Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install
For
You

Riset Microsoft: Pekerja Indonesia Makin Mahir Manfaatkan AI

Riset Microsoft: Pekerja Indonesia Makin Mahir Manfaatkan AI
Fiki Setiyono, Senior Cloud & AI Platform GTM, Microsoft ASEAN/Dok. Microsoft
Intinya Sih
  • Laporan Microsoft Work Trend Index 2026 menunjukkan 33% pekerja Indonesia tergolong Frontier Professionals pengguna AI tingkat lanjut, dua kali lipat dari rata-rata global 16%.
  • Sebanyak 72% pekerja Indonesia merasa produktivitasnya meningkat berkat AI, sementara 93% tetap menilai hasil AI sebagai titik awal yang perlu evaluasi manusia.
  • Meski adopsi AI pesat, 62% responden menilai berpikir kritis dan kendali kualitas tetap penting, mencerminkan keseimbangan antara teknologi dan peran manusia di dunia kerja.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, FORTUNE - Indonesia menjadi salah satu negara dengan tingkat adopsi kecerdasan buatan (AI) paling tinggi di Asia. Laporan Work Trend Index 2026 yang dirilis Microsoft menunjukkan sebanyak 33 persen pekerja di Indonesia telah masuk kategori Frontier Professionals, atau pengguna AI tingkat lanjut, lebih dari dua kali lipat rata-rata global yang hanya mencapai 16 persen.

Temuan tersebut menunjukkan penggunaan AI di kalangan pekerja Indonesia mulai bergeser dari sekadar membantu menyelesaikan tugas administratif menjadi alat untuk meningkatkan kualitas analisis, mempercepat pengembangan ide, hingga menghasilkan pekerjaan yang lebih kompleks.

Laporan tersebut juga mencatat dampak AI terhadap produktivitas mulai dirasakan pekerja. Sebanyak 72 persen responden di Indonesia mengaku mampu menghasilkan pekerjaan yang tidak dapat mereka buat satu tahun lalu, melampaui rata-rata global sebesar 58 persen.

Di kalangan Frontier Professionals, angkanya bahkan mencapai 82 persen, yang menunjukkan bahwa pemanfaatan AI yang lebih matang berkorelasi dengan kemampuan menghasilkan nilai kerja yang lebih tinggi.

Meski adopsi AI meningkat pesat, laporan tersebut menunjukkan pekerja Indonesia tetap menempatkan peran manusia sebagai faktor utama dalam pengambilan keputusan. Sebanyak 62 persen responden menilai kemampuan berpikir kritis menjadi keterampilan yang semakin penting di era AI, lebih tinggi dibandingkan rata-rata global sebesar 46 persen. Selain itu, 60 persen responden menilai kendali kualitas terhadap hasil yang dihasilkan AI menjadi prioritas, dibandingkan rata-rata global 50 persen.

Kesadaran tersebut juga tercermin dari cara pekerja menggunakan AI. Sebanyak 93 persen pengguna AI di Indonesia menganggap hasil yang diberikan AI hanya sebagai titik awal, bukan jawaban akhir, sehingga proses evaluasi dan pengambilan keputusan tetap dilakukan oleh manusia. Angka tersebut berada di atas rata-rata global yang mencapai 86 persen.

"Temuan Work Trend Index 2026 menunjukkan bahwa Indonesia memiliki fondasi yang kuat untuk memimpin fase berikutnya dalam transformasi AI di dunia kerja. Yang menonjol bukan hanya kecepatan adopsinya, tetapi juga kedewasaan pekerja Indonesia dalam menggunakan AI — dengan tetap menempatkan penilaian manusia, kendali kualitas, dan tanggung jawab sebagai pusat dari cara kerja mereka," ujar Senior Cloud & AI Platform GTM Microsoft ASEAN, Fiki Setiyono, dalam keterangan resmi, Selasa (29/6).

Ia menambahkan, peluang ke depan bukan sekadar menggunakan AI lebih luas, tetapi memanfaatkannya dengan lebih strategis untuk merancang ulang cara kerja, memperkuat pengambilan keputusan, dan membuka nilai baru bagi organisasi maupun perekonomian digital Indonesia."

Di sisi lain, percepatan pemanfaatan AI juga memunculkan tantangan baru. Sebanyak 85 persen pengguna AI di Indonesia mengaku khawatir tertinggal apabila tidak segera beradaptasi dengan teknologi tersebut. Persentase itu jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata global sebesar 65 persen.

Bagi perusahaan, tantangan berikutnya adalah mengubah kesiapan individu menjadi transformasi di tingkat organisasi. Laporan tersebut menunjukkan 42 persen pengguna AI di Indonesia menilai pimpinan perusahaan telah memiliki arah yang jelas dalam penerapan AI. Sementara itu, 41 persen responden mengatakan organisasi tetap menghargai upaya inovasi meski belum langsung menghasilkan keberhasilan, hampir tiga kali lebih tinggi dibandingkan rata-rata global sebesar 13 persen.

Microsoft menilai kondisi tersebut menjadi modal awal bagi perusahaan di Indonesia untuk memperluas transformasi digital berbasis AI.

Salah satu implementasinya dilakukan oleh PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BSI) yang memanfaatkan Microsoft 365 Copilot untuk membantu penyusunan dokumen, analisis informasi, hingga komunikasi internal. Pemanfaatan teknologi seperti kecerdasan buatan bukan lagi sekadar upaya meningkatkan efisiensi operasional.

"AI telah menjadi enabler strategis yang membantu BSI mengelola kompleksitas bisnis, mempercepat pengambilan keputusan berbasis data, serta memastikan proses kerja berjalan lebih terstruktur dan responsif terhadap kebutuhan nasabah,” ujar Security Identity, Application, & Data Management Department Head BSI, Agus Setiawan.

Laporan Work Trend Index 2026 disusun berdasarkan survei terhadap 20.000 pengguna AI di 10 negara. Untuk kawasan Asia Pasifik, Microsoft melibatkan 12.000 responden, termasuk 2.000 pekerja penuh waktu di Indonesia yang telah menggunakan AI dalam aktivitas kerjanya. Selain survei, laporan tersebut juga memanfaatkan data anonim dari triliunan sinyal produktivitas Microsoft 365.

Temuan ini menunjukkan Indonesia tidak hanya menjadi salah satu negara dengan tingkat adopsi AI yang tinggi, tetapi juga mulai mengembangkan pola penggunaan yang lebih matang. Tantangan berikutnya adalah memastikan pemanfaatan AI tidak berhenti pada tingkat individu, melainkan berkembang menjadi transformasi organisasi yang tetap menempatkan manusia sebagai pengambil keputusan utama.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Pingit Aria
EditorPingit Aria

Related Articles

See More