Comscore Tracker
TECH

Huawei Raup Laba Rp256 Triliun Meski Terkena Sanksi dari AS

Laba Huawei tumbuh 75,9 persen dalam setahun.

Huawei Raup Laba Rp256 Triliun Meski Terkena Sanksi dari ASIlustrasi ketegangan Huawei dengan Amerika Serikat. Shutterstock/Ascannio

by Luky Maulana Firmansyah

Jakarta, FORTUNE – Huawei berhasil meraih kinerja yang solid meski terhambat isu sanksi dari Amerika Serikat (AS). Perusahaan teknologi asal Cina ini sanggup meraup laba 113,72 miliar yuan atau setara Rp256,43 triliun. Padahal, tahun sebelumnya hanya 64,65 miliar yuan. 

Namun, pendapatan Huawei sesungguhnya turun 28,6 persen menjadi 636,81 miliar yuan atau setara dengan Rp1.435 triliun. Pada 2020, pendapatan Huawei mencapai 891,37 miliar yuan.

“Untuk Huawei pada 2021, kami mungkin telah melewati zona hitam bencana ini,” kata Meng Wanzhou, Chief Financial Officer (CFO) Huawei, seperti dikutip dari Associated Press (AP), Selasa (29/3). Dia menyebut soal sanksi dari pemerintah AS yang berdampak signifikan terhadap perseroan.

Sebagai konteks, pemerintah AS memberlakukan sanksi kepada Huawei dengan membatasi akses perusahaan tersebut ke sebagian besar teknologi buatan perseroan AS. Pada 2019, di bawah kepemimpinan Donald Trump, AS memblokir akses Huawei terutama untuk chip dan sejumlah komponen serta beberapa layanan dari Google.

Pemerintah AS pun pada 2020 memperketat kebijakan tersebut dengan melarang produsen global menggunakan teknologi buatan AS untuk membuat chip yang dirancang oleh Huawei.

Tentu, kebijakan tersebut berdampak terhadap penjualan lebih-lebih pada bisnis ponsel pintar Huawei. Di saat sama, Huawei juga harus merombak operasionalnya pada skala global.

Efisiensi dan sejumlah strategi

Huawei. Shutterstock/viewimage

Meski pendapatan menurun, Huawei melakukan efisiensi. Sebagai misal, beban penjualan turun 41,6 persen menjadi 329,37 miliar yuan. Beban penjualan dan administrasi juga terkoreksi 8,2 persen menjadi 104,16 miliar yuan. "Ketahanan finansial kami secara keseluruhan menguat. Perusahaan lebih mampu menghadapi ketidakpastian,” ujar Meng Wanzhou.

Perusahaan yang berdiri pada 1987 itu memfokuskan bisnisnya pada tiga sektor, menurut Rotating Chairman Huawei, Gou Ping. Untuk bisnis operator (carrier business), misalnya, Huawei mengekklaim pengembangan 5G telah menunjukkan hasil positif dengan meneken lebih dari 3.000 kontrak komersial untuk aplikasi 5G di industri, seperti manufaktur, pertambangan, rumah sakit, dan lain-lain.

Berkat tren transformasi digital, kata Gou, bisnis perusahaan (enterprise business) Huawei juga melaju. Tahun lalu, Huawei merilis 11 solusi berbasis skenario (scenario-based solutions) untuk sejumlah sektor seperti pemerintahan, transportasi, keuangan, energi, dan manufaktur.

Sedangkan, bisnis barang konsumen (consumer business) Huawei juga positif terutama didorong oleh pertumbuhan penjualan produk layar pintar (smart screens), true wireless stereo atau TWS, dan Huawei Mobile Services (HMS).

"Ke depan, Huawei akan memajukan perjalanan digitalisasi, transformasi cerdas, dan rendah karbon. Dengan mengandalkan bakat, penelitian ilmiah, dan semangat inovatif, kami akan terus meningkatkan investasi untuk membentuk kembali paradigma untuk teori fundamental, arsitektur, dan perangkat lunak, dan membangun daya saing jangka panjang kami,” kata Guo, dalam rilis terpisah.

Related Articles