Percepat Digitalisasi Industri, Siemens Gandeng PLN hingga Telkomsel

- Siemens Indonesia menjalin kemitraan strategis dengan PLN Enjiniring, Accenture Indonesia, dan Telkomsel untuk mempercepat transformasi digital industri nasional serta mendukung transisi energi berkelanjutan.
- Kolaborasi ini mencakup pengembangan solusi digital terintegrasi berbasis AI, IoT, dan Digital Twin guna meningkatkan efisiensi operasional serta memperkuat sistem ketenagalistrikan nasional.
- Selain infrastruktur digital, Siemens juga berinvestasi pada pengembangan talenta melalui hibah perangkat lunak simulasi PSS SINCAL ke tujuh perguruan tinggi agar mahasiswa siap menghadapi kebutuhan industri modern.
Jakarta, FORTUNE – PT Siemens Indonesia memperkuat langkahnya dalam mendorong transformasi digital industri nasional dengan menggandeng PT Prima Layanan Nasional Enjiniring (PLN Enjiniring), PT Accenture Indonesia, dan PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel). Kemitraan strategis tersebut diharapkan dapat mempercepat adopsi teknologi digital sekaligus mendukung transisi energi dan peningkatan daya saing industri Indonesia.
Kolaborasi itu ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dalam ajang Siemens Tech Summit 2026 di Jakarta, Kamis (19/6). Kerja sama difokuskan pada pengembangan solusi digital terintegrasi, penguatan sistem ketenagalistrikan, hingga akselerasi implementasi teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI), Internet of Things (IoT), dan analitik data.
Presiden Direktur dan CEO PT Siemens Indonesia, Surya Fitri, mengatakan transformasi digital kini telah menjadi kebutuhan mendesak bagi pelaku industri dalam menghadapi tantangan efisiensi, keberlanjutan, dan perubahan iklim.
“Dengan menggabungkan portofolio digital kami dengan kemitraan lokal yang kuat, kami turut menciptakan masa depan Indonesia yang lebih berkelanjutan dan kompetitif,” kata Surya dalam keterangannya dikutip Jumat (19/6).
Menurut dia, Indonesia membutuhkan percepatan dalam adopsi teknologi agar tidak tertinggal dalam persaingan global. Pendekatan yang terlalu bertahap dinilai tidak lagi memadai mengingat laju perkembangan teknologi yang sangat cepat.
“Kita sekarang harus melakukan percepatan. Kalau menunggu lagi dan berjalan step-by-step memang baik, tetapi kita membutuhkan akselerasi,” katanya.
Salah satu teknologi yang diandalkan Siemens adalah Digital Twin, yakni teknologi yang mengintegrasikan dunia fisik dan digital melalui simulasi virtual. Dengan sistem tersebut, perusahaan dapat menguji desain dan operasi suatu fasilitas sebelum dibangun sehingga berbagai potensi risiko maupun inefisiensi dapat diidentifikasi sejak dini.
“Dengan teknologi Digital Twin, kita bisa mensimulasikan terlebih dahulu secara satu banding satu sehingga potensi risiko pada saat proses pembangunan dapat terdeteksi di dalam sistem software,” ujar Surya.
Dalam kerja sama dengan Accenture Indonesia, Siemens akan mengembangkan solusi transformasi digital end-to-end dengan mengombinasikan kemampuan Operational Technology (OT) dan Information Technology (IT), termasuk pemanfaatan AI dan platform digital terpadu.
Sementara itu, kolaborasi dengan PLN Enjiniring difokuskan pada penguatan ekosistem rekayasa ketenagalistrikan nasional melalui layanan engineering bersama, pertukaran pengetahuan, kerja sama teknis, serta pengembangan kompetensi sumber daya manusia.
Kemitraan dengan Telkomsel diarahkan untuk mempercepat digitalisasi sektor enterprise melalui integrasi solusi IoT, analitik data, dan konektivitas guna meningkatkan efisiensi operasional perusahaan.
“Ini merupakan sinergi kedua perusahaan yang pada akhirnya bertujuan menghadirkan akselerasi digital dan transformasi keberlanjutan yang lebih cepat,” kata Surya.
Ia menegaskan kolaborasi lintas sektor menjadi kunci keberhasilan transformasi digital karena tidak ada satu perusahaan pun yang dapat memenuhi seluruh kebutuhan teknologi secara mandiri.
“Kita tidak bisa berdiri sendiri. Kompetensi Siemens ada di bidang teknologi industri dan kelistrikan, sementara perusahaan lain memiliki keahlian yang saling melengkapi. Karena itu kolaborasi menjadi sangat penting,” ujarnya.
Di sektor ketenagalistrikan, Siemens juga mengungkapkan telah menyelesaikan proses switchover menuju sistem Advanced Control Center bersama PLN. Sistem baru tersebut mengintegrasikan jaringan transmisi listrik secara lebih terpusat sehingga mampu meningkatkan pemantauan dan meminimalkan risiko gangguan besar atau blackout.
“Baru beberapa minggu lalu dilakukan switchover dari sistem lama ke sistem baru yang menghubungkan seluruh jaringan transmisi sehingga dapat meminimalkan potensi blackout,” kata Surya.
Menurutnya, teknologi tersebut memungkinkan deteksi gangguan dilakukan lebih cepat sekaligus meningkatkan kemampuan pengendalian sistem kelistrikan nasional. Dengan demikian, risiko gangguan berskala besar seperti pemadaman di Pulau Jawa pada 2019 diharapkan dapat dicegah. Ke depan, implementasi sistem serupa juga akan diperluas ke wilayah Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi.
Selain memperkuat infrastruktur digital, Siemens juga berinvestasi pada pengembangan talenta masa depan. Perusahaan memberikan hibah perangkat lunak simulasi sistem tenaga listrik PSS SINCAL senilai Rp100 juta kepada masing-masing dari tujuh perguruan tinggi di Indonesia, yakni Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung (STEI ITB), Institut Teknologi Nasional Malang, Universitas Brawijaya, Institut Teknologi Sumatera, Universitas Trisakti, Universitas Jember, dan Politeknik Negeri Sriwijaya.
Perangkat lunak tersebut akan diintegrasikan ke dalam kurikulum pembelajaran sehingga mahasiswa dapat memperoleh pengalaman praktis yang mendekati kondisi industri sebenarnya.
“Ke depan, desain sistem tenaga listrik tidak lagi dilakukan secara manual, tetapi dengan software yang mampu menghitung seluruh aspek power system secara cepat dan akurat,” kata Surya.


















