Comscore Tracker
TECH

Gabung Clubhouse Tak Lagi Membutuhkan Undangan

Strategi untuk meredam popularitas yang meredup.

Gabung Clubhouse Tak Lagi Membutuhkan UndanganShutterstock/Yalcin Sonat

by Hendra Friana

Jakarta, FORTUNE - Media sosial berbasis audio, Clubhouse, mengumumkan bahwa kini tiap orang dapat bergabung dalam percakapan di platform mereka. Sebab, sistem undangan yang selama ini diberlakukan sudah ditanggalkan. 

Informasi disampaikan via akun Twitter resmi @Clubhouse, Rabu (21/7). Dalam kicauan itu, aplikasi yang diluncurkan pada Maret 2020 itu juga memperkenalkan logo barunya kepada publik. "Setelah 16 bulan yang tidak pernah membosankan dalam pengembangan, kami dengan senang hati menyampaikan bahwa Clubhouse sekarang keluar dari versi beta, terbuka untuk semua orang, dan siap untuk memulai babak berikutnya!" begitu bunyi cuitan dimaksud.

Lebih lanjut, dua pendiri Clubhouse, Paul Davison dan Rohan Seth, mengatakan mereka juga telah menghapus sistem daftar tunggu sehingga siapa pun dapat bergabung ke dalam forum. Pengguna yang membuat klub percakapan juga dapat memasang tautannya secara lebih luas untuk mendapatkan banyak audiens. 

"Jika Anda seorang kreator yang memiliki massa, Anda dapat menghadirkan semuanya. Jika Anda mengadakan acara publik, siapa pun dapat hadir. Anda dapat membawa teman dekat, teman sekelas, anggota keluarga, rekan kerja, dan siapa pun yang Anda suka di iOS atau Android," tulis mereka dalam blog resmi perusahaan.

Davison dan Seth pun sesumbar atas capaian mereka sejauh ini, mulai dari penambahan jumlah tim dari 8 orang menjadi 58 orang, jumlah daily rooms yang telah meningkat pesat dari 50 ribu menjadi 500 ribu, hingga rata-rata pendengar yang menghabiskan lebih dari satu jam sehari dalam forum Clubhouse.

Perubahan ini bisa jadi strategi baru Clubhouse untuk tetap mempertahankan popularitasnya yang mulai meredup. Menurut App Annie, perusahaan yang bergerak dalam bidang analisis pasar aplikasi, pertumbuhan awal aplikasi Clubhouse mulai melambat.

Sementara itu, pesaing media sosialnya yang lebih besar seperti Twitter, Facebook, LinkedIn hingga Spotify, berlomba untuk menciptakan fitur sejenis. Twitter, misalnya, akhir tahun lalu meluncurkan layanan Twitter Spaces yang memungkinkan para penggunanya membuat forum diskusi. 

Namun, ada perbedaan cukup kentara antara Spaces dan Clubhouse. Di Spaces, jumlah pembicara dibatasi hingga 11, dan semua bersifat publik. Sebaliknya, Clubhouse memungkinkan lusinan orang berbicara. Pada saat sama, forum dapat menjadi ruang publik dan pribadi. 

Sementara Facebook merilis Live Audio Rooms yang memungkinkan penggunanya dapat bergabung dengan percakapan grup langsung via suara, mirip dengan konsep yang telah mendorong 12 juta unduhan aplikasi Clubhouse sejak debutnya tahun lalu.

Related Articles