Era Eksperimen AI Berakhir, Perusahaan Asia Pasifik Mulai Investasi Infrastruktur
- Perusahaan Asia-Pasifik mulai mengalihkan anggaran AI dari proyek percontohan ke implementasi di lingkungan produksi.
- Fokus adopsi AI bergeser pada infrastruktur yang aman, andal, efisien, serta mampu menangani kebutuhan data real-time.
- Akamai memperluas kapabilitas komputasi dan infrastruktur terdistribusi untuk mendukung adopsi AI pelanggan.
Jakarta, FORTUNE - Adopsi kecerdasan buatan (AI) di kawasan Asia-Pasifik memasuki fase baru. Perusahaan tidak lagi sekedar bereksperimen dengan teknologi AI, tetapi mulai mengalokasikan anggaran dan berinvestasi untuk membangun infrastruktur untuk mengoperasikannya dalam skala besar.
Senior Vice President of Sales and Managing Director Asia-Pacific Akamai, Sean Li, mengatakan perubahan tersebut turut menggeser kebutuhan perusahaan. Jika sebelumnya banyak pelanggan mempertanyakan apakah mereka perlu berinvestasi di AI dan area mana yang harus menjadi prioritas, kini fokus bergeser pada bagaimana mengimplementasikan AI secara aman, andal, dan efisien.
“Ini bukan lagi soal model mana yang mereka pilih untuk digunakan, melainkan bagaimana membangun infrastruktur yang dapat mendukung perjalanan panjang AI, di mana keamanan, latensi, tata kelola, dan efektivitas biaya semuanya menjadi penting,” ujarnya dalam diskusi virtual, Kamis (20/8).
Menurut Sean, lanskap adopsi AI di Asia-Pasifik kini tidak hanya dipetakan berdasarkan perbedaan antara negara maju dan berkembang. Pembeda utamanya terletak pada tingkat kematangan adopsi AI perusahaan, yakni antara perusahaan yang masih bereksperimen dan mereka yang mulai mengoperasionalkan AI.
Perubahan tersebut tercermin dari pergeseran anggaran AI. Perusahaan mulai mengalihkan investasi dari proyek percontohan (pilot project) dan proof of concept menuju implementasi AI di lingkungan produksi.
“Semakin banyak perusahaan mengalokasikan anggaran yang cukup besar untuk proyek AI yang tertanam dalam lingkungan produksi,” ujar Sean.
AI Menjadi Mesin Pertumbuhan
Menurut Sean, perubahan tidak hanya terjadi pada besaran investasi, tetapi juga pada cara perusahaan memandang AI. Teknologi tersebut mulai bergeser dari sekadar alat untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi proses bisnis menjadi instrumen transformasi bisnis dan meningkatkan pendapatan.
Sejumlah perusahaan, misalnya, menggunakan AI untuk meningkatkan keterlibatan pelanggan. Di industri gim, AI digunakan untuk menciptakan karakter virtual dengan perilaku dan tampilan yang dipersonalisasi untuk menemani pemain.
Sementara di sektor e-commerce, AI dimanfaatkan untuk menciptakan pengalaman belanja yang lebih imersif. Konsumen dapat mengunggah swafoto, kemudian sistem menghasilkan berbagai tampilan yang disesuaikan dengan skenario tertentu untuk memberikan inspirasi belanja.
Menurut Sean, pemanfaatan tersebut menunjukkan bahwa AI semakin diarahkan untuk meningkatkan engagement, pengalaman pelanggan, hingga mendorong transaksi.
“Perusahaan tidak lagi melihat AI hanya sebagai alat untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi, tetapi sebagai peluang untuk mentransformasi bisnis, menciptakan bisnis baru, meningkatkan keterlibatan pelanggan, dan mendorong pendapatan,” ujarnya.
Infrastruktur Menjadi Tantangan Baru
Seiring meluasnya penggunaan AI, kebutuhan infrastruktur juga berubah. Sean mencatat sedikitnya empat pergeseran utama yang mulai membentuk infrastruktur teknologi perusahaan.
