Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Avian Bidik Pertumbuhan Pendapatan 6-10% di Tengah Konflik Timur Tengah
dok. Avia Avian
  • PT Avia Avian Tbk menargetkan pertumbuhan pendapatan 6–10% pada 2026 dari Rp8,1 triliun tahun lalu, didukung strategi internal kuat dan ekspansi jaringan distribusi serta inovasi produk baru.
  • Perusahaan mengalokasikan belanja modal 5–8% dari pendapatan atau sekitar Rp405–648 miliar untuk perbaikan pabrik, sistem operasional, penambahan armada, dan ekspansi pabrik baru di Cirebon.
  • Konflik geopolitik global berpotensi memengaruhi biaya bahan baku berbasis minyak mentah, namun Avian belum menaikkan harga karena masih menggunakan stok bahan baku pembelian Desember lalu.
    Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE - Emiten produsen cat, PT Avia Avian Tbk (AVIA) menargetkan pertumbuhan pendapatan 6-10 persen pada 2026 dari total pendapatan pada tahun lalu sebesar Rp 8,1 triliun.

Manajemen mengatakan, pencapaian tersebut ditopang oleh eksekusi strategi internal yang solid, meski daya beli masyarakat, terutama segmen menengah ke bawah, belum sepenuhnya pulih. Beberapa strategi agresif yang perseroan lakukan tahun lalu dan bakal dilakukan tahun ini diantaranya menambah jaringan distribusi, meluncurkan sedikitnya 10 produk baru per tahun serta pengembangan IT.

“Target kami pertumbuhan volume bisa mencapai 4-8 persen dengan kenaikan laba bersih mid single digit,” kata Head of Investor Relations PT Avia Avian, Andreas Timothy Hadikrisno di Jakarta, Rabu (4/4).

Pada tahun lalu, perseroan menambah lima pusat distribusi milik sendiri, sehingga total pusat distribusi yang dimiliki sendiri mencapai 129 titik, didukung oleh 15 pusat distribusi mini serta 38 pusat distribusi pihak ketiga. Dengan infrastruktur logistik yang semakin kuat dan terintegrasi, Avian Brands mampu mempertahankan tingkat layanan one-day delivery sebesar 90 persen, memastikan ketersediaan produk dan kualitas layanan yang andal bagi pelanggan di seluruh Indonesia.

Selain itu, Avian Brands terus memperkuat inovasi produk dengan meluncurkan 12 produk baru di segmen solusi arsitektur. Lima produk di antaranya telah tersertifikasi Green Label Singapore. Portofolio produk ramah lingkungan ini terus diperluas dan memberikan kontribusi penjualan yang semakin meningkat.

Meski menghadapi tantangan dan ketidakpastian global tahun ini, Avian masih akan tetap melanjutkan ekspansi. Untuk itu, perseroan akan menganggarkan belanja modal (capex) 5 hingga 8 persen dari total pendapatan tahun lalu sebesar Rp8,1 triliun atau sekitar Rp405–648 miliar untuk mendanai capex rutin dan capex ekspansi.

Adapun, pembiayaan capex rutin mencakup perbaikan dan peningkatan pabrik lama, terutama di Sidoarjo dan Serang, perbaikan dan penguatan sistem, termasuk sistem anti dan operasional, penambahan mesin tinting di titik-titik penjualan dan penambahan armada kendaraan untuk mendukung distribusi.

“Di luar capex rutin, perseroan juga menyiapkan capex ekspansi pabrik Cirebon yang akan beroperasi tahun ini,” kata Andreas.

Dampak Perang Iran

Andreas mengatakan, kondisi geopolitik global yang semakin memanas akibat konflik Amerika Serikat, Israel dan Iran berpotensi mempengaruhi biaya bahan baku, meski dampaknya tidak bersifat langsung.

Adapun, komponen bahan baku terbesar cat Avian adalah resin, menyumbang sekitar 16 persen dari total penjualan dan merupakan produk turunan minyak mentah (petrokimia).

“Secara tidak langsung, jika harga minyak mentah naik, tentu ada dampaknya. Kami sudah pernah mengalaminya. Saat 2020 harga crude oil turun drastis, margin kami meningkat signifikan. Sebaliknya, pada 2021–2022 ketika harga minyak melonjak, gross margin tertekan sehingga kami menaikkan harga hingga enam kali dalam dua tahun,” ujar Andreas.

Namun untuk kondisi saat ini, Avian belum mengambil langkah kenaikan harga. Hal ini karena siklus biaya bahan baku perseroan memiliki jeda sekitar dua bulan. Produk yang diproduksi saat ini masih berasal dari bahan baku yang dibeli pada Desember lalu.

“Tentu ada kemungkinan penyesuaian harga jika crude oil naik signifikan, tetapi saat ini belum,”katanya.

Tahun lalu, Avian menaikkan harga dua kali, bukan karena kenaikan minyak mentah, melainkan akibat penguatan dolar AS terhadap rupiah lebih dari 10 persen. Secara rata-rata, kenaikan harga tersebut berada di kisaran 3–4 persen.

Editorial Team

EditorEkarina .