AstraPay Perluas Peran, dari Alat Bayar ke Mitra Finansial

- AstraPay memperluas peran dari alat bayar ke mitra finansial dalam ekosistem Grup Astra.
- Mengusung pendekatan mindful transaction dengan fitur histori transaksi terklasifikasi dan literasi keuangan.
- Memanfaatkan big data untuk retensi dengan segmentasi berbasis perilaku dan program loyalitas berbasis poin.
Jakarta, FORTUNE - Di tengah tekanan daya beli dan perubahan perilaku konsumsi digital, perusahaan pembayaran tak lagi cukup menjadi perantara transaksi. Mereka dituntut menciptakan relevansi dalam keputusan finansial harian konsumen. AstraPay membaca pergeseran ini sebagai peluang strategis.
Sebagai bagian dari Grup Astra, AstraPay berperan memperluas frekuensi interaksi pelanggan di dalam ekosistem perseroan. Jika sebelumnya hubungan pelanggan dengan Astra bersifat periodik, misalnya saat pembelian kendaraan atau pembayaran cicilan, kini interaksi itu terjadi setiap hari melalui pembayaran listrik, pulsa, QRIS, hingga transportasi publik. Chief Marketing Officer AstraPay, Reny Futsy Yama, mengatakan model ini dirancang untuk memperpendek jarak dengan pelanggan sekaligus memperkuat retensi.
“Produk inti Astra memiliki siklus pembelian yang panjang. Kami ingin menghadirkan solusi yang bisa digunakan setiap hari, mulai dari bayar listrik, pulsa, QRIS, hingga transportasi publik. Dengan begitu, relasi dengan pelanggan menjadi lebih dekat dan berkelanjutan,” ujarnya dalam sesi diskusi berjudul What Customers Really, Really Want di Fortune Indonesia Summit (FIS) 2026 yang digelar di The Westin, Jakarta, Kamis (12/2). Dalam sesi tersebut, Reny hadir bersama Deputy CEO Erajaya Group, Hasan Aula.
Dorong mindful transaction

Di tengah tren belanja yang lebih selektif dan tekanan gaya hidup digital, AstraPay mengusung pendekatan mindful transaction. Strategi ini menempatkan platform bukan hanya sebagai alat bayar, tetapi sebagai instrumen pengelolaan keuangan.
Melalui fitur histori transaksi terklasifikasi dan pengingat pembayaran, pengguna dapat memantau pola pengeluaran dan menghindari keterlambatan tagihan. AstraPay juga mengintensifkan literasi keuangan, termasuk melalui edukasi ke kampus dan komunitas.
“Kita sering mengingatkan, waktu kita transaksi jangan FOMO, jangan reaktif. Benar-benar harus mindful, apakah transaksi yang kita lakukan ini baik untuk hari ini dan baik untuk masa depan,” kata Reny.
Menurutnya, transparansi transaksi digital memberi visibilitas yang sebelumnya tidak tersedia dalam pembayaran tunai. Data tersebut menjadi dasar evaluasi perilaku belanja secara berkala, terutama bagi generasi muda yang rentan terhadap fenomena fear of missing out (FOMO).
Optimalkan data untuk retensi

Dengan lebih dari 17 juta pengguna dan jutaan transaksi per bulan, AstraPay memanfaatkan big data untuk memperkuat retensi dan meningkatkan customer lifetime value. Segmentasi berbasis perilaku memungkinkan perusahaan menawarkan promosi yang lebih presisi mulai dari voucher, cashback, hingga program loyalitas berbasis poin.
Seluruh transaksi terintegrasi dalam sistem poin yang dapat ditukarkan di berbagai merchant maupun di dalam ekosistem Astra. Strategi ini memperkuat konektivitas lintas lini bisnis Grup Astra sekaligus menciptakan siklus loyalitas yang berkelanjutan. Reny menegaskan, fokus perusahaan bukan sekadar meningkatkan volume transaksi, melainkan membangun relasi jangka panjang berbasis relevansi.
“Kami ingin hadir bukan hanya sebagai alat bayar, tapi sebagai partner yang menemani perjalanan finansial pelanggan. Dari transaksi kecil sehari-hari, sampai nanti ke keputusan yang lebih besar di ekosistem Astra,” ujarnya. (WEB)

















