Jakarta, FORTUNE – Isu kesehatan, sanitasi, hingga perundungan di sekolah semakin masuk dalam agenda keberlanjutan perusahaan. Bagi sektor swasta, pendekatan tersebut memperluas implementasi environmental, social, and governance (ESG) dari pengelolaan dampak operasional perusahaan menuju perubahan perilaku masyarakat dalam jangka panjang.
Persoalan yang dihadapi sekolah masih cukup besar. Data UNICEF menunjukkan perundungan dan tindakan mempermalukan masih umum terjadi di sekolah Indonesia, dengan sekitar 18 persen anak perempuan dan 24 persen anak laki-laki terdampak. Data lain yang dikutip UNICEF menunjukkan 41 persen siswa berusia 15 tahun pernah mengalami perundungan lebih dari beberapa kali dalam sebulan.
Persoalan kesehatan sekolah juga berkaitan dengan ketersediaan fasilitas air, sanitasi, dan kebersihan atau water, sanitation and hygiene (WASH). UNICEF menilai keberadaan fasilitas tersebut berkaitan dengan kesehatan, kehadiran, dan kemampuan siswa mengikuti kegiatan belajar. Sebuah studi di Indonesia yang dikutip UNICEF bahkan menemukan angka putus sekolah hampir 50 persen lebih tinggi di sekolah tanpa fasilitas WASH memadai dibandingkan sekolah yang memilikinya. Kondisi tersebut membuka ruang kolaborasi pemerintah dan swasta, terutama untuk membangun kebiasaan hidup sehat sejak usia sekolah.
Presiden Direktur Kao Indonesia, Shoichi Hasegawa, mengatakan perusahaan telah menjalankan program edukasi kesehatan dan lingkungan untuk siswa selama satu dekade. Menurutnya, dukungan berbagai pihak lintas sektor turut berperan dalam keberhasilan program ini.
"Ke depan, Kao Indonesia berkomitmen untuk memperluas manfaat edukasi Anak KAO kepada semakin banyak peserta didik, sehingga pengetahuan dan kebiasaan baik yang diperoleh dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari baik di lingkungan sekolah atau di rumah," katanya, dalam peluncuran program Anak KAO–Sekolah Sehat 2026 di SMPN 73 Jakarta, Jakarta Selatan, Selasa (1/9).
Program yang dimulai sejak 2016 itu telah menjangkau lebih dari 52.000 peserta didik di 257 sekolah di sejumlah wilayah Indonesia. Tahun ini, Kao menargetkan lebih dari 11.000 siswa pada 50 SD dan SMP di Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Nusa Tenggara Timur. Dengan tambahan target tersebut, jangkauan kumulatif program berpotensi melampaui 63.000 siswa setelah pelaksanaan tahun ini.
Cakupan edukasi yang diberikan juga berkembang. Selain perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), program tersebut memasukkan edukasi manajemen menstruasi, pemilahan sampah kemasan, hubungan antarsiswa, hingga pencegahan perundungan.
Direktur Sekolah Menengah Pertama Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah Kemendikdasmen, Maulani Mega Hapsari, mengatakan pembiasaan hidup sehat menjadi bagian penting dalam pembangunan sumber daya manusia.
“Generasi muda adalah generasi emas dan menjadi kunci utama dalam kemajuan bangsa sesuai dengan visi Indonesia Emas 2045. Saya percaya anak-anak memiliki potensi besar untuk membawa perubahan positif bagi masa depan Indonesia, terutama dengan tumbuh menjadi pribadi yang aktif dan kreatif," katanya.
Dia berharap program ini dapat terus berlanjut, diperluas, diimbaskan, serta direplikasi oleh ke satuan pendidikan lainnya sehingga praktik baik yang telah dikembangkan dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi peserta didik dan ekosistem pendidikan
Direktur Promosi Kesehatan dan Kesehatan Komunitas Direktorat Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kementerian Kesehatan Niken Wastu Palupi menilai pembentukan kebiasaan menjadi penting karena perilaku tersebut dapat terbawa hingga usia dewasa. Ia menilai, menanamkan kebiasaan hidup bersih dan sehat sejak dini sangat penting agar dapat diterapkan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari hingga anak-anak tumbuh dewasa.
Bagi Kao Indonesia, kegiatan tersebut ditempatkan sebagai bagian dari strategi ESG perusahaan melalui Kirei Lifestyle Innovation. Pendekatannya tidak hanya menyasar isu kesehatan, tetapi juga memasukkan aspek lingkungan melalui edukasi pemilahan sampah kemasan bekas pakai.
Pada program 2026, sekolah peserta akan mendapatkan waste point untuk mendorong pemilahan sampah kemasan. Sejumlah siswa juga dipilih sebagai Duta Anak KAO yang ditujukan untuk meneruskan praktik tersebut di lingkungan sekolah.
Kao sendiri telah memiliki jejak panjang di Indonesia melalui bisnis produk konsumen. Perusahaan mengoperasikan dua fasilitas produksi sekaligus pusat logistik dan memiliki portofolio merek antara lain Attack, Bioré, Laurier, Merries, Magiclean, Liese, Megrhythm, dan Jergens.
Shoichi mengatakan edukasi kesehatan dan lingkungan ditempatkan perusahaan sebagai bagian dari agenda keberlanjutan jangka panjang.
“Kami berharap program Anak KAO dapat terus memberikan dampak positif yang berkelanjutan dan mendorong semakin banyak pihak untuk bersama-sama berkontribusi dalam mempersiapkan generasi penerus bangsa yang lebih sehat, cerdas, dan peduli terhadap lingkungan,” kata Shoichi.
Setelah berjalan satu dekade, tantangan berikutnya bukan hanya memperbesar jumlah peserta. Ukuran yang lebih penting bagi program keberlanjutan perusahaan adalah seberapa jauh edukasi tersebut mampu menghasilkan perubahan perilaku yang bertahan setelah intervensi berakhir.
