Pendapatan WBSA Melonjak 42,6%, Mengapa Laba Bersih Terkoreksi?

- WBSA mencatat pendapatan Rp1,95 triliun pada semester I 2026, naik 42,6% secara tahunan, didorong pertumbuhan seluruh segmen, terutama freight forwarding yang melonjak 78,1%.
- Laba bersih terkoreksi 95,5% menjadi Rp1,02 miliar akibat penurunan aktivitas pertambangan pasca-penyesuaian RKAB 2026, volume angkutan berkurang, dan persaingan harga logistik makin ketat.
- Pada semester I 2026, WBSA mengakuisisi 99,99% saham BIL senilai alokasi Rp215 miliar, sehingga menguasai layanan logistik laut BMI dengan jaringan lebih dari 300 kapal.
Jakarta, FORTUNE - Emiten logistik PT BSA Logistics Tbk (WBSA) membukukan pendapatan senilai Rp1,95 triliun pada semester-I 2026, meningkat 42,6 persen (YoY) dari Rp1,37 triliun.
Pertumbuhan itu ditopang oleh kenaikan pendapatan pada semua segmen usaha perseroan. Peningkatan pendapatan tertinggi terjadi pada segmen freight forwarding, yakni sebesar 78,1 persen (YoY). Lalu disusul segmen warehousing & storage yang pendapatannya naik 15,4 persen (YoY) serta segmen land transportation yang tumbuh 8,85 persen.
Pertumbuhan seluruh segmen itu memperbesar skala aktivitas dalam jaringan perseroan. "Dalam model bisnis perseroan, pertumbuhan tidak hanya berasal dari penambahan pelanggan baru, tetapi juga dari semakin besarnya kebutuhan logistik pelanggan existing yang dapat dilayani melalui beberapa segmen sekaligus, ini membuka peluang cross-seliing," demikian menurut Manajemen WBSA, Selasa (1/9).
Di tengah pertumbuhan pendapatan itu, profitabilitas WBSA tertekan pada semester-I 2026. Laba bersih WBSA terkoreksi 95,5 persen (YoY) menjadi Rp1,02 miliar.
Penyebab pelemahan profit tersebut, antara lain: penurunan aktivitas sektor pertambangan menyusul penyesuaian alokasi produksi melalui Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026. Kondisi tersebut mengurangi ketersediaan volume angkutan dan meningkatkan intensitas persaingan pada layanan logistik komoditas, sehingga harga menjadi lebih kompetitif.
"Dalam kondisi tersebut, WBSA menjaga tingkat harga yang kompetitif untuk mempertahankan hubungan jangka panjang dengan pelanggan, kontinuitas volume di dalam jaringan, serta posisi perseroan di pasar," kata Manajemen WBSA.
Perseroan menilai, tekanan pada profit di paruh-I 2026 lebih mencerminkan kondisi spesifik selama penyesuaian RKAB dan persaingan lebih ketat. Dus, kinerja pada periode itu belum sepenuhnya merepresentasikan potensi profitabilitas dan kondisi aktivitas logistik yang lebih seimbang.
Perseroan melihat ruang untuk volume dan margin untuk bergerak ke tingkat lebih sehat jika aktivitas produksi kembali meningkat. Kendati demikian, itu membutuhkan waktu dan besarnya penyesuaian akan tetap mengkuti kebijakan pemerintah serta perkembangan aktivitas pelanggan.
Di luar kinerja, pada 6 bulan pertama 2026, WBSA telah mengakuisisi PT Bermuda Inovasi Logistik (BIL) pada 2026. Berdasarkan rencana penggunaan dana IPO, WBSA mengalokasikan Rp215 miliar untuk mengambil alih 99,99 persen saham BIL. Lewat transaksi itu, WBSA memperoleh pengendalian atas PT Beruang Maritim Indonesia (BMI), perusahaan operasional yang menjalankan layanan angkatan laut untuk berbagai kargo, termasuk dry bulk, liquid bulk, alat berat, kontainer, dan kargo umum.
Kapabilitas marine logistics itu didukung oleh jaringan lebih dari 300 kapal dan lebih dari 100 pemilik kargo, dengan cakupan operasional di berbagai wilayah Indonesia. Penambahan kapabilitas itu memperluas cakupan geografis dan jenis kargo yang dapat dilayani WBSA.


















