Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Gempuran AI di Industri Kreatif, Bentuk Standar Baru Talenta Desain
Ilustrasi robot dengan Artificial Intelligence. (Dok. Pixabay/DeltaWorks)

Jakarta, FORTUNE - Transformasi teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mengubah lanskap industri kreatif global, termasuk kebutuhan talenta di sektor desain. Jika sebelumnya desainer dinilai dari kemampuan menghasilkan visual, kini industri semakin mencari individu yang mampu berpikir strategis, memahami pengguna, hingga mengambil keputusan kreatif yang berdampak pada bisnis.

Perubahan tersebut terjadi seiring meluasnya penggunaan AI generatif yang mampu mempercepat produksi aset visual secara signifikan. Di tengah perubahan itu, kemampuan manusia dalam memimpin proses kreatif justru menjadi semakin penting.

Riset McKinsey selama lima tahun terhadap ratusan perusahaan menunjukkan perusahaan yang menempatkan desain sebagai inti operasional bisnis tumbuh 32 persen lebih cepat dibanding rata-rata industri dan menghasilkan total pengembalian bagi pemegang saham 56 persen lebih tinggi.

Di Indonesia, kebutuhan terhadap talenta kreatif juga terus meningkat. Industri kreatif mencatat pertumbuhan PDB 6,57 persen pada 2024, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional. Sementara itu, nilai ekspor produk kreatif mencapai US$26,68 miliar dalam sepuluh bulan pertama 2025.

Dekan School of Design BINUS University, Danendro Adi, mengatakan ada kebutuhan terhadap desainer yang tidak hanya piawai menggunakan perangkat desain. Namun, mampu menerjemahkan riset pengguna menjadi solusi bisnis, bekerja lintas disiplin bersama pengembang dan pemasar, serta memimpin keputusan kreatif dengan argumentasi yang kuat.

Perubahan kebutuhan industri tersebut juga mendorong perguruan tinggi untuk menyesuaikan pendekatan pembelajaran agar lulusan tidak hanya menguasai aspek teknis desain, tetapi juga mampu memahami kebutuhan bisnis dan perkembangan teknologi AI. Untuk itu, School of Design BINUS University menerapkan pendekatan pembelajaran berbasis proyek industri sejak awal perkuliahan. Mahasiswa mengerjakan brief dari klien nyata, mulai dari pengembangan identitas visual, desain antarmuka pengguna, produksi animasi dan film, hingga proyek yang langsung masuk ke pasar.

“Kami mendidik desainer yang bisa menjelaskan mengapa sebuah keputusan kreatif akan memberikan solusi dari sebuah permasalahan, bukan hanya membuatnya terlihat bagus,” ujar Danendro dalam keterangannya, Senin (18/5).

Selain pembelajaran berbasis proyek, integrasi AI juga dimasukkan ke dalam kurikulum untuk membiasakan mahasiswa bekerja dengan standar industri kreatif global saat ini. Pendekatan tersebut dinilai penting agar lulusan memiliki keunggulan kompetitif di tengah perubahan teknologi yang berlangsung cepat.

BINUS juga memperkuat jalur karier mahasiswa melalui BINUS Career Center yang menghubungkan mahasiswa dan alumni dengan perusahaan sebelum kelulusan.

Sebagai gambaran, kata Danendro, sebanyak 80,1 persen lulusan sarjana BINUS telah bekerja saat wisuda, baik di perusahaan global maupun membangun bisnis kreatif sendiri. Pendekatan tersebut turut mendapat pengakuan industri. Dalam QS World University Rankings by Subject 2026 bidang Art & Design, School of Design BINUS University meraih posisi kedua di Indonesia pada indikator Employer Reputation, yang mengukur tingkat kepercayaan rekruter dan pelaku industri terhadap kualitas lulusan perguruan tinggi.

“Kepercayaan industri tidak bisa dibeli dengan kampanye. Ia dibangun dari kualitas lulusan yang terbukti, tahun demi tahun,” ujarnya.

Editorial Team