Comscore Tracker
BUSINESS

IBC: Kebutuhan Baterai EV di Indonesia Bisa Capai 59,1 GWh pada 2035

Indonesia mulai hasilkan 10 GWh baterai EV pada 2024.

IBC: Kebutuhan Baterai EV di Indonesia Bisa Capai 59,1 GWh pada 2035Petugas melakukan pengisian daya ke kendaraan listrik saat peluncuran Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) IO2 PLN di KFC Taco Bell Artha Gading, Jakarta, Minggu( 24/7). (ANTARAFOTO/Muhammad Adimaja)

by Hendra Friana

Jakarta, FORTUNE - Direktur Utama Indonesia Battery Corporation (IBC) Toto Nugroho memproyeksikan kebutuhan baterai kendaraan listrik (EV battery) di Indonesia mencapai 59,1 Giga Watt Hour (GWh) per tahun pada 2035.

Kebutuhan tersebut berasal dari 38,2 GWh kendaraan listrik roda empat yang jumlahnya mencapai 300-400 ribu unit; 14,2 GWh sepeda motor listrik yang diperkirakan 3,2-3,4 juta unit; dan 3,5 GWh untuk penyimpanan pada solar panel (ESS) sistem EBT.

Di luar itu, Indonesia juga diproyeksikan akan menyuplai 3,2 GWh EV battery untuk pasar Asia Tenggara. "Ini proyeksi Indonesia. Sudah dikaji oleh lembaga konsultan dan juga dari internal. Ini jumlah yang akan dikonsumsi kurang lebih hampir 60 GW," ujarnya dalam rapat kerja di Komisi VI, Senin (12/9).

Meski taksiran tersebut menggunakan skenario optimistis, Toto mengatakan bahwa perkiraan permintaan baterai EV menggunakan base case juga cukup tinggi. Jumlahnya diperkirakan mencapai 47 GWh pada 2035, dengan 30,7 GWh untuk oleh mobil listrik; 11,7 GWh untuk kendaraan listrik roda dua; dan 2,4 GWh dibutuhkan untuk penyimpanan solar panel pada sistem EBT.

Untuk pasar Asia Tenggara, kebutuhan baterai yang bisa dipasok Indonesia dalam skenario ini mencapai 2,2 GWh. "Jadi untuk kebutuhan baterai nasional proyeksi cukup signifikan. Apalagi ada banyak sekali inisiatif mendorong kebutuhan EV di Indonesia," jelasnya.

Menurut Toto, kondisi ini bisa terjadi lantaran pertumbuhan kendaraan listrik secara tahunan mencapai 15-20 persen. "Kita lihat di sini. Kalau saat ini di 2022 sekitar 1.000 GWh, itu setara dengan hampir 4,5-5 juta kendaraan baru EV. Dan kalau dilihat EV ini pasar utamanya Amerika, Eropa, dan Asia. Asia tentunya Cina dan Indonesia juga. Jadi, ini kondisi yang benar-benar ada di seluruh dunia. Karena hampir seluruh dunia phaseout dari BBM, peningkatan ini terjadi secara signifikan," kata Toto.

Peta jalan pengembangan industri baterai IBC

Toto mengatakan Indonesia sanggup memproduksi baterai kendaraan listrik (EV battery) dengan kapasitas 10 Gigawatt hour (GWh) per tahun pada 2024. Produksi tersebut berasal dari pabrik sel baterai yang dibangun Hyundai dan LG di Karawang, Jawa Barat.

Jumlah tersebut, menurutnya, cukup signifikan karena dapat memasok baterai untuk sekitar 3-4 juta kendaraan roda dua EV dan hampir 100 ribu mobil EV.

"Yang paling penting milestone di 2025 dan 2026 karena di situ kita akan mendapatkan baterai EV yang diproduksi secara massal dari nikel Indonesia. Jadi, kalau kita lihat sekarang, yang di 2024 itu nikel masih harus kita impor," ujarnya.

Nikel impor yang dimaksud Toto adalah produk turunan berupa nickel sulphate yang fasilitas produksinya belum ada di Indonesia. Pabrik tersebut baru akan berjalan dua tahun setelahnya menyusul upaya IBC dan Antam membangun ekosistem industri baterai dari hulu ke hilir bersama LG Energy Solution dan Ningbo Contemporary Brunp Lygend Co, Ltd (CBL)--anak usaha Contemporary Amperex Technology Co. Ltd (CATL), produsen baterai kendaraan listrik berskala global.

Kemudian, pada 2027, IBC akan mulai melakukan ekspansi kapasitas produksi baterai. Dan pada 2030, diharapkan perusahaanya bisa mulai melakukan penguasaan teknologi EV baterai yang saat ini masih didominasi pemain-pemain asing.

"Kita harus memiliki kemandirian terhadap teknologi ini. Jadi, kita tidak kerja sama dengan teknologi luar tapi pengembangan dengan teknologi Indonesia sendiri," jelasnya.

Harapannya, dengan peta jalan tersebut, IBC bisa memenuhi kebutuhan baterai kendaraan listrik dalam negeri dan membantu pengurangan emisi hampir 9 juta ton CO2e atau sekitar 7-8 persen emisi yang dihasilkan dari sektor transportasi.

IBC juga berharap dapat membantu pemerintah mengurangi impor BBM hingga 29,4 juta barel per tahun.

"Jadi angka ini signifikan. Kalau kita lihat, ini adalah satu hal yang sangat penting bagi Indonesia selain dari hilirisasi nikel, tapi juga dari transisi energi, dan satu lagi untuk lingkungan. Jadi dampaknya sangat signifikan," ujarnya.

Related Articles