CEO F&B ID: Saat Teknologi Tak Berhasil, Komitmen Bisnis Jadi Penentu

Jakarta, FORTUNE — Investasi teknologi tidak selalu berujung mulus. Bagi Devin Widya Krisnadi, CEO F&B ID, kegagalan justru menjadi bagian penting dalam perjalanan transformasi digital bisnis makanan dan minuman. Karena itu, menurut dia, teknologi hanya akan berdampak jika dibarengi komitmen bisnis yang konsisten dari seluruh organisasi. F&B ID sendiri merupakan entitas F&B di bawah Kawan Lama Group, yang menaungi berbagai merek, dengan Chatime sebagai salah satu brand paling dikenal dan telah beroperasi di Indonesia selama 15 tahun.
Devin menekankan bahwa investasi teknologi bukan sekadar soal dana, melainkan kesiapan organisasi. Ia mengakui, tidak semua proyek digital yang dijalankan F&B ID berakhir sukses. “Kalau orang-orangnya belum siap, teknologi justru bisa jadi investasi yang rugi,” ujarnya, dalam Fortune Indonesia Summit 2026 di Jakarta, Kamis, 12 Februari 2026, pada sesi “Reframing Technology: From Expense to Value”.
Dalam beberapa kasus, menurutnya perusahaan bahkan harus mengambil keputusan cut loss karena implementasi tidak berjalan optimal. Selain itu, fondasi sumber daya manusia menjadi prasyarat utama sebelum teknologi diterapkan. Tanpa kesiapan dari seluruh lini, dari manajemen puncak hingga operasional, teknologi berisiko menjadi beban alih-alih pendorong nilai.
Ukuran keberhasilan, kata Devin, tetap sederhana. “Kalau dia cuma beli karena promo atau ikut-ikutan, lalu tidak balik lagi, berarti kita harus bertanya apakah produknya sudah tepat,” katanya.
Pengalaman tersebut membentuk cara F&B ID memandang transformasi teknologi. Devin mengisahkan perjalanan panjang Chatime, yang bermula dari sistem stempel manual beli 10 gratis 1, lalu beralih ke specialty card fisik berbayar. Pada masa jayanya, sistem ini menghimpun hingga 3 juta anggota.
Namun, pertumbuhan bisnis memaksa manajemen mengambil keputusan sulit: meninggalkan kartu fisik dan beralih ke aplikasi digital. “Waktu itu keputusannya enggak mudah, karena kalau kita bayangin, 3 juta member itu setara dengan sekitar Rp30 miliar pendapatan,” ujarnya.
Dua tahun pertama setelah peluncuran aplikasi F&B ID bahkan nyaris tanpa pengguna. Meski demikian, manajemen memilih bertahan. “Teknologi itu harus komitmen dari top down dan seluruh lini harus buy in supaya bisa diimplementasikan dengan baik.”
Kini, aplikasi F&B ID memungkinkan konsumen membeli di satu merek dan menukarkan poin di merek lain, misalnya membeli minuman di Chatime lalu redeem di Gindaco atau Go! Go! CURRY. Integrasi ini menjadi fondasi ambisi membangun ekosistem hingga belasan brand dalam satu platform.
Data Bukan Sekadar Laporan
Lewat aplikasi, F&B ID memantau retensi dan demografi pelanggan tiap merek secara rutin. Bagi Devin, penjualan tinggi tidak selalu mencerminkan bisnis yang sehat. “Sales itu sebuah ilusi sebenarnya. Penjualan yang bagus di awal belum tentu bisnisnya sehat, karena sering kali orang hanya mencoba tapi tidak kembali,” katanya.
Karena itu, F&B ID memonitor customer retention secara mingguan dan bulanan. Setiap brand memiliki karakter berbeda, tapi satu platform terintegrasi dinilai memberi dampak besar bagi pertumbuhan. “Walaupun butuh banyak pengorbanan, selama visinya jelas teknologi ini mau dibawa ke mana, itu adalah sesuatu yang layak dijalankan,” ujarnya.
Sebagai bagian dari grup besar, inisiatif teknologi kerap menghadapi resistensi internal. Devin menilai kuncinya ada pada visi yang jelas dan konsistensi. Ia menyebut mimpi jangka panjang Kawan Lama Group adalah menyatukan seluruh program loyalitas, tidak hanya F&B, tetapi juga ritel dan pusat perbelanjaan seperti AZKO, Informa, dan Living World dalam satu ekosistem.
“Perjalanan ke sana pasti berat, butuh banyak pengorbanan dan diskusi, tapi pada akhirnya ini untuk kepentingan grup, bukan hanya satu unit bisnis,” katanya. Menurut Devin, ketika arah dan keyakinan sudah sejalan, pemangku kepentingan dapat diyakinkan untuk mendukung investasi jangka panjang.
Dalam bisnis F&B yang sangat operational heavy, Devin menilai teknologi harus membantu, bukan membebani frontliner. Selama ini, banyak karyawan outlet tersita oleh pekerjaan administrasi manual, mulai dari checklist hingga pelaporan waste.
Dengan digitalisasi, proses tersebut kini bisa dilakukan lewat sistem cloud. “Teknologi itu seharusnya membantu supaya lebih human touch, bukan menggantikan manusia,” ujarnya. Beban administrasi yang berkurang memungkinkan barista dan staf dapur kembali fokus pada pelanggan, sementara pengambilan keputusan di kantor pusat dapat berlangsung lebih cepat—hal krusial di industri ritel F&B yang bergerak dinamis.
Bagi Devin, di situlah esensi teknologi dalam bisnis konsumer: bukan solusi instan atau sekadar simbol modernisasi, melainkan alat strategis yang hanya bernilai ketika dijalankan dengan komitmen, visi, dan kesiapan organisasi.

















