Raksasa Migas Australia Santos Mau PHK, Imbas Anjloknya Komoditas Harga dan Laba

- Santos Ltd, produsen gas alam terbesar kedua di Australia, akan PHK 10% karyawannya akibat penurunan laba akibat anjloknya harga minyak dan gas.
- Laba bersih turun menjadi US$818 juta pada tahun yang berakhir Desember, di bawah ekspektasi analis. Saham turun hingga 3,8 persen.
- Perusahaan memproyeksikan Asia akan menopang pertumbuhan permintaan gas alam cair (LNG) hingga tahun 2050, meskipun ada perkiraan kelebihan pasokan yang dapat dimulai paling cepat pada tahun 2026.
Jakarta, FORTUNE - Santos Ltd, akan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 10 persen dari total karyawannya. Langkah ini dilakukan setelah produsen gas alam terbesar kedua di Australia ini melaporkan penurunan laba akibat anjloknya harga minyak dan gas.
Dilansir dari Bloomberg, PHK tersebut akan mencakup staf jangka pendek dan kontraktor seiring selesainya proyek-proyek besar dan perusahaan berupaya melakukan penghematan biaya, kata CEO Kevin Gallagher dalam sebuah wawancara pada Rabu lalu. Santos mempekerjakan sekitar 4.000 karyawan, menurut pengajuan tersebut.
“Pasar seharusnya menyukai target pengurangan jumlah karyawan sebagai tanda perkiraan biaya operasional yang lebih rendah,” kata analis Jarden Group, Nik Burns dan Joshua Mills-Bayne, dalam sebuah catatan.
Laba bersih yang dapat diatribusikan setelah pajak turun sepertiga menjadi US$818 juta pada tahun yang berakhir Desember, kata perusahaan yang berbasis di Adelaide ini. Angka tersebut di bawah semua ekspektasi analis. Saham turun hingga 3,8 persen, sebelum mengurangi sebagian kerugian tersebut di Sydney.
“Meskipun terdapat ketidakpastian jangka pendek, permintaan batubara, minyak, dan gas terus meningkat,” kata Pemimpin Santos, Keith Spence, dalam sebuah pernyataan, seraya menambahkan “Ketegangan geopolitik dan perlambatan pertumbuhan ekonomi menyebabkan pasar energi global tetap bergejolak tahun lalu.”
Sementara itu, Gallagher dalam sebuah wawancara menyebut volatilitas sebagai norma baru. “Memiliki fleksibilitas dalam portofolio produk Anda memungkinkan Anda untuk bereaksi terhadap volatilitas tersebut ketika terjadi. Dan mudah-mudahan secara oportunistik memanfaatkannya,” katanya.
Santos memproyeksikan Asia akan menopang pertumbuhan permintaan gas alam cair (LNG), meskipun ada perkiraan kelebihan pasokan yang dapat dimulai paling cepat pada tahun 2026 serta meningkatnya tekanan global pada sejumlah negara akan mempercepat peralihan dari bahan bakar fosil dan mencapai komitmen nol emisi bersih. Perusahaan berpendapat, LNG menyediakan alternatif karbon yang lebih rendah daripada batu bara untuk pasar impor utama seperti Jepang dan Korea Selatan.
“Asia tetap menjadi pusat pertumbuhan permintaan LNG, dengan perkiraan konsumsi akan meningkat pesat hingga tahun 2050,” kata Gallagher dalam panggilan investor, menambahkan bahwa gas memainkan “peran unik” dalam transisi energi.
“Ini adalah satu-satunya bahan bakar yang dapat diskalakan dan dapat dikirim yang mampu mendukung energi terbarukan sambil mempertahankan stabilitas jaringan,” katanya. “Hal itu menjadikannya bahan bakar dasar bagi perekonomian yang sedang tumbuh.”
Permintaan akan LNG dengan nilai kalor tinggi yang mencakup 75 persen portofolio Santos sangat tinggi, karena pelanggan di Asia mengejar keamanan energi, tambahnya dalam wawancara tersebut.
Peran LNG dalam transisi energi sangat diperdebatkan, dengan para pemerhati lingkungan berpendapat bahwa industri bahan bakar fosil tidak memperhitungkan emisi metana dan polusi dari pengiriman bahan bakar tersebut dengan benar.
Harga minyak rata-rata yang direalisasikan Santos pada tahun 2025 turun 14 persen menjadi US$73,05 per barel dan LNG turun 10 persen menjadi $11,12 per juta British thermal units. Hal itu berkontribusi pada penurunan pendapatan penjualan sebesar 8 persen menjadi sekitar US$5 miliar.
Dimulainya produksi dari proyek gas Barossa pada bulan September dan produksi minyak pertama dari pengembangan Pikka di Alaska pada kuartal ini diperkirakan akan meningkatkan produksi menjadi 101 juta hingga 111 juta barel setara minyak pada tahun 2026.
Sementara dikutip dari Canberratimes, PHK dan penurunan kinerja tak mengubah target Santos. Pada 2026, perusahaan menargetkan volume penjualan 101-111 juta barel setara minyak untuk tahun tersebut, dengan proyeksi biaya per unit sebesar US$6,95 hingga US$7,45.
Investor menjual saham Santos, yang turun sekitar 2,5 persen menjadi US$6,50 pada perdagangan siang hari.


