Pertama, AI bergerak dari sekadar sistem pendukung menuju eksekusi tindakan. AI tidak lagi hanya berfungsi sebagai co-pilot, tetapi mulai mampu menyelesaikan tugas dan mengambil tindakan atas nama pengguna.
Kedua, permintaan terhadap infrastruktur meningkat karena AI semakin tertanam dalam berbagai aplikasi, agent, dan beban kerja. Berbeda dengan tenaga manusia, AI agent dapat bekerja sepanjang waktu sehingga membutuhkan kapasitas pemrosesan data secara real-time yang lebih besar.
Ketiga, perusahaan mulai mengubah struktur organisasi untuk mengakomodasi strategi AI. Menurut Sean, sejumlah perusahaan bahkan menempatkan chief AI officer yang melapor langsung kepada CEO. Artinya, strategi AI tidak lagi menjadi tanggung jawab satu departemen, melainkan membutuhkan koordinasi lintas fungsi.
Keempat, penciptaan nilai semakin bergeser ke agent layer, yakni kemampuan mengintegrasikan model AI, agent, dan aplikasi untuk menghasilkan dampak bisnis.
“Ini bukan lagi soal model mana yang lebih cerdas atau lebih efisien, tetapi bagaimana menyatukan model, agent, dan aplikasi sehingga dapat menghasilkan lebih banyak hasil bisnis,” ujarnya.
Perubahan tersebut sekaligus memperlihatkan keterbatasan infrastruktur IT tradisional yang sejak awal tidak dirancang untuk menangani beban kerja AI dengan intensitas tinggi.
Perusahaan Mulai Mengendalikan Biaya AI
Perubahan pola investasi juga terlihat dari cara perusahaan mengelola model AI. Sean mengatakan, pada tahap awal, banyak perusahaan memanfaatkan model pihak ketiga dengan sistem berbasis token.
Namun, ketika penggunaan meningkat dan biaya token melonjak, perusahaan mulai memindahkan pengelolaan model ke hyperscale cloud atau public cloud agar biaya dapat dikendalikan dengan lebih baik.
Tahap berikutnya, sebagian perusahaan mulai mempertimbangkan model open source yang dapat dikustomisasi dan dilatih menggunakan data bisnis mereka sendiri.
“Banyak perusahaan bergerak dari bereksperimen menuju operasionalisasi, dari token menuju pengelolaan model, dan kemudian mengkustomisasi model open source.”
Menurut Sean, perusahaan juga mulai mencari alternatif infrastruktur cloud yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik setiap kasus penggunaan AI.
Akamai Perluas Infrastruktur Menuju AI
Perubahan tersebut menjadi bagian dari strategi Akamai dalam mengembangkan bisnis menuju komputasi dan infrastruktur AI. Sean mengatakan, perusahaan tidak melihat langkah tersebut sebagai perubahan arah bisnis secara tiba-tiba, melainkan kelanjutan dari evolusi teknologi yang telah dibangun selama sekitar 25 tahun.
Akamai yang dikenal sebagai perusahaan content delivery network (CDN) secara bertahap memperluas kapabilitasnya. Dari awalnya mendekatkan konten ke pengguna, perusahaan kemudian mengembangkan keamanan terdistribusi, serverless computing, hingga komputasi cloud.
Kini, Akamai membawa kapabilitas AI lebih dekat ke pelanggan melalui infrastruktur yang terdistribusi.
“Kami tidak sedang melakukan pivot ke AI. Selama 25 tahun terakhir, inovasi teknologi dan evolusi kami telah membuat kami sangat siap untuk membantu pelanggan mengadopsi AI.”
Saat ini, Akamai mengoperasikan jaringan dengan kapasitas lebih dari 1.000 Tbps, lebih dari 4.000 edge POP di lebih dari 1.200 jaringan, mencakup sekitar 700 kota di lebih dari 130 negara.





















