Comscore Tracker
TECH

Efisiensi Bisnis, Induk Shopee PHK 7.000 Pekerja dalam Enam Bulan

Per September Sea Limited masih rugi.

Efisiensi Bisnis, Induk Shopee PHK 7.000 Pekerja dalam Enam BulanSea Limited. Shutterstock/Wirestock Creators

by Luky Maulana Firmansyah

Jakarta, FORTUNE – Sea Limited dikabarkan masih berjuang dalam upaya efisiensi secara besar-besaran untuk menyelamatkan arus kas perusahaan, termasuk melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) secara massal. Dalam enam bulan terakhir, induk dari Shopee dan Garena itu dikabarkan memangkas 7.000 pekerja.

Reuters melansir gelombang PHK ini berdampak terhadap 10 persen dari total pekerja. Pada akhir 2021, Sea Limited memiliki 67.300 karyawan.

Dalam papara kinerja (16/11), Chief Corporate Officer (CCO) Sea Limited, Yanjun Wang, menyatakan perubahan jumlah karyawan baru-baru ini berkenaan dengan langkah perusahaan untuk “keluar dari pasar” serta melakukan perubahan prioritas inisiatif bisnis.

Sebelumnya, Sea Limited telah menyesuaikan proyeksi pendapatan bisnis e-commerce.

Shopee Indonesia termasuk anak perusahaan Sea yang memangkas pekerja meski tidak menyebutkan jumlahnya secara terbuka. Namun, Bloomberg mengabarkan PHK ditujukan bagi 3 persen dari keseluruhan karyawan.

Sebuah laporan dari Reuters juga menyebutkan Shopee akan keluar dari Argentina dan menutup operasi lokal di Chile, Kolombia dan Meksiko. Sedangkan, Garena akan memberhentikan ratusan staf di Shanghai, Cina.

Titik impas

Shopee. Shutterstock/Sergei Elagin

Sea menyampaikan bahwa perseroan berharap untuk mencapai titik impas (break event point/BEP) terutama untuk bisnis perdagangan elektroniknya pada akhir 2023. Langkah PHK massal ini pun termasuk sebagai strategi untuk mencapai target tersebut. Di luar itu, perseroan juga menempuh langkah penghematan biaya.

Dalam paparan kinerja pada awal pekan ini, Chairman dan CEO Sea Limited, Forrest Li, mengatakan perusahaannya telah sepenuhnya mengubah pola pikir dan fokusnya, dari pertumbuhan menjadi upaya mencapai kemandirian dan profitabilitas sesegera mungkin, tanpa bergantung kepada pendanaan eksternal apa pun.

"Kami beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan," kata Li, seperti dikutip dari Nikkei Asia.

Pengumuman itu datang saat raksasa game dan ritel online tersebut membukukan rugi bersih $569 juta untuk kuartal yang berakhir September, serupa dengan kerugian $570 juta pada periode sama tahun lalu.

Di sisi lain, perusahaan dinilai terdampak oleh sentimen perekonomian, seperti kenaikan suku bunga, kekhawatiran resesi, dan melemahnya permintaan untuk layanan online saat pembukaan ekonomi.

Lantaran ketidakpastian pasar, Sea menyatakan perusahaan "tidak bermaksud untuk memberikan panduan apa pun untuk 2023" pada bisnisnya.

"Begitu kami mencapai kemandirian, kami akan berada dalam posisi memutuskan untuk mempercepat kembali pertumbuhan dengan cara yang jauh lebih efisien dan berkelanjutan dalam jangka panjang," kata Li.

Related Articles