Riset: AI Dorong Efisiensi dan Kapasitas Layanan Kesehatan Indonesia

- Riset FHI 2026 mencatat AI meningkatkan efisiensi kerja tenaga kesehatan Indonesia, mempercepat diagnosis dan keputusan klinis, serta membantu 69 persen responden menangani lebih banyak pasien.
- Adopsi AI tumbuh, tetapi pelatihan, integrasi sistem, pemantauan, dan tata kelola masih tertinggal; 58 persen tenaga kesehatan memakai perangkat pribadi saat opsi institusi dianggap tidak memadai.
- Tenaga kesehatan menegaskan AI tetap harus diawasi manusia; pasien meminta transparansi penggunaan AI, sementara informasi kesehatan keliru dari AI kerap perlu diluruskan saat konsultasi.
Jakarta, FORTUNE – Pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) mulai memberi dampak terhadap operasional layanan kesehatan di Indonesia. Selain membantu mempercepat alur kerja dan proses diagnosis, teknologi ini dinilai berpotensi memperluas kapasitas tenaga kesehatan dalam menangani pasien. Temuan tersebut tercantum dalam Future Health Index (FHI) 2026 edisi ke-11 untuk Indonesia yang dirilis Royal Philips. Laporan itu menunjukkan bahwa manfaat AI mulai dirasakan secara langsung oleh tenaga kesehatan, pasien, dan pengelola institusi kesehatan.
Laporan FHI tahun ini menandai pergeseran fokus dibandingkan edisi sebelumnya. Jika FHI 2025 menyoroti pentingnya membangun kepercayaan dan menyiapkan ekosistem yang mendukung penggunaan AI, laporan 2026 melihat dampak penerapan teknologi tersebut dalam praktik layanan kesehatan.
Meski manfaatnya semakin terlihat, kesiapan ekosistem masih menjadi tantangan. Penggunaan AI di kalangan tenaga kesehatan berkembang lebih cepat dibandingkan dengan ketersediaan pelatihan, integrasi sistem, pemantauan, dan tata kelola yang diperlukan untuk memastikan penerapannya berlangsung aman serta konsisten.
Temuan tersebut dipaparkan dalam acara bertajuk “AI in practice: Scaling AI for better care in Indonesia” yang digelar Philips di Jakarta. Forum tersebut mempertemukan perwakilan Kementerian Kesehatan, penyedia layanan kesehatan, dan asosiasi rumah sakit untuk membahas pengembangan AI yang bertanggung jawab di Indonesia.
“Diskusi mengenai AI dalam layanan kesehatan di Indonesia kini memasuki babak baru. Pertanyaannya bukan lagi sekadar apakah AI dapat meningkatkan kualitas layanan kesehatan melainkan bagaimana AI telah membantu tenaga kesehatan memiliki lebih banyak waktu, memperkuat pengambilan keputusan, dan membantu mereka memberikan pelayanan kepada lebih banyak pasien,” ungkap Astri Ramayanti Dharmawan, Presiden Direktur Philips Indonesia, dalam keterangannya, dikutip Selasa (15/9).
Menurut Astri, manfaat awal dari AI perlu diarahkan menjadi peningkatan kualitas layanan yang berkelanjutan. Untuk mencapai tujuan tersebut, teknologi harus terhubung dengan alur kerja klinis dan data kesehatan yang tepercaya. Penerapannya juga perlu disertai peningkatan kompetensi tenaga kesehatan, dengan penilaian serta akuntabilitas manusia tetap menjadi bagian utama dalam proses pelayanan.
Survei FHI 2026 memperlihatkan bahwa tenaga kesehatan Indonesia merasakan sejumlah manfaat dari penggunaan AI, terutama dalam aspek efisiensi dan kapasitas pelayanan. Sebanyak 88 persen tenaga kesehatan yang disurvei menyatakan AI telah membuat alur kerja mereka lebih efisien. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata global sebesar 71 persen. Selain itu, 87 persen responden mengaku dapat mengakses hasil diagnosis dengan lebih cepat, sedangkan 82 persen mengatakan AI mempercepat proses pengambilan keputusan terkait diagnosis.
Kemudahan akses terhadap data pasien juga menjadi salah satu manfaat yang menonjol. Sebanyak 75 persen tenaga kesehatan Indonesia melaporkan dapat mengakses data pasien yang terintegrasi lintas tim medis. Persentase ini melampaui angka global sebesar 57 persen. Akses data yang lebih terhubung berpotensi mengurangi waktu yang dibutuhkan tenaga kesehatan untuk menelusuri informasi dari berbagai sistem. Pada akhirnya, kondisi tersebut dapat mendukung pengambilan keputusan yang lebih terkoordinasi.
