Jakarta, FORTUNE – Sejumlah perusahaan Indonesia dan Amerika Serikat menandatangani sejumlah kesepakatan perdagangan dan investasi dengan nilai lebih dari US$7 miliar atau sekitar Rp118 triliun. Kesepakatan ini terjadi sehari sebelum pertemuan Presiden Indonesia Prabowo Subianto dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk menandatangani perjanjian dagang final, menurut U.S.-ASEAN Business Council.
Melansir Reuters, kesepakatan tersebut ditandatangani dalam jamuan makan malam untuk Presiden Prabowo yang diselenggarakan oleh U.S. Chamber of Commerce. Berdasarkan lembar fakta USABC, perjanjian ini mencakup pembelian 1 juta ton metrik kedelai AS oleh perusahaan Indonesia, 1,6 juta ton jagung, dan 93.000 ton kapas dalam periode waktu yang belum ditentukan.
USABC juga menyebutkan bahwa Indonesia akan membeli 1 juta ton gandum pada tahun ini dan hingga 5 juta ton gandum pada 2030.
Kesepakatan tersebut termasuk nota kesepahaman antara perusahaan tambang AS Freeport McMoRan dan Kementerian Investasi Indonesia terkait kerja sama mineral kritis, serta perjanjian antara produsen minyak negara Pertamina dan Halliburton untuk bekerja sama dalam peningkatan pemulihan lapangan minyak.
Selain itu, terdapat dua perjanjian usaha patungan di sektor semikonduktor, termasuk satu proyek senilai US$4,89 miliar antara Essence Global Group, serta satu usaha patungan lainnya yang melibatkan Tynergy Technology Group dengan nilai yang tidak diungkapkan.
USABC memperkirakan nilai pembelian Indonesia atas kedelai AS sebesar US$685 juta, gandum US$1,25 miliar, kapas US$122 juta, serta tambahan pembelian pakaian bekas cacah dari AS untuk didaur ulang senilai US$200 juta.
Pada periode 2015–2024, per tahunnya Indonesia rata-rata mengimpor 2,3 juta ton kedelai AS, 800.000 ton gandum, sekitar 180.000 ton kapas, dan kurang dari 100.000 ton jagung, berdasarkan data perdagangan Biro Sensus AS.
Sedangkan Indonesia mengimpor sekitar US$3 miliar produk pertanian AS per tahun, menjadikannya pasar terbesar ke-11 untuk seluruh produk pertanian Amerika Serikat.
Tidak semua kesepakatan mencantumkan nilai transaksi, termasuk pembelian kayu dan produk furnitur dari AS oleh Indonesia.
Dalam sambutannya pada jamuan makan malam tersebut, Presiden Prabowo mengatakan bahwa kesepakatan ini merupakan bagian dari perjanjian pelaksanaan kerja sama dagang Indonesia–AS yang akan ia tandatangani bersama Trump pada Kamis (19/2).
Menurutnya, langkah ini akan membantu mengurangi surplus perdagangan Indonesia terhadap AS, seraya menambahkan, “Saya sangat optimistis terhadap masa depan hubungan RI-AS,” katanya dilansir dari Reuters, Kamis (19/2).
Presiden Prabowo tiba di Washington pekan ini untuk menghadiri pertemuan Dewan Perdamaian Trump, dengan harapan Indonesia dapat memperoleh penurunan tarif impor menjadi 18 persen dari 19 persen yang disepakati tahun lalu. Tarif tersebut akan setara dengan tarif yang sebelumnya diberikan Trump kepada India pada awal Februari.
Dalam pernyataannya pada acara tersebut, Wakil Perwakilan Dagang AS Rick Switzer tidak menyebutkan besaran tarif final bagi Indonesia. Namun, ia menyatakan bahwa Perjanjian Perdagangan Timbal Balik antara kedua negara demokrasi tersebut “akan mendorong peningkatan perdagangan bilateral, investasi yang lebih besar, serta hubungan ekonomi, investasi, dan perdagangan yang lebih dalam dan komprehensif.”
