Comscore Tracker
BUSINESS

Fesyen Ramah Lingkungan Penggerak Ekonomi Masyarakat

Social enterprise berdampak nyata pada perekonomian warga.

Fesyen Ramah Lingkungan Penggerak Ekonomi MasyarakatBekerja dengan kearifan lokal merupakan cara berkelanjutan untuk mengembangkan desa dan di saat yang bersamaan melestarikan budaya. Instagram.com/handepharuei

by Desy Yuliastuti

Jakarta, FORTUNE - Potensi sumber alam Kalimantan Tengah yang beragam menginspirasi Randi Julian Miranda pada 2018 membangun brand bernama HANDEP (Handmade Ethical Product). Usaha Randi bergerak di bidang fesyen ramah lingkungan dan produk agrikultur dengan konsep wirausaha sosial.

Pemuda berusia 29 itu memandang usaha yang dia bangun tidak hanya ditujukan demi mencari keuntungan semata, tetapi juga membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya.

Cita-cita serupa diusung Melia Winata, pendiri Du’Anyam, yang memberdayakan wanita-wanita di Flores, Nusa Tenggara Timur. Selanjutnya, ada Egar Putra Bahtera, pemilik Chevalier. Jenama ini melekat pada produk sepatu berbahan kulit yang sukses menembus pasar Asia, Australia, Eropa, dan Amerika.

Bagaimana sebuah bisnis dapat berdampak langsung ke masyarakat sekitar?

Memanfaatkan bahan alami

Produk HANDEP diproduksi dengan memanfaatkan bahan alami berupa rotan dan proses pengerjaan ramah lingkungan. Hasil produknya berupa tas, topi, keranjang, dan aksesori lainnya. HANDEP juga mengembangkan produk-produk dekorasi rumah seperti seperti keranjang, hiasan dinding, kap lampu, serta hasil pertanian organik seperti beras dan madu hutan.

“HANDEP menggunakan konsep sustainable fashion yang bertujuan membantu menjaga lingkungan serta pelestarian hutan dan budaya masyarakat di Kalimantan Tengah,” kata Randi dalam keterangan resmi pada Sabtu, (17/7). Selain itu, untuk setiap pembelian satu produknya, HANDEP menanam satu pohon di hutan masyarakat di desa-desa mitranya.

Sementara itu, Du’Anyam menghasilkan kerajinan tangan unik yang punya nilai jual seperti tas, pelindung kartu, serta wadah bunga. Semua produk dibuat dengan menggunakan daun lontar sebagai bahan anyaman dalam berbagai warna.

Tak kalah menarik, Chevalier berfokus memproduksi sepatu kulit berkualitas premium dengan standar internasional. Chevalier menggunakan bahan baku berkualitas, baik dari luar maupun dalam negeri yang dipasok oleh salah satu pabrik lokal terbaik.

Membuat sistem yang menguntungkan masyarakat

Randi sebagai founder HANDEP mengembangkan potensi bisnis beriringan dengan sistem pemberdayaan masyarakat. Karenanya, para perajin yang dilibatkan pun mampu membuat anyaman rotan yang dikemas dengan sentuhan modern. Hasilnya, produk buatan tangan mereka pun ramah lingkungan.

Du’Anyam berdiri di atas tiga pilar, yakni pemberdayaan perempuan, promosi budaya, dan perbaikan kesehatan dan kesejahteraan. Di samping itu, masyarakat diajarkan tetap menerapkan sistem panen lestari. Artinya, panen hanya periode tertentu untuk memastikan pohon atau tumbuhan tetap tumbuh berkelanjutan.

Dalam menerapkan pakem kewirausahaan sosial, Egar menggandeng pengrajin lokal untuk memproduksi Chevalier. Dengan begitu, perajin lokal menjadi lebih percaya diri dalam mengolah dan menggunakan material terbaik untuk sepatu buatan lokal berkualitas tinggi. Dia pun menerapkan standar upah pegawai yang mencapai dua kali UMR dan menerapkan sistem perdagangan adil dengan penjual bahan baku.


 

Menggandeng pengrajin lokal

HANDEP menggandeng sekitar 200 pengrajin dan petani rotan. Semuanya merupakan masyarakat asli Kalimantan Tengah dan mendapatkan penghasilan tetap dari usaha kerajinan tersebut. Pada 2021, Handep merangkul sekitar 200 pengrajin bambu di Kawasan Bali Aga di Bali Utara dan pengrajin di Kabupaten Pandeglang, Banten. Kehadiran HANDEP diharapkan dapat memberdayakan masyarakat lokal, terutama para perempuan dan petani kecil, agar memiliki pendapatan stabil. 

Hal serupa dilakukan Du Anyam dengan memulai pemberdayaan masyarakat di satu desa, yaitu Dun Tana, Flores Timur dengan 16 perempuan. Desain produk mulai bikin sejak 2014. Mereka terus uji coba untuk menemukan produk yang tepat dan cocok bagi komunitas dan diterima pasar.

Pada 2015, produk mulai keluar dan masuk pasar. Hingga kini, Du Anyam telah melatih hampir 1.400 penganyam di 54 desa di tiga provinsi. Sekitar 800-1.000 perajin aktif kembali pada tradisi dan jadi pendapatan sampingan. Pemasukan utama warga kebanyakan dari pertanian. Du Anyam juga memberikan pelatihan dalam peningkatan kualitas, desain dan nilai tambah juga akses pasar bagi para perempuan penganyam. Rata-rata serapan bisa 3.000-5.000 produk per bulan.

Hal serupa dilakukan Egar dalam mengembangkan Chevalier. Sekilas sepatu Chevalier seolah buatan mesin, tapi sepatu ini 100% merupakan karya pengrajin Bandung, Jawa Barat. Di samping itu, dia mengadakan program peduli dunia pendidikan dengan memberikan seragam sekolah untuk anak-anak di Jawa Barat.

Related Topics

Related Articles