LPS Jaga Stabilitas Perbankan Indonesia untuk Hadirkan Peluang Investasi

- LPS menekankan stabilitas perbankan penting bagi ekonomi karena bank berfungsi menyimpan kekayaan, menyalurkan pembiayaan, dan menopang sistem pembayaran.
- Hingga Agustus 2026, LPS menjamin 99,94 persen rekening bank umum dan 99,97 persen rekening BPR/S untuk menjaga kepercayaan masyarakat.
- DPK per Juli 2026 mencapai Rp10,34 triliun dan kredit Rp9.135 triliun; investor pasar modal juga bertambah menjadi 21,04 juta SID pada Januari 2026.
Jakarta, FORTUNE – Sebagai jaring pengaman keuangan Indonesia, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) meyakini bahwa stabilitas perekonomian dan sistem keuangan akan menghadirkan berbagai peluang investasi. Oleh karena itu, sektor Perbankan yang memiliki peran besar dalam dua faktor tersebut perlu terus diawasi dan dijaga stabilitasnya.
Anggota Dewan Komisioner Bidang Program Penjaminan Simpanan dan Resolusi Bank Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Doddy Zulverdi menyebut bank memiliki setidaknya tiga peran penting. Pertama adalah sebagai sarana penyimpan kekayaan atau store of value. Kedua, peran yang penting untuk menggerakkan ekonomi atau sebagai sarana pembiayaan. Ketiga, peran perbankan sebagai alat pembayaran atau payment system. Ketiga peran ini menurut Doddy krusial untuk memastikan perekonomian terus berjalan.
Jika menilik ke belakang, stabilitas sistem keuangan khususnya perbankan itu sudah berhasil menyelamatkan ekonomi Indonesia itu dari serangkaian shock yang pernah terjadi dalam beberapa dekade terakhir. Krisis keuangan di 1998 dan 2007-2008 menjadi beberapa contohnya. Kemudian, taper tantrum di 2013 dan COVID-19 di 2020 juga menjadi beberapa event penting yang dilalui Indonesia tanpa jatuh ke dalam krisis. Rekam jejak itulah yang membuat LPS memandang ketahanan perbankan bukan sekadar urusan teknis, melainkan fondasi dari kepercayaan investor jangka panjang.
“Peran dari ketahanan perbankan itu sangat penting. Seandainya perbankan kita tidak kuat, maka semua shock itu akan diterjemahkan ke dalam krisis yang lebih luas,” jelas Doddy saat mengisi sesi Fortune Investment Forum (FIF) yang berlangsung pada Sabtu (29/8) di Four Seasons Hotel Jakarta.
Ia menambahkan, saat ini LPS terus menjaga stabilitas perbankan Indonesia dengan memberikan jaminan sesuai peraturan perundang-undangan. Persentase cakupan rekening bank umum yang dijamin LPS hingga Agustus 2026 ini mencapai 99,94 persen atau 701,09 juta rekening. Sementara, jumlah rekening yang dijamin di BPR/S mencapai 15,67 juta atau mencakup 99,97 persen.
Alhasil, jumlah Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan per Juli 2026 mencapai Rp10.336 triliun, naik 11,21 persen. Penyaluran kredit di perbankan juga tercatat mengalami peningkatan. Pada periode yang sama, angka kredit menyentuh Rp9.135 triliun atau naik 13,58 persen. Dua indikator ini menjadi bukti bahwa kepercayaan masyarakat dan investor terhadap sistem perbankan masih tinggi.
“Jadi itu pentingnya kita menjaga ketahanan sistem perbankan ini untuk menjaga confidence dan membuat kemudian peluang-peluang investasi itu bisa tumbuh,” ujar Doddy.
Kepercayaan para investor

Anggota Dewan Komisioner Bidang Program Penjaminan Simpanan dan Resolusi Bank Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Doddy Zulverdi (kiri) dan COO IDN, William Utomo (Herka Yanis/Fortune) Pada kesempatan tersebut, Doddy juga berterima kasih kepada para investor dalam negeri yang tetap mempercayakan dananya di Indonesia. Ia menyebut, dukungan para investor turut berpengaruh dalam menjaga iklim investasi tetap kondusif.
Bursa Efek Indonesia mencatat, jumlah investor pasar modal Indonesia per akhir Januari 2026 telah mencapai 21,04 juta single investor identification (SID). Angka ini merupakan penambahan sejumlah 673.218 SID dibandingkan posisi akhir 2025 yang tercatat sebanyak 20,36 juta SID.
"Kita akan terus jaga ketahanan perbankan. Support LPS melalui program penjaminan dan resolusi akan terus kita tingkatkan. Dan sisi lain, saya berharap juga para investor akan support supaya kemudian perbankan kita tetap terjaga,” tutupnya. (WEB)

















