Terjepit Biaya Chip AI, GoPro Hadapi Risiko Kebangkrutan

- GoPro menghadapi risiko kebangkrutan akibat lonjakan harga chip memori yang dipicu industri AI, penurunan penjualan, dan tekanan persaingan dari merek seperti DJI serta Insta360.
- Dalam laporan keuangan terbaru, GoPro mengakui keraguan atas kelangsungan usahanya dengan kas tersisa sekitar US$50 juta dan kerugian bersih lebih dari US$80 juta sepanjang 2025.
- Perusahaan tengah mencari pendanaan tambahan dan langkah strategis untuk memperkuat likuiditas, sementara peluncuran kamera Mission 1 menjadi upaya terakhir menunjukkan kemampuan inovasi di tengah krisis.
Jakarta, FORTUNE - Produsen kamera aksi GoPro menghadapi salah satu masa tersulit dalam sejarah perusahaan setelah tekanan bisnis yang terus menumpuk memicu kekhawatiran atas keberlangsungan usahanya. Di tengah persaingan yang semakin ketat dan penurunan penjualan, lonjakan harga chip memori yang dipicu ledakan industri kecerdasan buatan (AI) turut memperburuk kondisi keuangan perusahaan asal Amerika Serikat tersebut.
Mengutip Digitec, GoPro menyebut kenaikan harga chip memori sebagai salah satu faktor utama yang membebani kinerjanya. Dalam laporan keuangan terbaru yang disampaikan kepada investor, perusahaan bahkan mengakui adanya ketidakpastian terkait kemampuannya untuk terus beroperasi.
"Kami memiliki keraguan serius tentang kelangsungan perusahaan," kata GoPro dalam laporan keuangannya.
Pernyataan tersebut lazim digunakan perusahaan publik di Amerika Serikat ketika manajemen menilai terdapat risiko signifikan terhadap kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban keuangan dalam 12 bulan mendatang.
Meski demikian, GoPro menegaskan masih berupaya mencari berbagai alternatif untuk memperkuat likuiditas dan menghindari skenario terburuk. Perusahaan saat ini tengah mengevaluasi sejumlah opsi, mulai dari pendanaan tambahan, perjanjian pinjaman baru, hingga berbagai langkah strategis lainnya.
Dokumen yang diajukan kepada Komisi Sekuritas dan Bursa Amerika Serikat (SEC) menunjukkan posisi kas dan setara kas GoPro telah menyusut menjadi sekitar US$50 juta atau setara Rp900 miliar. Sepanjang 2025, pendapatan perusahaan turun menjadi US$651 juta dengan kerugian bersih yang melampaui US$80 juta.
Krisis yang dihadapi GoPro saat ini tidak muncul secara tiba-tiba. TechRadar mencatat perusahaan yang didirikan Nick Woodman pada 2002 itu pernah menjadi pionir kamera aksi global. Berawal dari kebutuhan seorang peselancar yang ingin merekam aktivitasnya di laut, GoPro berkembang menjadi merek yang mendominasi pasar kamera aksi dan sempat menguasai lebih dari seperlima penjualan camcorder digital di Amerika Serikat pada 2012.
Puncak kejayaan perusahaan terjadi saat melantai di bursa pada 2014. Kala itu, GoPro tidak hanya dikenal sebagai produsen kamera, tetapi juga sebagai merek gaya hidup yang identik dengan olahraga ekstrem dan petualangan.
Namun, berbagai masalah mulai bermunculan dalam satu dekade terakhir. Upaya diversifikasi ke bisnis drone melalui produk Karma pada 2016 berakhir gagal setelah seluruh unit harus ditarik dari pasar akibat masalah teknis yang menyebabkan perangkat kehilangan daya saat terbang. Ketika drone tersebut kembali dipasarkan pada 2017, persaingan dengan DJI yang telah mendominasi pasar membuat produk itu akhirnya dihentikan.
Langkah GoPro di sektor virtual reality melalui Omni dan Fusion juga tidak menghasilkan pertumbuhan yang diharapkan. Pada saat yang sama, kemampuan kamera smartphone terus berkembang sehingga menggerus permintaan dari konsumen kasual. Di segmen premium, perusahaan harus menghadapi tekanan dari DJI dan Insta360 yang semakin agresif mengembangkan produk kamera aksi.
Melansir TechRadar, meski sempat menstabilkan bisnis melalui model penjualan langsung ke konsumen dan layanan berlangganan, tekanan kompetitif tidak pernah benar-benar mereda. Pendapatan perusahaan terus mengalami tren penurunan.
Kini, tantangan baru datang dari industri AI. Produsen semikonduktor besar seperti Samsung dan Micron mengalihkan kapasitas produksi mereka untuk memenuhi kebutuhan memori berbandwidth tinggi yang digunakan pusat data AI. Akibatnya, pasokan memori DRAM konvensional yang digunakan berbagai perangkat elektronik konsumen menjadi semakin terbatas.
Kondisi tersebut mendorong kenaikan harga chip memori secara signifikan. Menurut laporan perusahaan, dalam beberapa kasus harga memori meningkat lebih dari dua kali lipat. Biaya memori pada kuartal pertama tahun ini melonjak lebih dari 100 persen di sejumlah kategori produk akibat tingginya permintaan dari industri AI.
Tekanan biaya tersebut datang pada saat yang kurang tepat. Penjualan GoPro melemah sepanjang April dan Mei, sementara margin keuntungan perusahaan sudah relatif tipis. Dalam dokumen regulator yang dikutip TechRadar, GoPro memperingatkan bahwa tanpa tambahan pendanaan atau transaksi strategis, perusahaan mungkin harus melakukan pengurangan operasi secara signifikan, restrukturisasi, atau bahkan menghentikan kegiatan usahanya.
Selain tekanan biaya, posisi GoPro di pasar juga terus melemah. Data ritel di Jepang menunjukkan pangsa pasar perusahaan turun menjadi sekitar 19 persen setelah sebelumnya mendominasi kategori kamera aksi. Sementara itu, produsen asal Cina seperti DJI dan Insta360 terus meluncurkan produk baru dengan harga yang kompetitif dan fitur yang semakin menarik.
Ironisnya, ancaman tersebut muncul hanya beberapa pekan setelah GoPro meluncurkan lini kamera Mission 1 yang dibekali kemampuan perekaman 8K dan teknologi stabilisasi terbaru. Produk tersebut menunjukkan GoPro masih memiliki kemampuan inovasi perangkat keras yang kuat, tetapi waktu untuk membuktikan keberhasilannya semakin sempit.
Bagi konsumen, potensi hengkangnya GoPro dari pasar dapat membawa dampak yang lebih luas. Selama bertahun-tahun, merek tersebut telah menjadi ikon kamera aksi global dan acuan utama bagi industri. Meski pesaing seperti DJI dan Insta360 tetap mampu menghadirkan inovasi, hilangnya GoPro berpotensi mengubah peta persaingan di pasar kamera aksi yang selama ini dibentuk oleh perusahaan tersebut.
Nasib GoPro masih terombang-ambing. Namun, faktor lonjakan biaya chip akibat ledakan AI, melemahnya penjualan, dan ketatnya persaingan membuat perusahaan menghadapi titik balik penting yang akan menentukan masa depannya dalam beberapa tahun mendatang.


















