Comscore Tracker
TECH

Starbucks Siap Masuk Metaverse, Begini Rencana CEO Howard Schultz

Tradisi, sejarah, dan koleksi Starbucks jadi andalan.

Starbucks Siap Masuk Metaverse, Begini Rencana CEO Howard SchultzLogo Starbucks. Shutterstock/TY Lim

by Desy Yuliastuti

Jakarta, FORTUNE - Metaverse dan NFT menyedot perhatian berbagai industri dan banyak brand ternama termasuk jaringan kedai kopi global, Starbucks. CEO Starbucks, Howard Schultz, menyatakan perusahaannya akan meluncurkan NFT dan masuk metaverse sebelum akhir tahun. 

Rencana itu disampaikan saat menghadiri forum terbuka dengan Starbucks pada 4 April lalu. Kemudian perincian soal rencana Starbucks terkait platform metaverse dan sektor NFT akan diumumkan dalam waktu dekat menjelang penghujung 2022.

Kendati demikian, Schultz tidak memberikan tanggal pasti bagi perusahaan untuk masuk ke dunia Non-Fungible Token. 

Platform metaverse Starbucks

Dilansir dari CryptoPotato pada Kamis (7/4), ketika sedang berpidato Schultz bertanya kepada hadirin berapa banyak yang telah mendengar tentang NFT dan metaverse. Dia juga menanyakan berapa banyak dari mereka yang terlibat dalam NFT atau berpartisipasi dalam investasi NFT. Meski ruangan menjadi sunyi senyap, Schultz menjelaskan bahwa ekosistemnya masih muda dan Starbucks memiliki alat dan koleksi terbaik untuk pindah ke ekosistem baru ini.

“Jika Anda melihat perusahaan, merek, selebritas, influencer yang mencoba membuat platform dan bisnis NFT digital, saya tidak dapat menemukan salah satu dari mereka yang memiliki harta karun aset yang dimiliki Starbucks mulai dari koleksi hingga seluruh warisan perusahaan,” katanya.

Schultz ditunjuk sebagai Kepala dan CEO Starbucks pada 1986. Ia memperluas cabang Starbucks yang awalnya berjumlah kurang dari 100 menjadi 28 ribu di seluruh dunia.

Penunjukkan Schultz sebagai CEO perusahaan dapat membawa Starbucks menjadi lebih ramah kripto. Penting untuk dicatat bahwa perusahaan arus utama lainnya tidak hanya mensponsori pembagian NFT, tetapi juga menciptakan pengalaman kripto baru seperti toko di metaverse atau kolaborasi dengan proyek kripto lainnya.

Potensi menggarap pasar Web 3

Ilustrasi Metaverse. Shutterstock/metamorworks

Seperti yang ditunjukkan Schultz dalam pidatonya, Starbucks bukan hanya merek minuman, tetapi perusahaan dengan tradisi, sejarah, dan koleksi bertahun-tahun yang ditemukan di seluruh dunia yang tidak dapat ditandingi oleh seniman digital saja.

Artinya, jika perusahaan menetapkan pikirannya untuk itu, dapat tercipta salah satu marketplace NFT terbesar di dunia. Bahkan jika mereka bermitra dengan merek serupa lainnya di industri, seperti Coca-Cola, Budweiser, atau Pepsi-Cola, jumlah peluang bisnisnya bisa sangat besar, terutama mengingat merek-merek ini sudah digunakan untuk menyenangkan basis konsumen mereka dengan barang koleksi seperti kaleng, botol, dan edisi khusus minuman favoritnya.

Valuasi Starbucks sekitar US$96,7 miliar (setara Rp1,4 kuadriliun), sedangkan OpenSea, marketplace NFT yang didirikan pada 2017, sudah melampaui US$13,3 miliar (sekitar Rp186 triliun). Jadi, tidak mengherankan jika sejumlah perusahaan besar tergiur berinvestasi dalam seni digital yang didukung teknologi anyar blockchain.

Identitas brand Starbucks yang terkenal akan menjadi manfaat besar dalam sektor Web 3 yang mulai booming. Ada beragam cara Starbucks dapat menggarap pasar NFT. Ethereum World News melansir, Starbucks dapat memakai rangkaian kolektibel dan identitas brand untuk meluncurkan marketplace NFT demi mendorong sektor NFT.

Starbucks juga dapat mengukuhkan posisi di metaverse dengan membuka toko virtual. Tetapi semua itu baru sebatas spekulasi dan belum ada konfirmasi resmi dari perusahaan.

Tahun ini, industri metaverse diperkirakan akan mencapai US$758,6 miliar.

Related Articles