Intel Himpun Dana Rp266 Triliun untuk Danai Ekspansi Bisnis Chip

- Intel berencana menghimpun hingga US$15 miliar atau Rp266 triliun melalui penjualan saham untuk membiayai ekspansi manufaktur chip kontrak, dengan potensi penawaran meningkat menjadi sekitar US$20 miliar.
- Permintaan CPU yang terdorong AI melampaui kapasitas produksi, sehingga Intel menaikkan proyeksi belanja modal 2026 dari US$18 miliar menjadi US$20 miliar dan menargetkan produksi 14A pada 2028.
- Bisnis foundry Intel mendapat Tesla sebagai pelanggan teknologi 14A; perusahaan juga mengalokasikan €5 miliar untuk perluasan fasilitas di Irlandia, sementara JPMorgan, Goldman Sachs, Morgan Stanley, dan Citigroup menjadi penjamin emisi.
Jakarta, FORTUNE – Perusahaan teknologi Amerika Serikat (AS),Intel berencana menghimpun dana hingga sekitar US$15 miliar atau sekitar Rp266 triliun (asumsi kurs Rp17.795 per dolar AS) melalui penjualan saham. Langkah ini dilakukan untuk membiayai ekspansi bisnis manufaktur chip kontrak atau foundry yang membutuhkan investasi besar.
Mengutip Reuters, Senin (10/8),aksi tersebut dilakukan saat harga saham perusahaan melonjak tajam seiring dengan upaya transformasi dan pemulihan bisnis Intel.
Sementara Bloomberg, mengutip sumber yang mengetahui rencana tersebut, melaporkan nilai penawaran saham Intel berpotensi dinaikkan menjadi sekitar US$20 miliar. Harga penawaran diperkirakan mulai dari US$95 per saham, atau sekitar 2,6 persen lebih rendah dibandingkan harga penutupan saham Intel pada Senin yang mencapai US$97,52.
Permintaan investor disebut telah melampaui US$100 miliar. Nilai transaksi bahkan berpotensi menembus US$20 miliar apabila opsi over-allotment atau greenshoe digunakan sepenuhnya. Namun, Reuters belum dapat memverifikasi laporan tersebut. Intel juga belum dapat memberikan tanggapan.
Saham Intel telah turun lebih dari 4 persen pada perdagangan Senin. Meski demikian, hingga penutupan terakhir, saham Intel telah hampir tiga kali lipat sepanjang tahun ini. Kinerja tersebut bahkan melampaui sejumlah pesaingnya, termasuk AMD dan Nvidia, serta indeks Philadelphia Semiconductor yang naik hampir 75 persen.
Kenaikan harga saham tersebut turut memperbesar peluang Intel untuk melakukan aksi penghimpunan modal guna mendukung rencana ekspansi.
Russ Mould, Investment Director di AJ Bell, menilai keputusan Intel menghimpun dana melalui pasar modal cukup masuk akal mengingat karakter bisnis semikonduktor yang membutuhkan modal besar.
Menurut dia, Intel sebelumnya menghadapi tekanan keuangan setelah menghabiskan sekitar US$82 miliar untuk pembelian kembali saham (share buyback) sepanjang dekade 2010-an. Kini, ketika harga saham telah meningkat sekitar lima kali lipat sejak Agustus tahun lalu, perusahaan memiliki momentum yang lebih baik untuk mencari tambahan modal.
Capex Membengkak
Kebutuhan pendanaan Intel meningkat seiring dengan melonjaknya permintaan terhadap central processing unit (CPU), terutama didorong perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI).
Permintaan tersebut bahkan disebut telah melampaui kapasitas produksi Intel. Kondisi ini mendorong perusahaan menaikkan proyeksi belanja modal (capital expenditure/capex) 2026 dari sebelumnya US$18 miliar menjadi US$20 miliar pada Juli lalu.
Intel juga menargetkan produksi chip dalam volume besar menggunakan teknologi manufaktur 14A mulai 2028. Sebelumnya, perusahaan sempat memperingatkan bahwa pengembangan teknologi tersebut dapat dihentikan jika Intel tidak mendapatkan pelanggan eksternal utama.
Bisnis foundry Intel mulai mendapatkan perkembangan positif. Unit tersebut telah memenangkan Tesla sebagai pelanggan untuk teknologi 14A. Optimisme juga meningkat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan Apple akan memproduksi prosesor bersama Intel, meski hingga kini kedua perusahaan belum mengonfirmasi kerja sama tersebut.
Pada bulan lalu, perusahaan yang dulunya mendominasi pasar chip ini, mengumumkan investasi sebesar €5 miliar atau sekitar US$5,77 miliar untuk meningkatkan dan memperluas fasilitas manufaktur chip di Irlandia. Nilai proyek tersebut setara dengan lebih dari 25 persen dari total rencana belanja modal Intel pada 2026.
Dalam aksi penerbitan saham ini, Intel juga berencana memberikan opsi kepada penjamin emisi selama 30 hari untuk membeli tambahan saham senilai hingga US$2,25 miliar pada harga penawaran setelah memperhitungkan diskon.
Adapun, JPMorgan Securities, Goldman Sachs, Morgan Stanley, dan Citigroup Global Markets bertindak sebagai penjamin emisi utama dalam aksi korporasi tersebut.




















