Serangan Siber Berbasis AI Meningkat, Perusahaan Perlu Strategi Baru

- Pemanfaatan AI kini tidak hanya meningkatkan efisiensi bisnis, tetapi juga dimanfaatkan pelaku kejahatan siber untuk melancarkan serangan otomatis yang lebih cepat dan sulit dideteksi.
- Budianto Chandra dari Multipolar Technology menekankan pentingnya strategi keamanan berlapis mencakup perlindungan data, aplikasi, API, serta modernisasi operasi keamanan berbasis AI.
- Multipolar memperkenalkan solusi seperti IBM Guardium, F5 Distributed Cloud Services, dan Palo Alto Cortex untuk memperkuat perlindungan data, visibilitas API, serta otomatisasi deteksi ancaman.
Jakarta, FORTUNE — Pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang semakin luas di dunia usaha membawa tantangan baru dalam aspek keamanan digital. Jika sebelumnya teknologi AI banyak dimanfaatkan untuk meningkatkan efisiensi operasional dan produktivitas bisnis, kini teknologi yang sama juga digunakan oleh pelaku kejahatan siber untuk melancarkan serangan yang lebih cepat, otomatis, dan sulit dideteksi.
Perkembangan tersebut mendorong perusahaan untuk memperkuat strategi keamanan siber yang lebih adaptif. Tidak hanya berfokus pada perlindungan infrastruktur teknologi, perusahaan juga dituntut mampu mengamankan data, aplikasi, dan antarmuka digital yang menjadi tulang punggung operasional bisnis.
Hal ini menjadi sorotan Division Head Network Presales PT Multipolar Technology Tbk (MLPT), Budianto Chandra, yang mengatakan bahwa ancaman siber saat ini berkembang seiring meningkatnya pemanfaatan AI oleh berbagai pihak, termasuk pelaku serangan.
Menurutnya, perusahaan perlu memastikan seluruh aset digital, mulai dari data hingga Application Programming Interface (API), terlindungi secara menyeluruh untuk mengurangi risiko gangguan bisnis maupun kebocoran informasi.
Budianto menjelaskan pendekatan keamanan yang efektif saat ini tidak lagi cukup mengandalkan perlindungan tradisional. Perusahaan perlu membangun pertahanan berlapis yang mencakup tata kelola data, pengamanan aplikasi, perlindungan API, hingga modernisasi operasi keamanan.
“Solusi-solusi ini penting mengingat bukan hanya perusahaan yang memanfaatkan AI, melainkan penjahat siber pun memanfaatkan kecanggihan AI untuk melakukan serangan,” katanya, dalam Security Forum 2026 bertajuk “Are You Still in Control, or is Your Security Strategy Failing Behind?”, mengutip keterangan pers, Selasa (23/6).
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Budianto mengatakan perlunya sejumlah solusi keamanan yang mencakup perlindungan data, pengamanan aplikasi dan API, serta otomatisasi operasi keamanan berbasis AI.
Salah satunya adalah IBM Guardium yang difokuskan pada perlindungan data sensitif perusahaan. Solusi ini memungkinkan perusahaan memantau lokasi penyimpanan data, mengidentifikasi pihak yang mengaksesnya, serta mengawasi penggunaan data secara real time. Kemampuan tersebut dinilai penting di tengah meningkatnya risiko kebocoran data dan tuntutan kepatuhan regulasi.
Di sisi lain, meningkatnya penggunaan aplikasi berbasis cloud, microservices, dan sistem digital modern membuat jumlah API yang digunakan perusahaan terus bertambah. Kondisi ini membuka celah baru bagi serangan siber karena API kini menjadi salah satu target utama pelaku kejahatan digital.
Dalam konteks tersebut, Multipolar Technology memperkenalkan F5 Distributed Cloud Services yang dirancang untuk meningkatkan visibilitas dan perlindungan terhadap API di berbagai lingkungan teknologi. Solusi itu diklaim dapat mengatasi tantangan serangan siber berbasis AI yang kian marak.
“F5 Distributed Cloud Services menawarkan kemampuan API discovery yang komprehensif melalui code scanning, traffic-based discovery, dan crawler-based discovery, menjadikan seluruh API dapat teridentifikasi,” katanya.
Teknologi tersebut dilengkapi kemampuan analisis berbasis AI dan machine learning, deteksi anomali, validasi skema API, serta perlindungan lalu lintas data secara berkelanjutan. Dengan pendekatan tersebut, perusahaan dapat mengidentifikasi dan mengamankan API yang selama ini berpotensi menjadi titik masuk serangan siber.
Selain perlindungan data dan aplikasi, Multipolar Technology juga menyoroti pentingnya modernisasi Security Operations Center (SOC). Menurut Budianto, tim keamanan saat ini harus menghadapi ribuan peringatan ancaman setiap hari, sehingga diperlukan sistem yang mampu membantu proses deteksi dan respons secara lebih cepat.
Pendekatan tersebut diwujudkan melalui Palo Alto Cortex yang mengandalkan AI dan otomatisasi untuk mempercepat investigasi serta penanganan ancaman. Pemanfaatan teknologi ini diharapkan dapat meningkatkan efektivitas operasi keamanan sekaligus mengurangi ketergantungan pada proses manual yang selama ini menjadi tantangan banyak organisasi.
Menurut Budianto, meningkatnya ancaman siber menunjukkan bahwa keamanan digital kini telah menjadi bagian penting dari strategi bisnis, bukan sekadar isu teknologi informasi.
"Di era AI, perusahaan tidak cukup hanya bereaksi ketika serangan terjadi. Yang lebih penting adalah membangun ketahanan siber yang mampu mengantisipasi ancaman sejak awal. Karena itu, investasi pada strategi dan solusi keamanan yang tepat telah menjadi kebutuhan strategis bagi keberlangsungan bisnis," katanya.
Meningkatnya kompleksitas ancaman digital membuat perusahaan menghadapi tantangan baru dalam menjaga kelangsungan operasional. Seiring semakin luasnya adopsi AI dan percepatan transformasi digital, kemampuan membangun sistem keamanan yang proaktif dan terintegrasi diperkirakan akan menjadi salah satu faktor penentu daya saing bisnis di masa depan.


















