Comscore Tracker
TECH

Etika dan Keamanan Digital Indonesia Masih Jadi Tantangan

Indeks literasi DKI Jakarta hanya sedikit di atas nasional.

Etika dan Keamanan Digital Indonesia Masih Jadi TantanganIlustrasi Literasi Digital. Shutterstock/Rawpixel.com

by Luky Maulana Firmansyah

Jakarta, FORTUNE – Indonesia mengalami penurunan etika digital dan keamanan digital. Demikian kesimpulan survei Kementerian Komunikasi dan Informatika, Katadata Insight Center (KIC), dan Siberkreasi terkait Indeks Literasi Digital Indonesia 2021.

Menurut jajak pendapat yang dilakukan secara tatap muka kepada 10 ribu responden di 514 kabupaten/kota Indonesia pada Oktober 2021, indeks literasi digital Indonesia tahun lalu mencapai 3,49 dari skor tertinggi 5. Dengan kata lain, literasi atau pemahaman masyarakat Indonesia masih dalam kategori sedang atau biasa-biasa saja. Namun demikian, dengan sejumlah penyesuaian terhadap unsur penyusun indeks, angka indeks literasi digital tersebut tercatat naik dari 3,46 pada 2020.

Jika ditilik wilayahnya, skor indeks literasi digital per provinsi 3,71 hingga 3,18. Setidaknya ada 12 daerah yang skor indeksnya tercatat di bawah rata-rata provinsi, seperti Sulawesi Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Bali. Skor indeks literasi digital tertinggi dimiliki oleh DI Yogyakarta (3,71) dan skor terendah dimiliki oleh Maluku Utara (3,18). Sementara itu, DKI Jakarta sebagai ibu kota negara memiliki skor 3,51 atau sedikit di atas rata-rata nasional.

Etika dan kemanan digital menurun

Indeks tersebut disusun berdasarkan kerangka empat pilar, yaitu kemampuan digital, budaya digital, etika digital, dan kemanan digital. Menurut survei sama, yang usia respondennya 13-17, pilar budaya digital mencapai nilai tertinggi mencapai 3,90, atau naik dari 3,55 pada tahun sebelumnya. Sedangkan, pilar kemampuan digital juga meningkat menjadi 3,44.

Namun demikian, etika digital justru menunjukkan penurunan menjadi 3,53. Padahal, skor tahun sebelumnya 3,72. Sedangkan, aspek keamanan digital juga mencatatkan tren sama: turun dari 3,24 menjadi 3,10.

Ukuran untuk mengetahui aspek etika digital ini adalah kebiasaan positif maupun negatif responden saat melakukan aktivitas digital. Misalnya, kesadaran terhadap perilaku berkomentar negatif maupun tidak mengunggah tangkapan layar bersifat pribadi sudah cukup baik.

Tetapi, responden masih belum sadar terhadap kegiatan mengunggah foto bersama anak orang lain dan menandai teman saat mengunggah konten tanpa izin.

Akan hal keamanan digital terkait data pribadi saat menggunakan media sosial, responden mampu mengatur untuk siapa saja unggahan merek dan membuat kata sandi aman.

Meski begitu, berbagai keamanan teknis—seperti menggunakan aplikasi untuk menghapus virus dan membedakan email berisi spam/virus—masih rendah. Kesadaran atas perlindungan pribadi secara umum juga masih rendah.

Keamanan digital perlu diperhatikan

Menurut Panel Ahli Katadata Insight Center, Mulya Amri, pilar keamanan digital yang mendapat skor paling rendah perlu mendapat perhatian. Responden masih banyak yang belum mampu melindungi dirinya di dunia maya. 

“Kami menemukan, misalnya, masih banyak yang tidak menyadari bahaya dari mengunggah data pribadi,” katanya dalam peluncuran Indeks Literasi Digital 2021, Kamis (20/1).

Selain mengukur indeks literasi, survei sama juga mengalisis perilaku pengguna internet di Indonesia. Menurut Mulya, hasil survei menemukan bahwa jika masyarakat saat ini mengalami peningkatan kecakapan dalam mengklarifikasi berita bohong. Kondisi itu ditunjukkan dengan makin banyak warga yang telaten melakukan pencarian via mesin pencari di internet untuk mendapatkan informasi akurat.

Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika, Semuel Abrijani Pangerapan, mengatakan pengukuran indeks tersebut juga berguna demi memastikan upaya peningkatan literasi digital masyarakat makin tepat sasaran. 

“Kami ingin terus mempercepat dan mengawal terus tingkat literasi digital masyarakat, mengimbangi dengan perkembangan teknologi digital yang cepat, dan makin strategis bagi kehidupan masyarakat Indonesia saat ini,“ ujarnya.  

Related Articles