Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install

OJK Peringatkan Bahaya FOMO dan Overspending Paylater bagi Generasi Muda

OJK Peringatkan Bahaya FOMO dan Overspending Paylater bagi Generasi Muda
Ilustrasi pelajar SMP sedang mengerjakan tugas (123rf.com/ferli)
  • OJK memperingatkan FOMO akibat paparan media sosial dapat mendorong milenial dan Gen Z mengikuti tren tanpa pengelolaan keuangan, sehingga rentan overspending lewat paylater.
  • Pembiayaan BNPL perusahaan pembiayaan melonjak 57,02 persen secara tahunan menjadi Rp13,40 triliun per Juni 2026; 52 persen pengguna milenial dan Gen Z menilai paylater memicu pengeluaran berlebih.
  • Risiko pembiayaan BNPL membaik dengan NPF gross turun ke 3,09 persen pada Juni 2026, sementara indeks literasi keuangan naik menjadi 69,57 persen untuk memperkuat perlindungan konsumen muda.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, FORTUNE — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mewanti-wanti tentang peningkatan risiko pengeluaran berlebih (overspending) akibat fenomena Fear of Missing Out (FOMO) di kalangan generasi muda yang terjerumus dalam penggunaan paylater. Peringatan tersebut mengemuka di tengah tingginya lonjakan penyaluran pembiayaan Buy Now Pay Later (BNPL) oleh perusahaan pembiayaan yang tumbuh 57,02 persen secara tahunan (year-on-year/YoY) mencapai Rp13,40 triliun hingga Juni 2026.

Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menyoroti kerentanan emosional milenial dan Gen Z yang dipicu tingginya intensitas penggunaan media sosial. Keinginan berlebihan untuk menuruti tren gaya hidup tanpa dibekali pengelolaan keuangan sejak dini berpotensi mendorong generasi muda terjerat skema pembiayaan paylater.

“Kalau Gen Z punya kerentanan, mereka karena sering main media sosial, mereka suka cemas, mereka sering melakukan scrolling setiap hari, dan itu menimbulkan kecemasan ingin ikut tren,” kata Friderica pada acara peringatan Hari Indonesia Menabung dan Puncak Bulan Literasi Keuangan 2026 di Bekasi, Jumat (28/8).

Kekhawatiran tersebut sejalan dengan hasil riset Indonesia Millennial & Gen Z Report (IMGR) 2025. Survei tersebut menunjukkan 52 persen pengguna dari kalangan milenial dan Gen Z percaya penggunaan paylater dapat mendorong pengeluaran berlebihan.

Berdasarkan data Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK), lonjakan pembiayaan BNPL sebesar Rp13,40 triliun per Juni 2026 turut diiringi oleh perbaikan risiko pembiayaan. Rasio pembiayaan bermasalah (Non Performing Finance/NPF) gross industri membaik ke posisi 3,09 persen pada Juni 2026, turun dibandingkan dengan Mei 2026 yang mencapai 3,44 persen.

Di sisi lain, upaya penguatan pemahaman keuangan masyarakat menunjukkan perkembangan positif. Data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 mencatatkan indeks literasi keuangan Indonesia naik menjadi 69,57 persen, meningkat dari capaian tahun sebelumnya yang menyentuh 66,64 persen.

OJK berharap penguatan indeks literasi keuangan secara berkelanjutan dapat membentengi generasi muda dari perilaku konsumtif dan mencegah risiko overspending dalam pemanfaatan produk paylater.

    Share Article
    Editorial Team

    Latest in Finance

    See More