teknologinya secara dekat," katanya.
Bukan hanya militer
Potensi komputasi kuantum sebenarnya jauh melampaui sektor pertahanan.
Dalam IBM Think Singapore, Minister for Digital Development and Information Singapura Josephine Teo menjelaskan bahwa pelabuhan juga menghadapi tantangan optimasi yang serupa.
Setiap tahun, jutaan kontainer berpindah melalui pelabuhan Singapura. Posisi sebuah kontainer—misalnya berada pada tumpukan tingkat kedua atau tingkat kedelapan—dapat menentukan seberapa efisien proses bongkar muat berikutnya.
"Jika penempatannya optimal, pekerjaan untuk memuat ulang kontainer ke kapal berikutnya akan jauh lebih sedikit. Tetapi perhitungannya sangat kompleks," ujarnya.
Sektor keuangan juga mulai mengeksplorasi teknologi ini.
OCBC Bank, misalnya, bekerja sama dengan sejumlah universitas di Singapura untuk mengembangkan algoritma kuantum yang dapat meningkatkan deteksi fraud, melakukan derivative pricing, serta memperkuat sistem kriptografi.
Sementara itu, IBM melihat komputasi kuantum akan semakin erat kaitannya dengan perkembangan kecerdasan buatan (AI).
Senior Vice President IBM Europe, Middle East, Africa and Asia Pacific Ana Paula Assis mengatakan AI dan komputasi kuantum bukanlah dua teknologi yang saling bersaing.
"Teknologi ini saling melengkapi," ujarnya.
Menurut Assis, komputer kuantum mampu menghasilkan pengetahuan baru mengenai interaksi molekul, material baru, maupun berbagai simulasi ilmiah yang sebelumnya sulit dilakukan. Pengetahuan tersebut kemudian dapat digunakan AI untuk belajar dan menghasilkan model yang lebih canggih.
"AI yang belajar dari penemuan-penemuan komputasi kuantum akan menciptakan siklus inovasi yang sangat kuat," katanya.
Investasi US$10 miliar IBM
Keyakinan IBM terhadap masa depan komputasi kuantum tercermin dari keputusan perusahaan menggelontorkan investasi tambahan sebesar US$10 miliar selama lima tahun ke depan.
Investasi yang diumumkan di Amerika Serikat pada 2 Juni 2026 tersebut akan digunakan untuk penelitian dan pengembangan, peningkatan kapasitas manufaktur, pengembangan ekosistem, hingga akuisisi strategis.
IBM juga menargetkan menghadirkan komputer kuantum fault-tolerant berskala besar pertama di dunia pada 2029 melalui sistem IBM Quantum Starling.
Komputer ini dirancang mampu menjalankan 100 juta operasi kuantum menggunakan 200 qubit. Setelah itu, IBM menargetkan pengembangan sistem Quantum Blue Jay yang mampu menjalankan 1 miliar operasi kuantum dengan 2.000 qubit.
Saat ini IBM mengoperasikan lebih dari 90 sistem komputer kuantum di berbagai negara yang dapat diakses melalui cloud maupun instalasi langsung. Infrastruktur tersebut telah dimanfaatkan oleh lebih dari 340 organisasi dari sektor industri, akademik, kesehatan, hingga pemerintahan.
Potensi Ekonomi Capai US$1,3 Triliun
Prospek ekonomi komputasi kuantum juga semakin menarik perhatian.
Mengutip analisis McKinsey dalam Quantum Technology Monitor, empat industri yang diperkirakan pertama kali merasakan dampak ekonomi teknologi ini adalah otomotif, kimia, jasa keuangan, dan ilmu hayati.
Keempat sektor tersebut diproyeksikan berpotensi menciptakan nilai ekonomi hingga US$1,3 triliun pada 2035.
Seiring meningkatnya prospek komersialisasi, investasi ke perusahaan rintisan teknologi kuantum juga terus bertumbuh. Pada 2022, pendanaan startup di bidang komputasi kuantum, komunikasi kuantum, dan quantum sensing mencapai US$2,35 miliar, menjadi salah satu level tertinggi dalam sejarah industri tersebut.
Meski komputasi kuantum masih berada pada fase awal, langkah Singapura membangun kolaborasi dengan IBM menunjukkan bahwa negara tersebut tidak menunggu hingga teknologinya matang. Alih-alih mengejar ketika sudah menjadi arus utama, Singapura memilih membangun talenta, menguji berbagai skenario penggunaan, dan menyiapkan fondasi sejak dini agar siap memanfaatkan teknologi tersebut ketika memasuki era komersial.
















