Comscore Tracker
TECH

HSBC Rilis Produk Investasi Metaverse Khusus untuk Nasabah Superkaya

Tak sedikit bank yang akan merambah metaverse.

HSBC Rilis Produk Investasi Metaverse Khusus untuk Nasabah SuperkayaGedung HSBC. (Unsplash/Joshua Lawrence)

by Luky Maulana Firmansyah

Jakarta, FORTUNE – The Hongkong and Shanghai Banking Corporation Limited atau HSBC telah merilis pendanaan yang bakal fokus pada peluang investasi di metaverse.

Dalam sebuah pernyataan resmi, Rabu (6/4), HSBC mengatakan produk portofolio Metaverse Discretionary Strategy, yang nantinya dikelola oleh anak usaha HSBC Asset Management, akan berfokus pada investasi di lima sektor ekosistem metaverse, yaitu infrastruktur, komputasi, virtualisasi, pengalaman dan penemuan, dan antarmuka.

"Ekosistem metaverse, meskipun masih dalam tahap awal, berkembang pesat," kata Lina Lim, Regional Head of Discretionary Strategy and Funds For Investments and Wealth Solutions HSBC Asia Pasifik, seperti dikutip dari Reuters, Kamis (7/4). "Kami melihat banyak peluang menarik di ruang ini karena perusahaan dari berbagai latar belakang dan ukuran berbondong-bondong ke ekosistem."

Menurut Lina Lim, portofolio investasi metaverse tersebut diadakan khusus untuk nasabah kaya dan superkaya serta klien investor terkakreditasi. Program ini hanya berlaku bagi nasabah HSBC di Hong Kong dan Singapura.

Sebelumnya, Suresh Balaji, Chief Marketing Officer (CMO) HSBC Asia Pasifik, mengatakan metaverse adalah “bagaimana individu akan mengalami Web3, generasi berikutnya dari internet.” 

Perbankan merambah metaverse

HSBC belum lama ini melontarkan klaim bahwa mereka adalah bank global pertama yang memasuki The Sandbox, sebuah platform metaverse berbasis gim video. Mereka membeli sebidang tanah real estat di metaverse tersebut untuk terlibat dengan penggemar olahraga, e-sports, dan gim.

Sebelumnya, JP Morgan, bank terbesar di Amerika Serikat (AS), secara resmi merambah metaverse. Perusahaan jasa keuangan tersebut merilis lounge di mal Metajuku Decentraland, sebuah metaverse berbasis browser dan (teknologi blockchain) yang didukung oleh Digital Currency Group.

JP Morgan pun lantas merilis buku putih (white paper) bertajuk Opportunities in the Metaverse: How business can explore the metaverse and navigate the hype vs reality. Dalam laporannya, perusahaan menyebut bisnis periklanan dan pemasaran diprediksi bakal jadi salah satu kue ekonomi terbesar di metaverse. JP Morgan menaksir belanja iklan dalam gim metaverse akan mencapai US$18,41 miliar atau lebih dari Rp263 triliun pada 2027.

PricewaterhouseCoopers, firma jasa audit, konsultasi dan pajak, memperkirakan nilai pasar metaverse akan mencapai US$1,5 triliun atau lebih dari Rp21.450 triliun pada 2030. Sedangkan, Citigroup, perusahaan perbankan investasi, menaksir prospek metaverse di kisaran US$8 hingga US$3 triliun dalam delapan tahun mendatang.

Di dalam negeri, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk telah mengatakan akan mengembangkan bisnis metaverse dengan bekerja sama dengan Wir Group. Langkah Bank Mandiri ini menyusul sejumlah bank pelat merah lain. PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk menyatakan bakal membangun ekosistem digital di metaverse. Sedangkan, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk bakal membangun kantor cabang virtual untuk melayani kebutuhan nasabah.

Related Articles