Starlink Tembus 10.900 Satelit, SpaceX Pasang Target Fantastis

- SpaceX mengoperasikan lebih dari 10.900 satelit Starlink aktif dan menargetkan konstelasi hingga 100.000 unit, didukung satelit V3 berkapasitas lebih besar.
- Dari 93 penerbangan Falcon 9 sepanjang 2026, 72 misi memperluas Starlink; layanan ini memiliki 22 juta pelanggan seluler dan hampir 70 persen pendapatan SpaceX.
- SpaceX menargetkan kapasitas komputasi AI 10 gigawatt pada akhir 2027, setelah belanja modal US$15,8 miliar kuartal II-2026 untuk infrastruktur data orbital dan pengembangan AI.
Jakarta, FORTUNE – SpaceX terus memperbesar bisnis Starlink, bahkan ketika perusahaan mulai mengarahkan investasi besar-besaran ke kecerdasan buatan (AI). Perusahaan milik Elon Musk tersebut kini mengoperasikan lebih dari 10.900 satelit Starlink di orbit rendah Bumi dan menargetkan konstelasinya berkembang hingga 100.000 satelit.
Ekspansi tersebut kembali terlihat dari peluncuran 29 satelit Starlink menggunakan roket Falcon 9 dari Cape Canaveral Space Force Station, Florida, Amerika Serikat (AS), pada Selasa, Agustus 2026 pukul 11.58 waktu setempat.
Melansir Space.com, menurut astrofisikawan Jonathan McDowell, jumlah satelit Starlink yang masih aktif di orbit telah melampaui 10.900 unit. Skala tersebut menjadikan Starlink sebagai konstelasi satelit terbesar yang pernah dibangun. Bagi SpaceX, peluncuran Starlink bukan lagi aktivitas tambahan, melainkan bagian utama dari agenda operasional perusahaan. Dari 93 penerbangan Falcon 9 yang telah dilakukan sepanjang 2026, sebanyak 72 di antaranya digunakan untuk memperluas jaringan Starlink.
Dalam misi terbaru, SpaceX menggunakan booster tahap pertama Falcon 9 berkode B1085 yang telah menjalani 18 penerbangan. Sekitar 8,5 menit setelah lepas landas, booster tersebut kembali ke Bumi dan mendarat di kapal drone A Shortfall of Gravitas di Samudra Atlantik.
Sementara itu, tahap atas Falcon 9 meneruskan perjalanan dengan membawa 29 satelit menuju orbit rendah Bumi. Satelit-satelit tersebut dijadwalkan dilepaskan sekitar 64 menit setelah peluncuran apabila seluruh tahapan misi berjalan sesuai rencana.
B1085 juga sebelumnya digunakan dalam misi Crew-9 menuju Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) serta Fram 2 yang melakukan penerbangan mengelilingi wilayah kutub Bumi.
Jumlah lebih dari 10.900 satelit belum menjadi batas ekspansi SpaceX. Perusahaan disebut tengah menyiapkan langkah untuk memperbesar konstelasi Starlink hingga 100.000 satelit. Untuk mencapai skala tersebut, SpaceX akan mengandalkan Starlink V3, generasi baru satelit yang memiliki kapasitas uplink dan downlink lebih besar dibandingkan generasi sebelumnya.
Target itu menunjukkan bahwa strategi Starlink tidak semata-mata mengandalkan penambahan jumlah satelit. SpaceX juga berupaya meningkatkan kapasitas jaringan melalui teknologi satelit generasi baru agar mampu menopang pertumbuhan pengguna dan kebutuhan konektivitas yang semakin besar.
Ambisi tersebut berjalan beriringan dengan perluasan basis pelanggan Starlink. Dalam pertemuan dengan seluruh karyawan SpaceX, Musk mengatakan layanan internet berbasis satelit tersebut telah memiliki 22 juta pelanggan seluler.
