Jakarta, FORTUNE - Industri penerbangan global menghadapi tekanan baru akibat konflik yang berkepanjangan di Timur Tengah. Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) memperkirakan laba maskapai dunia dapat terpangkas hampir separuh pada tahun ini seiring melonjaknya harga bahan bakar dan meningkatnya biaya operasional. Di tengah tantangan tersebut, pelaku industri penerbangan Indonesia justru masih melihat peluang pertumbuhan yang relatif stabil dalam lima tahun ke depan, meski tetap mewaspadai dampak gejolak geopolitik global.
Melansir Fortune.com, IATA memproyeksikan laba bersih industri penerbangan global turun menjadi US$23 miliar pada tahun ini, dari US$45 miliar pada 2025. Margin laba bersih industri juga diperkirakan menyusut menjadi hanya 2 persen, turun tajam dari 4,2 persen pada tahun sebelumnya.
Direktur Jenderal IATA, Willie Walsh, mengatakan maskapai yang memiliki kondisi keuangan lebih rapuh dan operator yang melayani kawasan Teluk Persia menjadi pihak yang paling rentan terhadap dampak konflik saat ini.
Menurut Walsh, perang Iran yang kini memasuki bulan keempat telah memaksa maskapai mengubah jalur penerbangan untuk menghindari wilayah konflik. Akibatnya, konsumsi bahan bakar meningkat karena jarak tempuh penerbangan menjadi lebih panjang.
Tekanan semakin besar setelah terganggunya aktivitas di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang sebelumnya dilalui sekitar 20 juta barel minyak per hari. Kondisi tersebut memicu kenaikan harga minyak mentah dan bahan bakar penerbangan di pasar global.
Dalam laporan industri yang dirilis akhir pekan lalu, IATA memperkirakan harga bahan bakar akan melonjak sekitar 70 persen dibandingkan tahun lalu. Kenaikan tersebut diperkirakan menambah beban biaya industri penerbangan global hingga US$100 miliar.
Meski demikian, permintaan perjalanan udara sejauh ini masih cukup kuat. IATA memperkirakan musim liburan musim panas tetap menjadi periode sibuk bagi maskapai.
Kenaikan harga tiket sekitar 20 persen sepanjang tahun ini belum secara signifikan mengurangi minat masyarakat untuk bepergian. Sejumlah maskapai bahkan melaporkan pelanggan premium masih bersedia membayar tarif yang lebih tinggi.
CEO United Airlines, Scott Kirby, mengaku terkejut karena permintaan perjalanan udara tidak sepeka yang diperkirakan terhadap kenaikan harga tiket.
Namun, Walsh mengingatkan bahwa daya tahan konsumen memiliki batas.
"Ketidakpastian terbesar adalah berapa lama penumpang dan pengirim barang mampu menoleransi kenaikan biaya konektivitas ini," ujarnya.
Perang Iran menjadi ujian baru bagi industri penerbangan yang baru beberapa tahun menikmati pemulihan pascapandemi. Pada 2020, sektor ini mencatat kerugian kumulatif lebih dari US$137 miliar. Kondisi mulai membaik pada 2023 dengan laba industri mencapai US$27 miliar, sebelum meningkat menjadi US$45 miliar pada 2025.
Di tengah ketidakpastian geopolitik yang masih membayangi, Walsh tetap optimistis terhadap prospek jangka panjang industri penerbangan.
"Lima hingga sepuluh tahun ke depan bisa menjadi salah satu periode paling menarik bagi industri penerbangan," katanya.
Menurut dia, pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) berpotensi meningkatkan efisiensi operasional, menekan biaya, dan memperbaiki pengalaman pelanggan.
