Presiden LaLiga: AI Bisa Selamatkan Masa Depan Bisnis Sepak Bola

- Presiden LaLiga Javier Tebas menilai kecerdasan buatan dan analisis data mampu meningkatkan pengalaman penonton sekaligus menjaga pendapatan industri sepak bola tanpa perlu menambah jumlah kompetisi.
- Tebas menjelaskan LaLiga telah memanfaatkan teknologi untuk memperkaya siaran audiovisual, membantu komentator, serta membuka peluang interaksi lebih besar antara penggemar dan kompetisi.
- Ia menegaskan teknologi juga penting untuk melawan pembajakan siaran yang merugikan pendapatan liga, sementara AI dipandang sebagai fondasi baru bagi masa depan bisnis olahraga global.
Jakarta, FORTUNE - Presiden Liga Spanyol (LaLiga), Javier Tebas, menilai perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan buatan (AI) dan analisis data, telah mengubah cara penggemar menikmati pertandingan sepak bola. Menurutnya, pemanfaatan teknologi tidak hanya meningkatkan pengalaman suporter, tetapi juga berpotensi menjadi solusi untuk menjaga pendapatan industri sepak bola tanpa harus terus menambah jumlah kompetisi.
Melansir Fortune.com, pernyataan tersebut disampaikan Tebas dalam ajang Globant Tech Summit di New York, setelah berakhirnya Piala Dunia 2026 yang menghadirkan sejumlah inovasi teknologi, mulai dari Video Assistant Referee (VAR), kamera yang dipasang pada wasit (referee-cam), hingga sistem deteksi offside semiotomatis yang mampu menunjukkan posisi pemain dengan tingkat akurasi sangat tinggi.
Tebas mengatakan teknologi telah membawa perubahan positif bagi sepak bola, terutama dalam meningkatkan pengalaman penonton. Ia menilai organisasi yang mampu menguasai, memanfaatkan, dan mengoperasikan teknologi secara tepat akan lebih mudah mencapai salah satu tujuan utamanya, yakni memberikan pengalaman terbaik bagi pengguna.
"Bagi saya, kunci utamanya adalah bagaimana teknologi benar-benar diadopsi di dalam organisasi kami," kata Tebas. Menurutnya, tantangan terbesar bukan terletak pada teknologinya, melainkan pada proses adaptasi sumber daya manusia di dalam organisasi.
Menurutnya, LaLiga telah memanfaatkan data untuk meningkatkan kualitas siaran pertandingan. Informasi yang dihasilkan dari analisis data digunakan untuk melengkapi tayangan audiovisual sehingga penonton dapat lebih mudah memahami jalannya pertandingan.
"Kami juga memanfaatkan teknologi ini untuk siaran audiovisual guna meningkatkan pengalaman para pengguna, pelanggan, dan penggemar yang menyaksikan pertandingan melalui televisi," ujarnya.
Ia menjelaskan data membantu komentator menjelaskan berbagai situasi yang terjadi di lapangan secara lebih komprehensif kepada pemirsa. Pemanfaatan teknologi tersebut juga dinilai membuka peluang interaksi yang lebih besar antara kompetisi dengan para penggemar.
"Kami bisa membuat para penggemar berinteraksi lebih banyak," kata Tebas, seraya menyebut saat ini sebagai momentum yang sangat baik bagi pemanfaatan data. Ia bahkan menyebut LaLiga tengah bertransformasi menjadi organisasi olahraga yang tidak hanya mengelola kompetisi, tetapi juga menyediakan solusi berbasis teknologi.
Melawan pembajakan siaran
Selain meningkatkan pengalaman penonton, Tebas menilai teknologi berperan penting dalam melindungi pendapatan industri sepak bola dari praktik pembajakan siaran. Menurut dia, pembajakan menciptakan persaingan tidak sehat karena ada pihak yang menjual atau bahkan membagikan konten pertandingan secara gratis. "Ada pihak yang menjadi pesaing dengan menjual produk kami dengan harga lebih murah, bahkan memberikannya secara gratis. Hal itu menggerus sumber pendapatan yang sangat penting," ujar Tebas.
Ia mengaitkan persoalan tersebut dengan semakin padatnya kalender sepak bola, seperti format baru Liga Champions dan penyelenggaraan Piala Dunia Antarklub yang diperluas. Apabila pembajakan dapat ditekan dan AI dimanfaatkan untuk meningkatkan pengalaman penggemar, industri sepak bola tidak perlu terus menambah jumlah kompetisi demi mengejar pendapatan.
Tebas juga menyoroti ketimpangan distribusi pendapatan dalam industri sepak bola. Menurutnya, sebagian besar pemain profesional di dunia tidak ikut tampil dalam kompetisi yang menghasilkan sekitar 80 persen pendapatan industri, sehingga berbagai keputusan kerap diambil tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap kelompok pemain yang lebih luas.
Pandangan Tebas juga sejalan dengan temuan Deloitte 2026 Sports Industry Outlook yang menyebut kecerdasan buatan (AI) akan menjadi fondasi baru dalam industri olahraga. Menurut Deloitte, klub maupun liga yang mampu mengintegrasikan AI ke dalam operasional, penyelenggaraan pertandingan, hingga layanan kepada penggemar akan memiliki keunggulan kompetitif lebih besar dibandingkan organisasi yang tertinggal dalam adopsi teknologi.
Penilaian serupa disampaikan mantan pemain tim nasional Amerika Serikat, Cobi Jones, yang tampil di tiga edisi Piala Dunia dan bertugas sebagai komentator selama Piala Dunia 2026. Menurut Jones, perkembangan teknologi telah mengubah cara penggemar menikmati sepak bola secara drastis dibandingkan ketika Amerika Serikat terakhir kali menjadi tuan rumah Piala Dunia pada 1994.
"Saat itu belum ada media sosial. Teknologi yang digunakan dalam pertandingan juga masih sangat minim," ujarnya.
Kini, lanjut Jones, kemajuan teknologi membuat penggemar dapat mengikuti pertandingan secara langsung dari mana pun di dunia dan memperoleh informasi secara instan. "Saya merasa sangat senang mengetahui beberapa teman saya di Austria menyaksikan pertandingan dan merasakan pengalaman yang sama pada saat yang bersamaan ketika saya berada di Amerika Serikat," katanya.
Menurut Jones, kemudahan akses dan konektivitas global itu menjadi salah satu warisan terbesar Piala Dunia 2026. Ketika ditanya hal yang paling akan dikenang penggemar dari turnamen tersebut, ia menilai bukan detail setiap pertandingan yang akan membekas dalam ingatan. "Mungkin Anda tidak akan mengingat apa yang terjadi dalam pertandingan Selasa lalu, tetapi Anda akan selalu mengingat bagaimana perasaan yang Anda rasakan sepanjang turnamen," ujarnya.



















