Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
For
You

Visa 2026: Perluas Digitalisasi BPD hingga Masuk Ekosistem E-Sports

Foto 2.jpeg
Keterangan: (ki-ka) Vira Widiyasari, Country Manager, Visa Indonesia; tengah memberikan pemaparan terkait inisiatif strategis Visa Indonesia disepanjang 2026 didampingi oleh Astri Abyanti; Head of Corporate Communications Visa Indonesia; Nathalia Nugrahani, Head of Marketing Visa Indonesia; Nitia, Head of Risk Visa Indonesia dalam acara Editors Luncheon. Dok: Visa Indonesia

Jakarta, FORTUNE - Visa menegaskan komitmennya memacu pertumbuhan ekonomi digital nasional sepanjang 2026. Raksasa pembayaran global ini menetapkan dua fokus utama: memperdalam inklusi keuangan melalui digitalisasi Bank Pembangunan Daerah (BPD) dan menangkap potensi pasar generasi baru melalui ekosistem gaya hidup.

Country Manager Visa Indonesia, Vira Widiyasari, menekankan pembayaran digital merupakan infrastruktur vital bagi pertumbuhan ekonomi. Oleh karena itu, fokus perseroan tahun ini diarahkan pada penguatan ekosistem secara menyeluruh, mulai dari perluasan akses hingga penguatan kepercayaan konsumen.

“Visa melihat bahwa pembayaran digital merupakan infrastruktur penting bagi pertumbuhan ekonomi digital Indonesia. Oleh karena itu, pada 2026, fokus kami diarahkan pada penguatan ekosistem secara menyeluruh. Mulai dari perluasan akses dan kolaborasi hingga penguatan kepercayaan, agar peningkatan aktivitas transaksi dapat memberikan dampak ekonomi yang lebih luas dan berkelanjutan,” ujar Vira dikutip dari siaran pers.

Dalam upaya memperluas jangkauan ke pelosok, Visa agresif menjalin kemitraan dengan BPD. Strategi ini bertujuan meningkatkan daya saing layanan pembayaran bank daerah melalui adopsi kapabilitas jaringan global Visa.

Setelah menggandeng Bank BJB dan Bank Sumsel Babel, Visa baru saja meresmikan kerja sama dengan Bank Jakarta pada Januari 2026. Kemitraan ini akan terus diperluas ke berbagai daerah lainnya. Melalui kolaborasi ini, nasabah BPD dapat menikmati layanan berstandar internasional, termasuk kemampuan transaksi lintas negara.

Vira menjelaskan, peran Visa dalam kemitraan ini tidak sekadar penyedia teknologi, melainkan sebagai enabler yang memberikan pendampingan menyeluruh.

“Visa memang sebagai enabler, karena kami memiliki jaringan global. Jaringan Visa ini nanti bisa digunakan oleh BPD untuk bisa meng-enable kartu debitnya untuk bisa diterima di seluruh dunia,” kata Vira di hadapan wartawan di Jakarta, pekan lalu.

Ia menambahkan, pihaknya juga fokus pada transfer pengetahuan (transfer knowledge) kepada SDM di bank daerah.

“Kami juga melakukan training, kami melakukan pendampingan sehingga BPD juga bisa memahami step-step yang harus dilakukan. Khususnya transfer knowledge-nya untuk bisa memastikan secara operasionalnya bisa berjalan dengan lancar,” katanya.

Selain sektor perbankan, Visa juga menanamkan investasi besar untuk merangkul segmen konsumen generasi baru. Strategi ini dilakukan dengan masuk ke dalam komunitas olahraga, gim, musik, hingga fesyen. Tujuannya adalah mengubah momen kegemaran (passion) menjadi kebiasaan pembayaran digital.

Beberapa inisiatif strategis yang dilakukan antara lain menjadi Official Payment Partner pada ajang Mobile Legend: Bang Bang (MLBB) M7 World Championship di Jakarta, sponsor MAMA Awards, Piala Dunia FIFA, serta title sponsor Maybank Marathon di Bali.

Waspada Pergeseran Modus Penipuan

Seiring dengan meluasnya adopsi digital, aspek keamanan siber menjadi sorotan utama. Adanya perubahan pola kejahatan siber yang perlu diwaspadai nasabah dan perbankan.

Head of Risk Visa Indonesia, Nitia, menjelaskan saat ini tren penipuan telah bergeser dari modus pengambilan alih akun tanpa izin (unauthorized) menjadi penipuan di mana korban secara sadar melakukan transfer (authorized push payment fraud) akibat rekayasa sosial.

“Karena yang berbahaya itu, sebenarnya modusnya dulu unauthorized. Tapi kalau sekarang itu sudah authorized dan menurut saya kitanya sebenarnya menyadari gitu bahwa kita yang sendiri ngeklik link-nya,” kata Nitia.

Ia mencontohkan maraknya modus penipuan lowongan kerja (job scam) dan asmara (romance scam).

“Itu sekarang lagi naik banget karena banyak orang-orang yang lagi mencari pekerjaan kan bahkan lewat situs-situs yang terkenal. Jadi mereka bilang oh ini ada lowongan pekerjaan, tapi ada down payment,” ujarnya.

Untuk memitigasi risiko tersebut, Visa rutin menggelar Risk Forum bersama mitra perbankan guna membedah pola-pola kejahatan baru dan memperkuat sistem pertahanan. Edukasi konsumen untuk tidak sembarangan memberikan akses data pribadi dinilai menjadi kunci pertahanan utama di era digital ini.

Share
Topics
Editorial Team
Bonardo Maulana
EditorBonardo Maulana
Follow Us

Latest in Business

See More

Visa 2026: Perluas Digitalisasi BPD hingga Masuk Ekosistem E-Sports

11 Feb 2026, 15:48 WIBBusiness