Jakarta,FORTUNE – BRI Danareksa Sekuritas memproyeksikan kinerja bisnis PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) berada pada awal siklus pertumbuhan baru.
Hal ini ditopang oleh peningkatan produksi Tambang Batu Hijau Fase 8 serta kontribusi bisnis hilirisasi yang mulai menghasilkan produk logam bernilai tambah lebih tinggi, dikutip dari riset terbaru BRI Danareksa Sekuritas yang dirilis 29 Juni 2026.
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Andhika Audrey Eko Nugroho, menilai masa transisi operasional Amman Mineral terjadi sepanjang 2025 dan membuka peluang pertumbuhan laba yang lebih kuat mulai tahun ini.
“AMMN memasuki siklus pertumbuhan laba yang signifikan pada 2026 setelah melewati masa transisi pengembangan Fase 8 Batu Hijau,” ujarnya dalam riset dikutip Rabu (1/7).
Amman Mineral tercatat mengelola volume bijih segar sebanyak 38 juta ton yang ditambang pada pada kuartal I 2026, jumlah ini naik tajam bila dibandingkan dengan produksi tahun sebelumnya yang hanya sekitar 1 juta ton. Kondisi tersebut mendorong produksi konsentrat mencapai 167,8 ribu metrik ton kering (dry metric tonnes - dmt), meningkat 110 persen secara tahunan. Produksi tersebut mengandung sekitar 101 juta pon tembaga dan 136 ribu ons emas.
Pada tiga bulan pertama 2026, AMMN juga telah menjalankan fasilitas smelter dan Precious Metal Refinery (PMR) dan telah menghasilkan sekitar 27,7 ribu ton katoda tembaga dan 66,2 ribu ons emas murni.
Menurut BRI Danareksa, AMMN kini bertransformasi dari perusahaan yang selama ini menjual konsentrat menjadi produsen logam terintegrasi yang menghasilkan produk akhir berupa katoda tembaga dan emas murni sesuai standar internasional. Perubahan ini dinilai memberikan nilai tambah lebih tinggi sekaligus meningkatkan ketahanan bisnis terhadap dinamika industri pertambangan global.
BRI Danareksa juga menyoroti proyek fasilitas pengolahan baru yang saat ini memasuki tahap akhir pembangunan. Fasilitas tersebut dijadwalkan mulai menerima bijih pertama pada paruh kedua tahun ini dan akan meningkatkan kapasitas pengolahan dari sekitar 40 juta ton per tahun menjadi sekitar 85 juta ton per tahun.
Penambahan kapasitas inilah yang diperkirakan akan mendukung pertumbuhan volume produksi dalam beberapa tahun mendatang, baik untuk menopang operasi Batu Hijau maupun pengembangan proyek Elang sebagai sumber pertumbuhan jangka panjang perusahaan.
Secara jangka menengah, produksi katoda tembaga diproyeksikan terus meningkat seiring kenaikan utilisasi smelter, sementara produksi emas murni juga diperkirakan tumbuh signifikan.
Dengan demikian, BRI Danareksa memperkirakan pergerakan saham AMMN akan rekomendasi ‘Buy’ dan target harga Rp6.000 per saham dalam beberapa waktu ke depan. Sebagai konteks, AMMAN telah mengawali 2026 dengan catatan cemerlang. Emiten pertambangan ini membukukan laba bersih US$163 juta atau setara Rp2,8 triliun pada kuartal I 2026.