Dampak terhadap kapasitas pelayanan juga mulai terlihat. Sebanyak 69 persen tenaga kesehatan Indonesia mengatakan perangkat berbasis AI membantu mereka menangani lebih banyak pasien. Proporsi tersebut berada di atas rata-rata global sebesar 50 persen. Di antara responden yang merasakan peningkatan kapasitas, median tambahan pasien yang dapat dilayani mencapai empat orang per minggu.
AI juga dilaporkan membantu menghemat waktu kerja. Sekitar 59 persen tenaga kesehatan menyatakan memperoleh penghematan waktu rata-rata sedikitnya 88 jam per tahun. Jumlah tersebut setara dengan lebih dari dua pekan kerja penuh.
Penghematan waktu itu dinilai dapat memberi ruang lebih besar bagi tenaga kesehatan untuk menelaah kasus, meningkatkan ketelitian, dan memusatkan perhatian pada pekerjaan klinis yang memiliki nilai tambah lebih tinggi.
Manfaat tersebut turut berpengaruh terhadap keseimbangan kehidupan dan pekerjaan. Sebanyak 67 persen tenaga kesehatan Indonesia menyebut AI membantu meningkatkan work-life balance, dibandingkan 50 persen secara global. Persentase yang sama juga melaporkan tingkat stres yang lebih rendah, sementara separuh responden mengatakan mereka lebih jarang bekerja lembur atau membawa pekerjaan ke rumah.
Dalam konteks geografis Indonesia yang memiliki kesenjangan akses layanan kesehatan antarwilayah, 81 persen tenaga kesehatan percaya AI dapat membantu memperkecil perbedaan kualitas pelayanan dan meningkatkan akses bagi masyarakat di daerah yang belum terlayani secara optimal.
Dari sisi institusi, manfaat ekonomi juga mulai dirasakan. Sebanyak 43 persen pemimpin organisasi layanan kesehatan di Indonesia melaporkan adanya penghematan anggaran setelah menerapkan AI. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata global sebesar 34 persen. Sementara itu, 69 persen menyatakan manfaat dari investasi AI yang dilakukan telah menyamai atau melampaui biaya penerapannya.
“AI memberikan manfaat terbesar ketika diintegrasikan ke dalam alur kerja klinis dan membantu mengurangi hambatan dalam pekerjaan sehari-hari tenaga kesehatan. Bagi Siloam, peluangnya bukan sekadar menerapkan lebih banyak teknologi, tetapi mempercepat transformasi Siloam menuju Hospital of the Future yang selalu berfokus pada hasil klinis dan outcome terbaik bagi pasien,” kata David Utama, Presiden Direktur Siloam International Hospitals.
David menilai AI dapat membantu tenaga kesehatan mengambil keputusan secara lebih cepat dan akurat, sekaligus menyediakan lebih banyak waktu untuk membangun interaksi yang bermakna dengan pasien. Dalam penerapannya, teknologi diposisikan sebagai pendukung kapabilitas klinis, sedangkan dokter dan tenaga kesehatan tetap memegang peran utama dalam pengambilan keputusan serta pemberian layanan.
“Untuk memperluas penerapan AI secara luas dan bertanggung jawab, dibutuhkan kepemimpinan klinis yang kuat, data yang tepercaya dan saling terhubung, tata kelola yang jelas, serta kolaborasi erat di seluruh ekosistem kesehatan,” katanya, menambahkan.
Adopsi AI belum diimbangi kesiapan
Di tengah manfaat yang mulai dirasakan, penggunaan AI di lingkungan kerja tenaga kesehatan Indonesia juga terus meningkat. Sebanyak 63 persen responden menyatakan pemakaian perangkat berbasis AI yang disediakan institusinya bertambah dalam satu tahun terakhir. Selain itu, 57 persen tenaga kesehatan menggunakan AI generatif untuk mendiskusikan gagasan yang berkaitan dengan pekerjaan.
Tingkat kepercayaan terhadap pimpinan institusi juga relatif tinggi. Sebanyak 77 persen tenaga kesehatan percaya bahwa pimpinan mereka telah mengambil langkah yang tepat dalam menerapkan perangkat berbasis AI. Angka tersebut berada di atas rata-rata global sebesar 59 persen. Namun, ketersediaan perangkat dan dukungan di tempat kerja belum sepenuhnya sejalan dengan kebutuhan. Sebanyak 58 persen tenaga kesehatan mengaku menggunakan perangkat AI pribadi ketika pilihan yang disediakan institusi tidak memadai. Penggunaan perangkat di luar sistem resmi dapat memunculkan risiko, terutama jika teknologi tersebut belum melalui validasi klinis, belum terintegrasi secara aman, atau belum memenuhi standar privasi dan akuntabilitas yang jelas.
