Anggarkan Rp11 M, CYBR Ekspansi Bisnis Pengembangan AI dan Perangkat Lunak

- PT ITSEC Asia Tbk (CYBR) mengalokasikan Rp11 miliar untuk ekspansi ke bisnis pengembangan AI dan perangkat lunak guna meningkatkan pendapatan berulang serta mengurangi ketergantungan pada jasa keamanan siber.
- Persetujuan RUPSLB memungkinkan CYBR mempercepat komersialisasi platform seperti IntelliBroń Aman, Orion, Threat Intelligence, dan Bronyx AI yang dikembangkan melalui investasi riset dan pengembangan internal.
- Transformasi menuju model bisnis berbasis perangkat lunak diproyeksikan menghasilkan margin laba kotor 74% dan margin laba bersih 55% pada periode 2026–2031, memperkuat posisi CYBR sebagai perusahaan teknologi.
Jakarta, FORTUNE – PT ITSEC Asia Tbk (CYBR) ekspansi bisnis lini usaha ke pengembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan perangkat lunak. Langkah ini menjadi strategi perseroan dalam meningkatkan porsi pendapatan berulang (recurring revenue) sekaligus mengurangi ketergantungan pada bisnis jasa keamanan siber.
Ekspansi tersebut telah memperoleh persetujuan pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang digelar pada Selasa (30/6). Dengan demikian, CYBR kini dapat mengembangkan, mengkomersialkan, dan memasarkan berbagai produk perangkat lunak serta solusi keamanan siber berbasis AI.
Perusahaan menilai industri keamanan siber tengah memasuki fase baru. Jika sebelumnya pertumbuhan didorong oleh bisnis layanan (services), kini pasar bergerak menuju platform berbasis AI, perangkat lunak, threat intelligence, dan otomatisasi yang menawarkan model bisnis dengan margin lebih tinggi dan pendapatan yang lebih berulang.
Presiden Direktur ITSEC Asia, Patrick Dannacher, mengatakan AI menjadi katalis perubahan model bisnis industri keamanan siber secara global.
Menurutnya, Selama bertahun-tahun industri keamanan siber bertumbuh melalui layanan. Perusahaan percaya, pada fase berikutnya pertumbuhan akan ditentukan oleh kemampuan perusahaan membangun intellectual property berbasis AI.
“Pelanggan tidak hanya membutuhkan layanan keamanan siber, tetapi juga teknologi yang mampu belajar, beradaptasi, dan berkembang mengikuti ancaman yang terus berubah," ujar Patrick dalam keterangan tertulis, Rabu (1/7).
Menurutnya, transformasi tersebut bukan merupakan perubahan strategi yang mendadak. Dalam beberapa tahun terakhir, perseroan telah meningkatkan investasi di bidang riset dan pengembangan (R&D) untuk membangun teknologi miliknya sendiri.
Persetujuan RUPSLB menjadi landasan bagi perusahaan untuk mempercepat komersialisasi berbagai platform yang telah dikembangkan, seperti IntelliBroń Aman, IntelliBroń Orion, IntelliBroń Threat Intelligence, dan Bronyx AI.
Melalui perluasan kegiatan usaha, CYBR kini juga dapat menjalankan bisnis penerbitan perangkat lunak, pemrograman berbasis AI, layanan teknologi informasi, pengolahan data, hingga perdagangan perangkat lunak dan perangkat komputer.
Dari sisi bisnis, transformasi ini diproyeksikan memberikan kontribusi signifikan terhadap profitabilitas perusahaan. Berdasarkan studi kelayakan independen, model bisnis berbasis perangkat lunak dan recurring revenue diperkirakan mampu menghasilkan gross profit margin rata-rata 74 persen serta net profit margin rata-rata 55 persen sepanjang periode 2026–2031.
Untuk merealisasikan strategi tersebut, ITSEC Asia menyiapkan investasi awal sekitar Rp11 miliar yang seluruhnya berasal dari kas operasional internal. Perseroan juga akan memanfaatkan infrastruktur teknologi serta kapabilitas riset dan pengembangan yang telah dimiliki sehingga tidak memerlukan belanja modal dalam skala besar.
Ke depan, perseroan menargetkan transformasi dari perusahaan penyedia jasa keamanan siber menjadi perusahaan teknologi yang mengembangkan intellectual property, perangkat lunak, dan AI sebagai sumber pertumbuhan jangka panjang.
Meski demikian, Patrick menekankan, AI bukan dimaksudkan untuk menggantikan peran manusia, melainkan meningkatkan produktivitas para profesional keamanan siber.
"Kami melihat AI sebagai pengganda kemampuan yang memungkinkan para ahli keamanan siber bekerja lebih cepat, mengambil keputusan lebih akurat, dan melindungi lebih banyak organisasi. Masa depan keamanan siber bukan tentang manusia atau AI, melainkan bagaimana keduanya bekerja bersama membangun ketahanan digital yang lebih kuat," pungkasnya.

















