PGE Perkuat Pengembangan Panas Bumi Sepanjang 2025, Bidik 1 GW Tiga Tahun Mendatang

- PT Pertamina Geothermal Energy Tbk bidik 1 GW dalam 2-3 tahun mendatang, bertambah menjadi 1,8 GW pada 2033 dari potensi panas bumi sekitar 3 GW.
- PGE menjalankan strategi untuk mendukung target tersebut, termasuk pengelolaan operasi dan penambahan kapasitas terpasang yang selaras dengan RUPTL PLN 2025-2034.
- PGE mengelola 15 Wilayah Kerja Panas Bumi dengan total kapasitas terpasang mencapai 1.932 MW, menyumbang sekitar 70% dari total kapasitas panas bumi nasional.
Jakarta, FORTUNE - PT Pertamina Geothermal Energy Tbk membidik peningkatan kapasitas terpasang 1 gigawatt (GW) dalam dua hingga tiga tahun mendatang, kemudian bertambah secara bertahap menjadi 1,8 GW pada 2033.
Target tersebut ditopang oleh potensi panas bumi sekitar 3 GW yang berasal dari 10 Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) yang dikelola secara mandiri.
Untuk mencapai target tersebut, PGE juga menjalankan sejumlah strategi yang dimulai sejak tahun lalu. Langkah ini mencakup pengelolaan operasi, hingga penambahahan kapasitas terpasang, yang selaras dengan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025-2034. Dalam dokumen itu disebutkan, porsi pembangkit energi baru terbarukan ditargetkan mencapai 76 persen, dengan kontribusi panas bumi sebesar 5,2 GW.
Direktur Operasi PT Pertamina Geothermal Energy Tbk Ahmad Yani mengatakan sepanjang 2025, perusahaan terus memperkuat posisinya, melalui solusi energi bersih yang inklusif dan inovatif untuk pengembangan panas bumi nasional.
"Berbagai capaian yang diraih sepanjang tahun ini ini mencerminkan konsistensi dalam menjalankan andala oprasi, meningkatkan kapasitas terpasang, serta memastikan setiap langkah pengembangan berjalan selaras dengan prinsip keberlanjutan dan tata kelola perusahaan yang baik," ujar Ahmad dalam keterangan resmi, Rabu (13/1).
Adapun, sepanjang 2025 PGE mulai mengoperasikan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Lumut Balai Unit 2. Beroperasinya unit ini mendorong kenaikan kapasitas terpasang yang dikelola langsung oleh PGE menjadi 727 megawatt (MW), dari sebelumnya 672 MW.
Untuk pengembangan jangka menengah hingga panjang, PGE juga memulai tahap eksplorasi greenfield PLTP Gunung Tiga di Lampung. Proyek dengan potensi kapasitas sekitar 55 MW ini diarahkan untuk memastikan ketersediaan cadangan panas bumi dan memperluas basis sumber energi berbasis lokal.
Sejumlah proyek panas bumi yang dijalankan PGE juga tercantum dalam Blue Book 2025–2029 Kementerian PPN/Bappenas. Masuknya proyek-proyek tersebut mencerminkan peran panas bumi dalam mendukung agenda investasi energi berkelanjutan serta kontribusinya terhadap pencapaian target energi nasional.
Selain pengembangan pembangkit listrik, PGE mulai memperluas pemanfaatan panas bumi ke sektor lain. Panas bumi dipandang tidak hanya sebagai sumber listrik, tetapi juga memiliki potensi untuk dikembangkan ke penggunaan lanjutan seiring terbukanya peluang komersial.
Sementara pada jangka menengah, ia memperkirakan pengembangan hidrogen hijau dan amonia hijau mulai tumbuh di pasar domestik pada 2030 dan menjadi bagian dari arah pengembangan perusahaan.
Hingga kini, PGE mengelola 15 Wilayah Kerja Panas Bumi dengan total kapasitas terpasang mencapai 1.932 MW. Dari jumlah tersebut, 727 MW dioperasikan dan dikelola langsung oleh PGE, sementara 1.205 MW dijalankan melalui skema Kontrak Operasi Bersama. Kapasitas panas bumi di wilayah kerja PGE menyumbang sekitar 70 persen dari total kapasitas panas bumi nasional dan berpotensi menekan emisi karbon hingga sekitar 10 juta ton CO₂ per tahun.

