Pelatihan juga masih menjadi persoalan. Sebanyak 55 persen responden mengatakan pelatihan penggunaan AI sulit diperoleh, terbatas, atau tidak tersedia secara merata. Kebutuhan pelatihan tidak hanya berkaitan dengan pengoperasian teknologi, tetapi juga mencakup perlindungan data pasien, pemahaman tanggung jawab hukum, dan kemampuan mengevaluasi akurasi rekomendasi AI.
Aspek pemantauan pun belum sepenuhnya siap. Sebanyak 62 persen tenaga kesehatan menyebut belum tersedia proses yang jelas untuk mengawasi perangkat berbasis AI. Seiring meningkatnya peran teknologi dalam pelayanan, institusi kesehatan perlu menyiapkan mekanisme validasi, audit, pelacakan, dan evaluasi secara berkala.
Perkembangan tersebut menjadi semakin relevan seiring upaya Indonesia memperluas digitalisasi rekam medis elektronik melalui ekosistem SATUSEHAT. Tantangan berikutnya bukan hanya memperbanyak penggunaan AI, melainkan memastikan teknologi tersebut dapat bekerja secara aman bersama sistem informasi klinis, data kesehatan, dan tata kelola yang terintegrasi.
Tenaga kesehatan Indonesia juga melihat perubahan terhadap karakter pekerjaan mereka seiring dengan semakin luasnya penggunaan AI. Sebanyak 94 persen responden menyatakan pekerjaan mereka saat ini sudah atau akan segera lebih berfokus pada aktivitas klinis yang memiliki nilai lebih tinggi. Sebanyak 83 persen lainnya percaya AI dapat membantu mereka bekerja secara optimal sesuai dengan kemampuan profesional yang dimiliki. Ketika AI mulai mengambil alih tugas administratif, mengolah informasi, dan membantu analisis klinis, tenaga kesehatan mulai memandang teknologi tersebut sebagai rekan kerja, bukan semata-mata perangkat pendukung. Kendati demikian, mereka tetap menekankan pentingnya pengawasan manusia.
Sebanyak 94 persen responden menyatakan keterlibatan manusia tetap diperlukan seiring perkembangan AI. Sementara itu, 91 persen percaya seluruh hasil yang dihasilkan AI harus tetap berada di bawah pengawasan manusia.
Untuk sebagian besar penerapan klinis, kurang dari 10 persen tenaga kesehatan merasa nyaman apabila AI diberi kewenangan untuk mengambil keputusan dan bertindak secara mandiri. Sikap tersebut menunjukkan bahwa AI lebih dipandang sebagai mitra dalam proses pengambilan keputusan, sementara tanggung jawab akhir tetap berada pada tenaga kesehatan.
Relasi antara tenaga kesehatan dan pasien juga dianggap tidak tergantikan. Sebanyak 90 persen responden mengatakan AI tidak akan mampu menggantikan hubungan yang terbangun antara tenaga kesehatan dan pasien. Sebanyak 87 persen lainnya menilai keterampilan interpersonal justru akan semakin penting seiring dengan kemajuan teknologi.
Pasien pun mulai menggunakan AI untuk memperoleh informasi kesehatan. Dalam survei tersebut, 57 persen pasien mengaku memanfaatkan AI generatif untuk mencari informasi kesehatan secara daring. Namun, penggunaan teknologi itu juga membawa tantangan baru. Sebanyak 80 persen tenaga kesehatan mengatakan mereka pernah meluruskan informasi keliru yang diperoleh pasien dari AI ketika informasi tersebut dibawa ke dalam konsultasi. Keterbukaan mengenai penggunaan AI menjadi salah satu kebutuhan penting. Sebanyak 91 persen pasien Indonesia menyatakan mereka perlu diberi tahu apabila AI digunakan dalam proses perawatan.
Perluasan AI di sektor kesehatan tidak cukup hanya ditopang oleh kemampuan teknologi. Kepercayaan pasien, kompetensi tenaga kesehatan, keamanan data, transparansi, dan pengawasan manusia akan menjadi faktor penting dalam menentukan apakah AI dapat berkembang menjadi bagian yang berkelanjutan dari sistem layanan kesehatan Indonesia.



















