Comscore Tracker
TECH

Raksasa E-Commerce Amazon Bakal Pecah Saham, Bagaimana Kinerjanya

Amazon juga menyiapkan rencana buyback saham.

Raksasa E-Commerce Amazon Bakal Pecah Saham, Bagaimana KinerjanyaAktivitas pengepakan barang di gudang Amazon di Prancis. Shutterstock/Frederick Legrand

by Luky Maulana Firmansyah

Jakarta, FORTUNE – Harga saham Amazon sebentar lagi agaknya akan lebih murah. Raksasa e-commerce asal Amerika Serikat (AS) tersebut mengumumkan akan melakukan pemecahan saham (stock split).

Usai mendapatkan persetujuan dari para dewan perusahaan, Amazon bakal memecah saham dengan rasio 20 berbanding 1. Dengan harga saham Amazon saat ini US$2.785, maka nilainya setelah stock split dapat menjadi sekitar US$139.  

“Pemecahan ini akan memberi karyawan kami lebih banyak fleksibilitas dalam cara mereka mengelola ekuitasnya di Amazon dan membuat harga saham lebih mudah diakses oleh orang yang ingin berinvestasi di perusahaan," kata juru bicara Amazon, seperti dikutip dari Reuters, Kamis (10/3).

Pemecahan saham tersebut pada dasarnya takkan mengubah nilai saham Amazon. Sebagai misal, jika seorang investor memiliki 1 saham Amazon, maka usai stock split, investor tersebut akan memegang 20 saham dengan harga baru.  

Kinerja Amazon tahun lalu

Amazon belum lama ini mengumumkan kinerja total 2021. Perusahaan ini berhasil membukukan penjualan bersih (net sales) US$469,8 miliar, atau naik 21,7 persen dari US$386,1 miliar pada tahun sebelumnya.

Perusahaan besutan Jeff Bezos tersebut menyandarkan pendapatannya pada tiga lini bisnis. Pendapatan Amazon di Amerika Utara tumbuh 18,4 persen menjadi US$279,8 miliar. Lalu, pendapatan internasional melejit 22,4 persen menjadi US$127,8 miliar. Perusahaan sama beroleh kenaikan pendapatan dari Amazon Web Services (AWS)—yang merupakan bisnis layanan cloud computing—sebesar 37,1 persen menjadi US$62,2 miliar.

Laba bersihnya tahun lalu mencapai US$33,4 miliar, atau meningkat 56,4 persen dari US$21,3 miliar pada 2020. Sebagai perbandingan, pada 2019, keuntungan perusahaan itu mencapai US$11,6 miliar.

“Mengingat pertumbuhan luar biasa yang kami lihat pada 2020 ketika pelanggan sebagian besar tinggal di rumah, dan fakta bahwa kami terus tumbuh di atas itu pada 2021, tim ritel kami telah beroperasi secara efektif dalam peak mode selama hampir dua tahun,” kata Andy Jassy, CEO Amazon, dalam rilis resmi.

Meski sempat terjadi peningkatan biaya karena kekurangan pasokan tenaga kerja dan tekanan inflasi, kata Andy, perseroan tetap optimistis terhadap bisnis.

Pemecahan saham menyusul sejumlah perusahaan

Rencananya, pemecahan saham itu akan berlaku mulai Juni usai beroleh persetujuan dari para pemegang saham. Apabila aksi tersebut terjadi, maka ini adalah stock split pertama Amazon sejak 1999.

Amazon menyusul sejumlah perusahaan teknologi lain seperti Alphabet (induk Google) yang mempraktikkan aksi sama bulan lalu. Pada 2020, sejumlah perusahaan seperti Apple, Tesla, dan Nvidia, telah melakukan pemecahan saham.

Langkah Amazon juga kemungkinan bertujuan untuk memasukkannya ke dalam indeks Dow Jones Industrial yang terkenal cenderung memasukkan saham terjangkau. Apple, misalnya, berhasil masuk dalam indeks tersebut pada 2015 setelah stock split setahun sebelumnya.

Pada saat bersamaan, Amazon juga menyiapkan rencana pembelian kembali (buyback) saham senilai US$10 miliar.

Related Articles