Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install

15 Tahun Tim Cook Memimpin Apple, Kapitalisasi Tembus US$4 Triliun

15 Tahun Tim Cook Memimpin Apple, Kapitalisasi Tembus US$4 Triliun
John Ternus dan Tim Cook. (www.apple.com)
  • Tim Cook mengakhiri 15 tahun sebagai CEO Apple dan menyerahkan jabatan kepada John Ternus; Cook tetap menjadi executive chairman serta membantu urusan perusahaan dan pembuat kebijakan.
  • Selama era Cook, kapitalisasi Apple melampaui US$4 triliun, pendapatan tahunan naik menjadi US$416 miliar, sementara iPhone, Services, Apple Silicon, Apple Watch, dan AirPods memperkuat bisnis.
  • Ternus menghadapi tuntutan mempercepat AI melalui Apple Intelligence dan Siri, sekaligus menjaga pertumbuhan, mengembangkan produk baru, serta memenuhi perhatian investor terhadap peluncuran iPhone dan kacamata pintar.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, FORTUNE – Era kepemimpinan Tim Cook di Apple resmi berakhir setelah 15 tahun. Cook menyerahkan posisi CEO kepada John Ternus, senior vice president hardware engineering Apple, di tengah tuntutan agar perusahaan mempercepat langkahnya dalam kecerdasan buatan (AI).

Cook tidak sepenuhnya meninggalkan Apple. Ia akan menjalankan peran sebagai executive chairman dan tetap membantu sejumlah urusan perusahaan, termasuk keterlibatan dengan pembuat kebijakan di berbagai negara.

Pergantian pucuk pimpinan ini menandai babak baru bagi Apple. Ternus mewarisi perusahaan dengan kapitalisasi pasar lebih dari US$4 triliun, jauh di atas sekitar US$350 miliar ketika Cook mengambil alih posisi CEO dari Steve Jobs pada 2011.

Melansir Investing.com, selama kepemimpinan Cook, pendapatan tahunan Apple melonjak hampir empat kali lipat, dari US$108 miliar pada 2011 menjadi US$416 miliar pada 2025. Pendapatan iPhone juga meningkat dari US$47,1 miliar menjadi US$209,6 miliar dalam periode yang sama.

Cook juga memimpin Apple dalam memperluas portofolio produknya melalui Apple Watch dan AirPods, sekaligus mengawal transisi penting dari prosesor Intel ke chip buatan sendiri, Apple Silicon. Perubahan tersebut memperkuat performa dan efisiensi produk Mac.

Di luar perangkat keras, Services berkembang menjadi salah satu mesin pertumbuhan terbesar Apple dengan pendapatan tahunan menembus US$100 miliar. Segmen ini kini menjadi bisnis terbesar kedua perusahaan setelah iPhone.

Dalam pernyataan saat mengumumkan transisi kepemimpinan, Cook menggambarkan posisinya sebagai CEO Apple sebagai salah satu pencapaian terbesar dalam hidupnya.

“Menjadi CEO Apple adalah kehormatan terbesar dalam hidup saya. Saya mencintai Apple dengan segenap jiwa saya," ujar Tim Cook.

Kesuksesan Cook banyak bertumpu pada keunggulan operasional dan rantai pasok. Keahliannya di bidang tersebut membantu Apple memperbesar skala bisnis secara signifikan setelah menggantikan Jobs. Namun, warisan Cook tidak semata-mata tercermin dari angka keuangan. Ia juga meninggalkan budaya organisasi yang menjadi salah satu fondasi Apple.

Dalam memo internal menjelang pergantian jabatan, Cook memberikan dukungan penuh kepada penerusnya. “Sedikit orang yang memahami apa yang dibutuhkan untuk membangun produk yang mengubah dunia seperti yang John pahami, dan saya tidak bisa lebih antusias lagi menyambut kepemimpinannya," katanya.

Cook juga menekankan peran budaya dalam perjalanan Apple. “Tempat ini adalah bukti bahwa budaya mengalahkan segalanya," ujarnya.

Kini, tongkat estafet tersebut berpindah kepada Ternus. Tantangannya bukan lagi sekadar mempertahankan mesin pertumbuhan yang sudah berjalan, melainkan menemukan sumber pertumbuhan berikutnya di tengah perlombaan AI yang semakin ketat. Sementara Cook bergeser ke kursi executive chairman, Ternus harus membuktikan bahwa Apple dapat memasuki era baru tanpa kehilangan formula yang membuat perusahaan menjadi salah satu bisnis paling bernilai di dunia.

  1. Tantangan John Ternus

    Ternus memasuki posisi CEO ketika Apple menghadapi tantangan berbeda dari era awal Cook. Fokus utama kini bergeser pada kemampuan perusahaan mengejar ketertinggalan di bidang AI.

    Apple dinilai belum bergerak secepat sejumlah pesaingnya, termasuk Microsoft dan Google, dalam mengembangkan teknologi AI generatif. Karena itu, pengembangan Apple Intelligence dan pembaruan Siri menjadi salah satu agenda strategis yang akan menentukan awal kepemimpinan Ternus.

    Ternus sendiri bukan sosok baru di Apple. Ia telah bergabung dengan perusahaan selama sekitar 25 tahun dan memimpin organisasi hardware engineering sejak 2021. Latar belakang tersebut membuatnya sangat memahami pengembangan perangkat keras Apple, tetapi sekaligus menempatkannya di bawah sorotan untuk membuktikan bahwa keahlian tersebut dapat diterjemahkan ke strategi AI dan perangkat lunak.

    Salah satu langkah yang disoroti adalah pengembangan platform AI internal yang ditujukan untuk mempercepat proses pengembangan produk. Apple juga dikabarkan tengah mempersiapkan pembaruan Siri yang memanfaatkan model Gemini milik Google.

    Tantangan AI tersebut akan berjalan beriringan dengan pengembangan kategori produk baru. Apple dilaporkan tengah menyiapkan iPhone lipat, sementara kacamata pintar juga menjadi bagian dari peta jalan produk perusahaan ke depan.

    Melansir, Yahoo Finance menyebut Ternus diperkirakan akan menghadapi periode transisi besar, termasuk peluncuran iPhone lipat dan kacamata pintar serta produk-produk berbasis AI yang dapat menjadi penantang perangkat AI generasi baru. Salah satu ujian awal Ternus adalah agenda peluncuran produk Apple pada September. Investor akan mencermati seri iPhone terbaru serta kemungkinan kehadiran iPhone lipat.

    Bagi pasar, bukan hanya produk yang menjadi perhatian. Kemampuan Apple mempertahankan pertumbuhan pendapatan, memperluas Services, dan meningkatkan monetisasi ekosistem akan menjadi indikator penting untuk menilai arah kepemimpinan baru.

    Melansir Investing.com, saham Apple berada di sekitar US$320 menjelang pergantian CEO. Dalam 12 bulan terakhir, saham perusahaan telah menguat sekitar 40 persen. Kinerja jangka panjangnya bahkan jauh lebih mencolok. Sejak Agustus 2011 hingga hari terakhir Cook sebagai CEO, saham Apple telah melonjak lebih dari 2.000 persen, melampaui kenaikan S&P 500 yang berada di atas 500 persen dalam periode yang sama.

    Dengan valuasi sebesar itu, ruang bagi Ternus untuk melakukan kesalahan relatif sempit. Investor tidak hanya menunggu produk baru, tetapi juga ingin melihat apakah Apple mampu mengubah AI menjadi sumber pertumbuhan baru tanpa mengorbankan mesin bisnis yang telah dibangun Cook.

Share Article
Editorial Team

Latest in Tech

See More