Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install

Ditopang Bisnis Kredit UMKM, Laba BRI Naik 17,5 Persen Jadi Rp31,2 Triliun

Ditopang Bisnis Kredit UMKM, Laba BRI Naik 17,5 Persen Jadi Rp31,2 Triliun
Jajaran Direksi BRI pada Paparan Kinerja Keuangan BRI Kuartal II-2026/Dok BRI
  • BRI mencatat laba bersih Rp31,2 triliun hingga akhir kuartal II-2026, naik 17,5 persen secara tahunan, terutama ditopang agresivitas penyaluran kredit UMKM.
  • Segmen UMKM menyumbang 75,1 persen portofolio kredit dan pembiayaan BRI Group; Indeks Bisnis UMKM naik dari 102,5 pada 2025 menjadi 104,7 pada kuartal I-2026.
  • Kredit dan pembiayaan mencapai Rp1.646 triliun, naik 16,2 persen, sementara NPL membaik menjadi 2,9 persen; total aset tumbuh 11,7 persen menjadi Rp2.352 triliun.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, FORTUNE – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) menorehkan pertumbuhan laba bersih 17,5 persen secara tahunan (year-on-year/YoY) menjadi Rp31,2 triliun hingga akhir kuartal II-2026. Pencapaian positif ini ditopang utamanya oleh agresivitas bisnis penyaluran kredit pada segmen Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, menyampaikan porsi segmen UMKM mendominasi hingga 75,1 persen dari total portofolio kredit dan pembiayaan BRI Group. Penguatan aktivitas bisnis UMKM juga tecermin pada kenaikan Indeks Bisnis UMKM dari 102,5 pada akhir 2025 menjadi 104,7 pada kuartal I-2026, yang mengindikasikan pelaku UMKM secara umum berada dalam fase ekspansi.

“Kondisi tersebut memberikan optimisme bagi BRI karena UMKM merupakan core business sekaligus bagian penting dari fundamental perekonomian nasional,” kata Hery dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (31/8).

Hingga Juni 2026, bank pelat merah ini membukukan total penyaluran kredit dan pembiayaan Rp1.646 triliun, atau naik 16,2 persen (YoY).

Berlanjutnya ekspansi kredit turut diimbangi dengan perbaikan kualitas aset. Rasio Non-Performing Loan (NPL) membaik dari 3,0 persen menjadi 2,9 persen pada enam bulan pertama 2026, sementara Cost of Credit (CoC) juga sanggup ditekan dari 3,4 persen menjadi 3,1 persen.

Dari sisi likuiditas, ekspansi pembiayaan BRI didukung oleh penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang mencapai Rp1.581 triliun, tumbuh 6,7 persen (YoY) pada kuartal II-2026.

Pertumbuhan penyaluran kredit dan DPK mendorong pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) BRI naik 9,9 persen (YoY) dari Rp73,3 triliun menjadi Rp80,5 triliun. Pada periode yang sama, Pre-Provision Operating Profit (PPOP) BRI juga terkerek 12,8 persen (YoY) menjadi Rp65,7 triliun.

Kombinasi pertumbuhan pendapatan dan efisiensi operasional tersebut mengerek total aset BRI naik 11,7 persen (YoY) menjadi Rp2.352 triliun.

“Bagi kami, yang terpenting bukan hanya seberapa cepat BRI bertumbuh, tetapi bagaimana pertumbuhan tersebut dihasilkan dari fundamental yang semakin sehat dan pada saat bersamaan memberikan manfaat yang semakin luas bagi perekonomian,” ujar Hery.

    Share Article
    Editorial Team

    Latest in Finance

    See More