Bos Samudera Indonesia Sempat Ditegur Komisaris, Apa Sebabnya?

- Bos Samudera Indonesia, Bani Mulya, menerima teguran dari komisaris terkait turnover rate perusahaan yang terlalu rendah.
- Bani mendorong talenta muda untuk keluar dari zona nyaman dan bahkan mengundurkan diri jika diperlukan untuk perkembangan karier.
- Dalam dinamika perusahaan berumur 75 tahun lebih, Bani menekankan pendekatan manusiawi dalam menyelesaikan kasus pelanggaran.
Jakarta, FORTUNE - Presiden Direktur PT Samudera Indonesia Tbk (SMDR), Bani Mulya, membagikan perspektif unik mengenai manajemen sumber daya manusia. Dalam sesi Crafting the New Way of Leadership di Fortune Indonesia Summit 2026, ia mengungkapkan kekhawatirannya terhadap tingkat perputaran karyawan (turnover rate) perusahaan yang dinilai terlalu rendah.
Bani menyebut kondisi tersebut dipandang tidak sehat oleh jajaran komisaris. Banyak karyawan memilih bertahan hingga puluhan tahun tanpa mencoba tantangan baru. Hal ini memicu kekhawatiran mengenai stagnasi kreativitas di internal perusahaan.
“Ini malah jadi tanda tanya. Apakah mereka terlalu nyaman di comfort zone?” ujar Bani di The Westin Jakarta, Kamis (12/2).
Bani secara aktif mendorong talenta muda di Samudera Indonesia untuk berani melangkah keluar dari zona nyaman. Ia bahkan tidak ragu menyarankan karyawan untuk mengundurkan diri jika hal itu demi perkembangan karier yang lebih besar, termasuk bergabung dengan perusahaan global.
“Saya tunggu kapan kamu resign-nya. Kalau kamu enggak resign, kamu enggak naik kelas,” katanya.
Bagi Bani, perkembangan karier sejati justru terjadi saat seseorang berani menghadapi lingkungan yang lebih kompetitif di luar organisasi saat ini.
Meski memegang teguh empat moto utama—Sabar, Tabah, Tekun, dan Iman—Bani mengakui bahwa pelanggaran internal tetap bisa terjadi. Ia memandang hal tersebut sebagai dinamika organisasi yang wajar selama lebih dari 75 tahun perjalanan perusahaan.
“Kita kan manusia, pasti ada khilaf,” ujarnya.
Namun, dalam menangani pelanggaran, SMDR memilih pendekatan yang lebih manusiawi. Perusahaan menghindari hukuman yang menjatuhkan vonis sosial secara berlebihan. Untuk kasus berat di level eksekutif, Bani lebih memilih penyelesaian melalui dialog langsung yang berujung pada pengunduran diri secara baik-baik.
“Kalau sudah begini, tinggal resign aja,” kata Bani.
Menurutnya, keputusan mundur secara mandiri jauh lebih adil bagi reputasi seseorang di pasar tenaga kerja dibandingkan proses pemecatan yang panjang dan merusak nama baik.
Bani menegaskan nilai-nilai perusahaan tetap menjadi kompas utama. Namun, bagi individu yang merasa tidak lagi sejalan dengan budaya kerja Samudera Indonesia, pintu keluar selalu terbuka lebar sebagai bentuk transparansi profesional.
“Kalau di luar itu, ya silakan pindah. Enggak apa-apa,” ujarnya.

















