Comscore Tracker
TECH

Melihat Kesetaraan Gender dan Peran Perempuan di Metaverse

Kurangnya kesempatan bagi perempuan memimpin di metaverse.

Melihat Kesetaraan Gender dan Peran Perempuan di Metaverseilustrasi metaverse (freepik.com/pikisuperstar)

by Desy Yuliastuti

Jakarta, FORTUNE - Era metaverse masih dalam masa-masa awal dan akan terus berkembang. Namun, semua sepakat bahwa metaverse adalah iterasi berikutnya dari internet dan menjadi evolusi dari 2D ke 3D di berbagai antarmuka, termasuk augmented reality (AR) dan virtual reality (VR). 

Seperti halnya teknologi transformatif lainnya seperti cloud dan AI yang evolusinya berlangsung selama beberapa dekade, konsumen dan pemimpin awal metaverse—termasuk investor dan CEO—akan membentuk masa depannya. Pertanyaan yang banyak ditanyakan adalah, peran apa yang akan dimainkan perempuan?

Riset McKinsey melihat indikator awal tentang perempuan di metaverse dan mengungkapkan ketidaksetaraan gender—terutama dalam kepemimpinan yang menciptakan dan menetapkan standar metaverse. Terlihat gambaran bahwa perempuan menghabiskan waktu lebih banyak di metaverse, memberikan inisiatif lebih, tetapi kurang kesempatan untuk memimpin.

Melalui riset ini dapat dipahami bagaimana dinamika gender terjadi di metaverse pada tahap awal dengan memeriksa berbagai data, termasuk yang dikumpulkan untuk laporan McKinsey pada Juni 2022 tentang penciptaan nilai di metaverse, berikut ini ringkasannya.

Kesenjangan gender di metaverse

Riset McKinsey menemukan kesenjangan gender yang sudah terlihat di metaverse–serupa dengan kesenjangan yang ada di perusahaan dan perusahaan rintisan dalam daftar Fortune 500. Ada tiga hal yang terungkap, yakni kurang dari 10 persen CEO Fortune 500 adalah perempuan, hanya 17 persen dari pembiayaan modal ventura (VC) yang masuk ke perusahaan yang dipimpin perempuan dan dipimpin bersama perempuan, dan hanya 15 persen mitra umum VC di Amerika Serikat adalah perempuan.

Kenyataannya adalah bahwa perempuan menghabiskan lebih banyak waktu di protometaverse daripada laki-laki dan, menurut data McKinsey, lebih cenderung mempelopori dan menerapkan inisiatif metaverse.

Namun, sama seperti di sektor teknologi secara keseluruhan, perempuan tergolong minoritas dalam ekonomi metaverse. Dalam kewirausahaan dan peran CEO di ruang metaverse tetap kurang proporsional dibandingkan untuk laki-laki.

Perempuan menghabiskan lebih banyak waktu di metaverse. Untuk apa?

Riset McKinsey tentang konsumen di metaverse menunjukkan, sebanyak 41 persen perempuan telah menggunakan platform metaverse primer atau berpartisipasi dalam dunia digital selama lebih dari setahun, dibandingkan dengan 34 persen laki-laki.

Selain itu, lebih banyak perempuan menghabiskan waktu yang signifikan di metaverse, yakni 35 persen perempuan yang disurvei adalah pengguna aktif, menghabiskan lebih dari tiga jam seminggu di metaverse, dibandingkan dengan 29 persen laki-laki.

Riset ini juga mengungkap, perempuan lebih cenderung lebih sering terlibat dalam aktivitas di metaverse secara hybrid. Mereka melintasi dunia fisik dan digital untuk mengambil bagian dalam aktivitas seperti bermain game, kebugaran, pendidikan, acara langsung, dan berbelanja melalui teknologi AR/VR . 

Sebaliknya, laki-laki menggunakan metaverse untuk berpartisipasi dalam pengalaman digital murni seperti bermain game, memperdagangkan nonfungible token (NFT), dan menghadiri acara sosial.

Kurangnya peran perempuan dalam ekonomi metaverse

Dalam survei terhadap hampir 450 eksekutif perempuan, 60 persen perempuan melaporkan bahwa mereka telah menerapkan lebih dari dua inisiatif terkait metaverse di organisasi mereka. Angka tersebut menunjukkan, bahwa eksekutif perempuan ini 20 persen lebih mungkin dibandingkan rekan laki-laki untuk menerapkan berbagai inisiatif metaverse–terutama seputar pemasaran, pembelajaran dan pengembangan karyawan, dan desain produk.

McKinsey melihat konsumen dan eksekutif perempuan lebih proaktif tentang penggunaan dan inisiatif metaverse daripada konsumen dan eksekutif laki-laki, tapi  perempuan masih dikucilkan dari peran kepemimpinan dalam ekonomi metaverse. 

“Penelitian kami menunjukkan bahwa dalam lima tahun terakhir, perusahaan metaverse yang dipimpin laki-laki menerima bagian yang lebih tinggi dari total pendanaan kewirausahaan daripada perusahaan metaverse yang dipimpin perempuan,” tulis riset tersebut.

Kepemimpinan di metaverse didominasi laki-laki

Selama lima tahun terakhir, perusahaan metaverse yang menerima porsi pendanaan lebih tinggi secara tidak proporsional dipimpin oleh laki-laki. Dalam organisasi yang membentuk standar metaverse, 90 persen peran kepemimpinan dipegang oleh laki-laki

Sejumlah badan standar bermunculan untuk menetapkan norma interoperabilitas untuk metaverse—di antaranya, Forum Standar Metaverse dan Open Metaverse Alliance for Web3 (OMA3). Namun hanya sekitar 8 sampai 10 persen dari organisasi anggota yang dipimpin oleh eksekutif perempuan. Persentase ini mirip dengan sekitar 9 persen perusahaan Fortune 500 yang dipimpin oleh perempuan saat ini.

Organisasi yang berpartisipasi dalam forum metaverse yang saat ini membentuk standar interoperabilitas masa depan, secara tidak proporsional dipimpin oleh laki-laki. Padahal metaverse memiliki potensi untuk membawa perubahan besar pada ekonomi global, serta untuk menciptakan peluang baru dan lebih adil bagi semua orang yang menggunakannya—karena itulah penting bagi semua pemangku kepentingan utama untuk memahami dinamika yang sedang terjadi.

Menurut indikator awal, perempuan mungkin sudah menjadi basis pengguna metaverse yang kuat. Mengatasi kesenjangan gender yang ada dalam peran kepemimpinan, sementara metaverse masih dalam tahap formatifnya merupakan hal yang sangat penting.

Untuk melakukannya, pemangku kepentingan industri perlu melibatkan berbagai suara yang berbeda dan menanamkan beragam kepemimpinan ke dalam perusahaan dan koalisi yang membentuk metaverse saat ini.

Related Articles