Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install
For
You

CEO Nvidia: Krisis RAM Bisa Berlangsung Hingga 2030

CEO Nvidia: Krisis RAM Bisa Berlangsung Hingga 2030
Direktur Utama Nvidia Jensen Huang (commons.wikimedia.org/Raysonho)
Intinya Sih
  • CEO Nvidia Jensen Huang memperingatkan krisis pasokan memori global bisa berlangsung hingga 2030, sejalan dengan proyeksi SK Hynix dan kekhawatiran industri semikonduktor.
  • Huang menegaskan seluruh rantai pasok chip, mulai dari wafer hingga silikon fotonik, masih mengalami kekurangan akibat lonjakan permintaan di berbagai sektor teknologi.
  • Krisis ini membuat harga RAM dan SSD melonjak tiga hingga empat kali lipat sejak 2025, berpotensi menaikkan harga laptop serta PC rakitan dalam beberapa tahun ke depan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, FORTUNE - CEO Nvidia, Jensen Huang, memperingatkan bahwa krisis pasokan memori (RAM) global masih akan berlangsung dalam beberapa tahun ke depan. Pernyataan tersebut memperkuat pandangan pesimistis sejumlah pelaku industri yang memperkirakan tekanan terhadap harga komponen komputer belum akan mereda dalam waktu dekat.

Menurut laporan Reuters, Huang menyebut krisis memori akan berlangsung selama beberapa tahun ke depan. Pernyataan itu disampaikan menjelang pengumuman kemitraan teknologi jangka panjang antara Nvidia dan SK Hynix untuk pengembangan teknologi memori generasi berikutnya.

"Kami bekerja di berbagai industri, mulai dari superkomputer AI, CPU, PC generasi baru, hingga robotika. Karena itu kami berada di sini untuk merencanakan berbagai hal dan mungkin besok akan ada beberapa pengumuman," ujarnya Huang, mengutip Reuters.

Komentar Huang muncul di tengah perdebatan mengenai kapan pasar memori global akan pulih. Dalam beberapa bulan terakhir, sejumlah analis mulai melihat tanda-tanda stabilisasi harga. Bahkan, mantan kepala bisnis semikonduktor Samsung sebelumnya memperkirakan kelangkaan RAM dapat mulai mereda dalam satu tahun ke depan atau paling lambat awal 2028, didukung peningkatan produksi dari produsen chip memori asal Tiongkok.

Meskupun demikian, Huang mengatakan belum melihat tanda-tanda berakhirnya kelangkaan memori yang saat ini melanda industri semikonduktor.

"Seluruh rantai pasok industri—mulai dari wafer, pengemasan chip (packaging), hingga silikon fotonik semuanya mengalami kekurangan pasokan karena permintaannya sangat tinggi. Kondisi ini akan terus berlangsung selama beberapa tahun ke depan," katanya.

Dilema bagi konsumen

Sejumlah faktor masih membayangi industri. Gangguan jalur pelayaran di Selat Hormuz, misalnya, diperkirakan dapat kembali mendorong kenaikan harga memori. Sejumlah pelaku industri juga memperkirakan krisis memori dapat berlanjut hingga akhir dekade ini. Pandangan serupa sebelumnya disampaikan pimpinan grup induk SK Hynix yang memperkirakan tekanan harga RAM dapat berlangsung hingga 2030. Pernyataan Huang dinilai sejalan dengan proyeksi tersebut.

Bagi industri komputer pribadi (PC), kondisi ini berpotensi memperpanjang tren kenaikan harga perangkat. RAM dan solid-state drive (SSD), yang sama-sama bergantung pada chip memori, telah mengalami lonjakan harga signifikan sejak krisis pasokan dimulai pada September 2025.

Melansir Tech Radar, harga modul RAM DDR4 dan DDR5 dilaporkan telah meningkat hingga tiga sampai empat kali lipat dibandingkan sebelum krisis. Kondisi serupa juga terjadi pada SSD yang menjadi komponen penting dalam laptop maupun desktop modern.

Tekanan tersebut diperkirakan akan berdampak pada harga laptop dan PC rakitan dalam beberapa tahun ke depan. Produsen komputer masih dapat memanfaatkan stok komponen yang dibeli sebelum kenaikan harga, tetapi cadangan tersebut diperkirakan akan terus menipis apabila pasokan memori belum pulih.

Selain RAM dan SSD, komponen lain seperti kartu grafis dan prosesor juga berpotensi menghadapi tekanan harga. Namun, kenaikan harga prosesor sejauh ini dinilai lebih terkendali dibandingkan pasar memori.

Bagi konsumen, situasi ini menghadirkan dilema. Di satu sisi, harga perangkat komputer saat ini sudah relatif tinggi. Namun di sisi lain, proyeksi industri menunjukkan biaya perangkat berpotensi meningkat lebih lanjut apabila krisis memori berlangsung lebih lama dari perkiraan.

Sejumlah analis bahkan memperkirakan harga RAM dapat kembali melonjak hingga dua kali lipat pada akhir 2026. Meski demikian, sebagian pengamat menilai proyeksi tersebut masih terlalu agresif dan akan bergantung pada kemampuan industri menambah kapasitas produksi serta respons konsumen terhadap kenaikan harga.

Peringatan Huang menambah daftar sinyal bahwa pasar semikonduktor global masih menghadapi periode ketidakpastian yang panjang. Bagi produsen perangkat maupun konsumen, tekanan pada rantai pasok memori diperkirakan akan tetap menjadi faktor utama yang memengaruhi harga komputer dan perangkat elektronik dalam beberapa tahun mendatang.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Pingit Aria
EditorPingit Aria

Related Articles

See More