Angka itu lebih besar dibandingkan sekitar 12 juta pelanggan internet nirkabel tetap yang dimiliki Starlink pada akhir kuartal II-2026. Menurut laporan Barron's, pernyataan Musk kemungkinan mengacu pada kemitraan Starlink dengan operator seluler untuk menyediakan konektivitas satelit ke perangkat seluler, terutama di wilayah yang tidak terjangkau jaringan terestrial. Pernyataan tersebut juga mendapat perhatian dari industri telekomunikasi. Pada perdagangan Rabu, saham AT&T turun 1 persen, sedangkan saham Verizon Communications melemah 0,7 persen.
Dari satelit ke Infrastruktur AI
Di balik ekspansi Starlink, SpaceX mulai menempatkan AI sebagai mesin pertumbuhan berikutnya. Dalam pertemuan internal tersebut, Musk menyampaikan ambisi perusahaan untuk menjadi pemain utama dalam AI dan robotika.
"Kita harus menang dalam AI karena masa depan sangat didominasi oleh AI dan robot," ujar Musk, mengutip Barron's.
SpaceX menargetkan kapasitas komputasi AI sebesar 10 gigawatt dapat beroperasi pada akhir 2027. Angka itu sekitar 10 kali lipat dari kapasitas komputasi AI perusahaan saat ini. Jika target tersebut tercapai, kapasitas komputasi SpaceX diperkirakan setara dengan sekitar 15-20 persen dari total kapasitas komputasi AI yang beroperasi di AS. Namun, ambisi tersebut membutuhkan pembangunan infrastruktur dalam skala besar.
SpaceX bahkan telah menggelontorkan belanja modal US$15,8 miliar pada kuartal II-2026 untuk membangun infrastruktur data orbital dan memperbesar kapasitas pengembangan model AI.
Selain itu, perusahaan meluncurkan 24 satelit Starlink dari Vandenberg Space Force Base pada Selasa malam. Misi tersebut menjadi peluncuran ke-51 SpaceX dari Pantai Barat AS sepanjang tahun ini.
Meski AI mulai mengambil porsi besar dalam agenda investasi SpaceX, Starlink masih menjadi bisnis utama perusahaan. Bisnis satelit tersebut menyumbang hampir 70 persen dari total pendapatan SpaceX.
Dalam laporan keuangan kuartal II-2026, bisnis satelit mencatat pendapatan US$4,29 miliar untuk periode tiga bulan yang berakhir pada 30 Juni. Sebaliknya, bisnis komputasi AI dan perangkat keras Starship generasi berikutnya masih membukukan kerugian operasional.
Kondisi tersebut menunjukkan posisi Starlink yang cukup penting dalam membiayai ekspansi SpaceX ke bisnis baru. Di satu sisi, perusahaan terus memperluas jaringan satelit dan mengejar target 100.000 unit. Di sisi lain, arus modal mulai diarahkan untuk membangun kapasitas AI yang jauh lebih besar.
Pergerakan saham SpaceX pun mencerminkan perhatian investor terhadap dua agenda tersebut. Saham perusahaan naik 11 persen menjadi US$148,44 pada Rabu setelah Musk menyampaikan rencana AI dan perkembangan Starlink. Sehari sebelumnya, saham ditutup turun 3,9 persen di level US$133,29.
Sebelumnya, saham SpaceX sempat mencapai rekor US$201,80 pada 16 Juni dan kemudian terkoreksi lebih dari 30 persen menjelang berakhirnya periode pembatasan pertama untuk penjualan saham. Aksi jual besar yang diperkirakan pasar ternyata tidak terjadi.
Investor kini kembali mencermati berakhirnya periode pembatasan saham berikutnya pada 20 Agustus. Pada saat yang sama, SpaceX harus membuktikan apakah investasi besar di AI mampu menghasilkan pertumbuhan baru tanpa menggerus mesin pendapatan yang saat ini masih ditopang Starlink.
Dengan demikian, ekspansi Starlink dan pembangunan infrastruktur AI bukan lagi dua agenda yang berjalan sendiri. Keduanya menjadi bagian dari taruhan SpaceX untuk membangun sumber pertumbuhan baru, dengan Starlink sebagai fondasi bisnis dan AI sebagai pertaruhan berikutnya.





















