Amazon Lanjutkan PHK, Target Pangkas 30 Ribu Karyawan untuk Fokus AI

- Amazon akan PHK 30 ribu karyawan global, setara dengan 10 persen tenaga kerja korporat.
- PHK dilakukan untuk fokus pada investasi AI yang dibutuhkan pelanggan saat ini dan di masa depan.
- Jumlah karyawan Amazon diperkirakan terus menyusut.
Jakarta, FORTUNE – Amazon dikabarkan akan kembali melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) mulai pekan depan. Ini menjadi putaran kedua dari rencana perusahaan untuk memangkas sekitar 30.000 karyawan secara global.
Dilansir Reuters, Amazon sebelumnya telah memangkas sekitar 14.000 pekerja pada Oktober lalu, hampir setengah dari total target PHK. Jumlah karyawan yang terdampak pada putaran kedua ini diperkirakan tidak jauh berbeda dan bisa dimulai paling cepat pada Selasa mendatang.
Sejumlah divisi diperkirakan terdampak, termasuk Amazon Web Services (AWS), ritel, Prime Video, serta divisi sumber daya manusia yang dikenal sebagai People Experience and Technology.
Amazon sebelumnya mengaitkan gelombang PHK lalu dengan meningkatnya penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI). Dalam memo internal, Kepala SDM Amazon, Beth Galetti, menyebut perusahaan tengah mengalihkan sumber daya agar fokus pada investasi yang paling dibutuhkan pelanggan, baik saat ini maupun di masa depan.
“Generasi AI ini adalah teknologi paling transformatif sejak internet dan memungkinkan perusahaan berinovasi jauh lebih cepat,” ujar Galetti, dikutip dari GeekWire, Jumat (23/1).
Namun, CEO Amazon, Andy Jassy, kemudian meluruskan bahwa PHK tersebut lebih berkaitan dengan kesesuaian budaya perusahaan, bukan semata-mata penghematan biaya atau dampak AI.
“Ini soal budaya. Ketika jumlah karyawan bertambah, lapisan organisasi juga ikut bertambah,” kata Jassy kepada Reuters, Jumat (23/1).
Jassy juga menyatakan jumlah karyawan Amazon diperkirakan akan terus menyusut seiring meningkatnya efisiensi dari pemanfaatan AI. Perusahaan kini semakin mengandalkan AI untuk penulisan kode perangkat lunak serta penggunaan agen AI guna mengotomatiskan tugas-tugas rutin. Amazon juga mempromosikan model AI terbarunya dalam konferensi tahunan AWS pada Desember lalu.
Meski jumlah PHK mencapai 30.000 orang, angka tersebut hanya mencakup sebagian kecil dari total 1,58 juta karyawan Amazon secara global. Namun, jumlah itu setara dengan hampir 10 persen tenaga kerja korporat perusahaan. Mayoritas karyawan Amazon bekerja di pusat pemenuhan pesanan dan gudang.
Jika terealisasi penuh, langkah ini akan menjadi PHK terbesar sepanjang sejarah 30 tahun Amazon. Sebelumnya, perusahaan telah memangkas sekitar 27.000 pekerjaan pada 2022.
Menurut laporan Reuters, karyawan yang terdampak PHK pada Oktober lalu masih berstatus pegawai selama 90 hari dan diberi kesempatan melamar posisi internal atau mencari pekerjaan lain. Masa transisi tersebut akan berakhir pada Senin mendatang.
Amazon mengikuti tren yang juga dilakukan perusahaan teknologi besar lain, seperti Microsoft, yang memangkas jumlah karyawan sembari meningkatkan investasi pada infrastruktur AI.
Jassy menegaskan langkah ini diperlukan agar Amazon tetap gesit. Pertumbuhan pesat selama satu dekade terakhir dinilai menciptakan lapisan manajemen berlebih yang memperlambat pengambilan keputusan. Sejak menggantikan Jeff Bezos pada 2021, Jassy aktif memangkas birokrasi dan menyederhanakan struktur organisasi.
Jumlah karyawan Amazon sendiri sempat melonjak tiga kali lipat antara 2017 hingga 2022 sebelum perusahaan memperketat perekrutan.
Amazon dijadwalkan merilis laporan keuangan kuartalan terbarunya pada 5 Februari 2026. Kinerja saham perusahaan tahun lalu tertinggal dibandingkan tujuh raksasa teknologi lainnya.
Meski demikian, sejumlah analis menilai bisnis komputasi awan Amazon berpotensi menjadi pendorong saham seiring meningkatnya permintaan terhadap teknologi AI.














![[FOTO RILIS] Estimasi Usia Wajah.png](https://image.fortuneidn.com/post/20260115/upload_bb49ff167707af9d4492c3636b4ef3ab_b20b9730-eebf-4e37-b8bc-13ddca55990e.png)


