Comscore Tracker
TECH

Riset IDC: Dampak Inflasi, Pasar Ponsel RI Q2-2022 Anjlok

Oppo berada di posisi teratas.

Riset IDC: Dampak Inflasi, Pasar Ponsel RI Q2-2022 AnjlokIlustrasi ponsel pintar. Shutterstock/ImYanis

by Luky Maulana Firmansyah

Jakarta, FORTUNE – Kinerja pasar ponsel dalam negeri pada kuartal kedua tahun ini merosot, menurut laporan terbaru dari International Data Corporation (IDC). Firma riset pasar tersebut menekankan soal dampak inflasi yang memaksa konsumen mempertimbangkan kembali pengeluaran untuk barang elektronik.

Menurut IDC Worldwide Quarterly Mobile Phone Tracker, jumlah pengapalan ponsel di Indonesia pada kuartal kedua 2022 hanya mencapai 9,5 juta unit, atau turun 10 persen ketimbang periode sama tahun sebelumnya (year-on-year/yoy).

Secara keseluruhan, pasar ponsel pintar RI pada semester I-2022 terkoreksi 13,7 persen secara tahunan. Namun, dibandingkan semester pertama 2019, atau sebelum COVID-19 merebak, pertumbuhannya 3,7 persen.

Menurut Associate Market Analyst IDC Indonesia, Vanessa Aurelia, baik produsen smartphone maupun konsumen sebenarnya telah bersiap menghadapi musim Ramadan. Namun, permintaan konsumen mengalami perlambatan.

“Kenaikan harga barang juga menambah tekanan pada pendapatan yang dapat dibelanjakan, memaksa masyarakat untuk memprioritaskan pengeluaran untuk kebutuhan primer,” katanya, dalam rilis resmi, dikutip Selasa (20/9).

IDC memperkirakan pasar ponsel pada semester II-2022 akan stagnan karena sejumlah hal, seperti inflasi, pergerakan nilai tukar, kenaikan suku bunga, dan harga bahan bakar minyak (BBM). Lembaga itu menaksir pengapalan smartphone akan menurun pada keseluruhan tahun.

Penguasa pasar ponsel

Ilustrasi toko ponsel. Shutterstock/bodnar.photo

Oppo menjadi penguasa pasar ponsel Indonesia pada kuartal kedua II-2022, menurut laporan sama. Produsen smartphone dari Cina itu sanggup mereguk pangsa pasar 20,6 persen. Oppo berhasil menjadi juara karena ponsel kelas menengahnya.

Sementara itu, Samsung beroleh posisi kedua dengan market share 20,2 persen. Dalam laporan IDC, vendor dari Korea Selatan ini berupaya untuk meningkatkan ponsel kelas menengahnya dengan merilis jajaran seri A dan M. Samsung juga berhasil mempertahankan keunggulan di segmen ponsel 5G.

Setelahnya, vivo mesti puas di posisi ketiga dengan pangsa pasar mencapai 17,8 persen, disusul Xiaomi 15,6 persen, dan realme 12,1 persen.

Laporan IDC ini berbeda dengan riset dari firma Canalys yang menyebut pasar ponsel pintar Indonesia pada periode sama masih tumbuh meski persentasenya hanya 2 persen. Jumlah pengiriman ponsel tercatat mencapai 9,1 juta unit.

Meski demikian, negara Asia Tenggara lain membukukan pertumbuhan yang lebih baik, terbukti dengan capaian 6 persen oleh Malaysia dan 4 persen dari Filipina. Ketika dibandingkan dengan koreksi yang dialami oleh Filipina yang sebesar 14 persen dan Thailand 20 persen, Indonesia terlihat jauh lebih superior.

Secara keseluruhan pengiriman ponsel di Asia Tenggara hanya mencapai 24,5 juta unit atau turun 7 persen dari kuartal sebelumnya (qtq) akibat gejolak makroekonomi.

“Kepercayaan konsumen telah sangat terpukul oleh inflasi yang meningkat dan vendor berjuang untuk menjaga gawai tetap terjangkau di pasar yang sensitif terhadap harga. Lima pasar terbesar di kawasan ini terhenti sebagai akibat dari industri yang mengalami hambatan ekonomi makro yang signifikan dan tekanan yang diakibatkan oleh permintaan konsumen lokal,” demikian riset Canalys.

Related Articles