Alibaba Incar Rp180 Triliun untuk Perkuat Bisnis AI

Jakarta, FORTUNE - Alibaba Group Holding Ltd. mencari tambahan modal dalam jumlah besar untuk mempercepat pengembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Perusahaan teknologi asal Cina tersebut menghimpun sekitar HK$80 miliar atau setara US$10,2 miliar melalui penempatan saham (share placement).
Dana itu seluruhnya akan diarahkan untuk memperkuat kapabilitas AI Alibaba, termasuk pengembangan dan perluasan infrastruktur komputasi. Langkah tersebut memperlihatkan besarnya kebutuhan modal perusahaan teknologi untuk mempertahankan posisi dalam perlombaan AI yang semakin kompetitif.
Reuters melaporkan Alibaba menawarkan 710 juta saham baru dengan harga HK$112,70 per saham. Transaksi tersebut menjadi primary follow-on offering terbesar yang pernah dilakukan perusahaan yang tercatat di Bursa Hong Kong dan menjadi yang terbesar ketiga di dunia pada 2026, setelah aksi serupa yang dilakukan Alphabet dan Intel.
Penempatan saham tersebut ditujukan kepada investor non-Amerika Serikat. Morgan Stanley, HSBC, UBS, dan Cina International Capital Corp. bertindak sebagai joint bookrunners dalam transaksi tersebut. Selain itu, permintaan investor cukup kuat sehingga ukuran penawaran dinaikkan setelah mengalami kelebihan permintaan (oversubscribed).
Penggalangan dana tersebut berlangsung ketika Alibaba sedang meningkatkan belanja modal untuk mengejar pertumbuhan AI. Perusahaan sebelumnya telah menetapkan rencana investasi sekitar 380 miliar yuan atau US$56,4 miliar untuk AI dalam periode tiga tahun hingga 2029.
Hingga kuartal yang berakhir Juni 2026, Alibaba telah menggunakan hampir separuh dari anggaran tersebut. Belanja modal pada kuartal tersebut melonjak 75 persen secara tahunan menjadi 67,68 miliar yuan, terutama karena meningkatnya kebutuhan chip dan infrastruktur komputasi.
Besarnya pengeluaran tersebut mulai terlihat pada kinerja keuangan. Laba bersih Alibaba pada kuartal April-Juni turun 75 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Di sisi lain, perusahaan mengalami arus kas bebas negatif sekitar US$6,6 miliar pada periode tersebut.
Tekanan tersebut menunjukkan konsekuensi dari strategi Alibaba yang memilih menggelontorkan modal besar untuk membangun kapasitas AI sebelum manfaat finansialnya sepenuhnya terlihat.
CEO Alibaba, Eddie Wu, mengatakan perusahaan perlu membangun kapasitas komputasi terlebih dahulu untuk menangkap peluang pertumbuhan yang muncul dari AI.
Alibaba memperkirakan periode pengembalian investasi (payback period) untuk belanja modal AI dapat dipercepat menjadi sekitar 2,5 tahun dari sebelumnya tiga tahun. Percepatan tersebut didorong oleh meningkatnya permintaan terhadap layanan AI.
Di sisi bisnis, Alibaba tidak hanya membangun infrastruktur, tetapi juga mengembangkan model AI miliknya melalui keluarga Qwen.
Pada awal Agustus 2026, Alibaba memperkenalkan Qwen3.8-Max, model dengan 2,4 triliun parameter yang disebut sebagai model AI terbesar dan paling mumpuni yang pernah dikembangkan perusahaan. Model tersebut juga menunjukkan performa kuat dalam sejumlah pemeringkatan model AI dan mampu menangani teks, gambar, serta video dengan konteks hingga 1 juta token.
Pengembangan model tersebut menjadi bagian dari strategi Alibaba untuk membangun ekosistem AI secara menyeluruh, mulai dari chip, pusat data, komputasi awan, model bahasa besar (large language model/LLM), hingga layanan yang menggunakan AI.
Alibaba Cloud menjadi salah satu bagian yang mulai memperlihatkan dampak positif dari investasi tersebut. Pendapatan layanan cloud dan AI tumbuh 45 persen menjadi 48,44 miliar yuan pada kuartal Juni. Pendapatan tahunan berulang (annual recurring revenue/ARR) dari bisnis AI model-as-a-service juga telah melampaui 16 miliar yuan.
Perkembangan tersebut menjadi penting karena Alibaba menghadapi persaingan ketat dengan perusahaan teknologi Cina lain seperti Tencent, Baidu, serta berbagai perusahaan rintisan AI.
Reuters mencatat persaingan di Cina kini bergeser menuju pengembangan model yang semakin canggih sekaligus murah untuk dijalankan. Perusahaan-perusahaan teknologi juga berlomba mengembangkan kemampuan AI agent dan coding untuk merebut pasar korporasi.
Persaingan itu tidak hanya terjadi di Cina. Belanja AI global juga terus meningkat. Financial Times mencatat empat perusahaan teknologi besar Amerika Serikat—Alphabet, Amazon, Microsoft, dan Meta—telah mengeluarkan lebih dari US$1,1 triliun untuk belanja modal sejak perlombaan AI dimulai pada 2023. Keempatnya diperkirakan mengalokasikan sekitar US$745 miliar untuk belanja modal pada 2026, terutama untuk pusat data, chip, dan infrastruktur pendukung AI.
Dalam konteks tersebut, aksi Alibaba menunjukkan bahwa perlombaan AI semakin membutuhkan modal dalam jumlah besar. Perusahaan bukan hanya dituntut menghasilkan model yang lebih canggih, tetapi juga membangun kapasitas komputasi yang mampu menjalankan dan melatih model tersebut.
Di tengah tekanan terhadap arus kas dan laba jangka pendek, Alibaba kini bertaruh bahwa investasi besar tersebut dapat menghasilkan pertumbuhan baru melalui bisnis cloud dan layanan AI.
Perusahaan pun harus membuktikan bahwa tambahan modal yang dihimpun dari pasar dapat diterjemahkan menjadi pertumbuhan pendapatan dan keuntungan, bukan sekadar memperbesar kapasitas teknologi.




















