Comscore Tracker
BUSINESS

Ilham Habibie Ungkap 3 Hal Perlu Diantisipasi dalam Tren Penerbangan

Industri Penerbangan harus bersiap menghadapi megatren baru.

Ilham Habibie Ungkap 3 Hal Perlu Diantisipasi dalam Tren PenerbanganIlham Habibie. (dok. Forum Dialog Nusantara)

by Bayu Pratomo Herjuno Satito

Jakarta, FORTUNE - Komisaris Utama PT Regio Aviasi Industri, yang juga putra dari Presiden ke-3 Indonesia, Ilham Akbar Habibie, mengungkapkan tiga faktpr yang perlu dipersiapkan industri penerbangan Indonesia untuk menyambut tren di masa mendatang. 

Ilham mengungkapkan bahwa teknologi akan menjadi dasar faktor-faktor yang akan dipersiapkan. “Tidak saja terkait dengan energinya, juga konsep untuk membangun pesawat dengan mengoptimalkan bahan dan mengurangi sampah,” ujarnya seperti dikutip dari keterangan yang diterima Fortune Indonesia, Rabu (23/11).

Megatren atau perubahan besar pada tren, khususnya pada industri penerbangan, mau tidak mau mengharuskan terjadinya perubahan dari pelaku industri. Apalagi, jika Indonesia ingin mampu bersaing dengan berbagai pemain besar di industri penerbangan global.

Menanggapi hal ini, Direktur Produksi PT Dirgantara Indonesia (PTDI), Batara Silaban, menyampaikan akan berupaya melakukan penyesuaian sesuai perubahan Industri. “Kami menyadari adanya teknologi 4.0, internet of things, augmented realty, dan yang lain ini menjadi salah satu kunci bagi kami untuk mengintegrasikan engineering dan manufacturing,” katanya.

Berikut ini adalah tiga hal yang perlu diantisipasi industri penerbangan menyambut tren baru dan perubahan dunia.

Material

Pesawat NC212i.

Faktor pertama yang harus diperhatikan industri penerbangan tanah air, kata Ilham, adalah keberlanjutan material pesawat. “Kita harus membayangkan untuk membuat pesawat dari material-material yang seluruhnya bisa kita olah kembali,” katanya.

Menurut Ilham, material maupun onderdil dari pesawat lama yang sudah tidak laik terbang dapat dipisahkan antara yang masih bisa digunakan dengan yang sudah rusak total. Dengan demikian, selain membuat harga pesawat lebih ekonomis, sampah yang dihasilkan oleh pesawat mangkrak bisa diminimalisir.

Energi terbarukan

Faktor berikutnya, penggunaan energi terbarukan yang diharapkan dapat ikut berkontribusi dalam pencapaian target nol emisi karbon. Ilham membayangkan, suatu saat nanti tren pesawat turut mengadopsi konsep mesin hibrida, yang memadukan antara energi baterai dan bahan bakar minyak.

Meski saat ini teknologi ini masih belum digunakan, namun harapannya mesin hibrida bisa digunakan untuk taxiing, take off, dan landing. Sampai pada ketinggian 35 ribu kaki di atas permukaan laut, energi pesawat bisa dialihkan ke baterai dan bisa terbang jauh. “Mesin pesawatnya bisa didesain dengan lebih kecil,” ucapnya.

Simulasi digital

Ilustrasi kokpit pesawat komersial.

Faktor kebutuhan industri penerbangan yang ketiga adalah penggunaan simulasi digital secara lebih luas lagi. Jadi, adanya Artificial Intelligent (AI) membuat kita bisa mengerti kelemahan-kelemahan dari suatu desain dan mensimulasikan penggunaannya baik dari segi penumpang maupun pilot.

“Ekstremnya, kita bisa terbang dalam satu lingkungan metaverse,” tuturnya.

Selain itu, kata Ilham, digital machining dalam pembuatan pesawat membuat kompleksitas dan waktu membuat pesawat berkurang sehingga lebih ramah lingkungan. Bentuk pesawat pun diperkirakan akan berubah dengan pengurangan jumlah komponen yang cukup signifikan.

Related Articles