Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install

Pasar Hunian Bergeser, Gen Z dan Milenial Tinggalkan Sewa Properti Jangka Panjang

Pasar Hunian Bergeser, Gen Z dan Milenial Tinggalkan Sewa Properti Jangka Panjang
ilustrasi properti (vecteezy.com/Tinnakorn Jorruang)
  • Hampir 60 persen penghuni Gen Z dan Milenial Cove berencana menyewa hunian selama 1–3 bulan pada 2026.
  • Minat kontrak hunian satu tahun atau lebih turun, sementara pendapatan mayoritas penghuni berada di kisaran Rp10 juta.
  • Lokasi, fasilitas kamar, jarak ke kantor dan transportasi, serta kondisi bangunan menjadi pertimbangan penyewa.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Kamu lebih memilih sewa hunian jangka pendek atau panjang?
Share Article

Jakarta, FORTUNE – Preferensi penyewa hunian dari kalangan Gen Z dan Milenial bergeser meninggalkan masa sewa jangka panjag ke kontrak yang lebih pendek. Penyedia co-living Cove, mencatat hampir 60 persen penghuni dari dua kelompok usia tersebut berencana tinggal selama 1-3 bulan pada 2026, meningkat 32 poin persentase dibandingkan tiga tahun lalu.

Sebaliknya, minat terhadap kontrak hunian selama satu tahun atau lebih turun 22 poin persentase dalam periode yang sama. Perubahan tersebut menunjukkan pergeseran pola permintaan di pasar hunian sewa, khususnya dari konsumen usia produktif yang membutuhkan fleksibilitas lebih besar dalam menentukan tempat tinggal.

Country Director of Growth and VP of Online Marketing Cove, Dian Paskalis, mengatakan 95 persen penghuni Cove saat ini berasal dari Gen Z dan Milenial. Menurut dia, keputssan perubahan durasi sewa salah satunya dipengaruhi oleh faktor mobilitas.

“Bagi mereka hunian yang layak tidak hanya sekadar kamar yang cukup untuk tidur, namun sebuah hunian yang dapat mendukung mobilitas, gaya hidup, dan pergeseran preferensi mereka yang cenderung dinamis,” ujar Dian dalam keterangan tertulis, Kamis (27/8).

Pergeseran tersebut tidak sepenuhnya berkaitan dengan kemampuan finansial. Cove mencatat pendapatan mayoritas penghuninya berada di kisaran Rp10 juta, relatif sama dengan tahun sebelumnya.

Dengan kondisi pendapatan yang relatif tidak berubah, perubahan pilihan durasi sewa mengindikasikan bahwa fleksibilitas menjadi pertimbangan yang semakin penting. Alasan penyewa dapat menghindari komitmen kontrak panjang ketika di antaranya karena menghadapi perubahan pekerjaan, kebutuhan pendidikan, maupun keinginan berpindah lingkungan tempat tinggal.

Dari sisi bisnis hunian sewa, perubahan tersebut berpotensi meningkatkan kebutuhan terhadap produk dengan periode kontrak yang lebih fleksibel. Model co-living menjadi salah satu format yang dapat menyesuaikan kebutuhan tersebut karena menawarkan hunian siap huni dengan fasilitas yang telah tersedia.

  1. Lokasi Jadi Faktor Penting

    Default Image
    Default Image

    Selain durasi kontrak, lokasi menjadi salah satu faktor pertimbangan utama dalam menentukan keputusan penyewa. Berdasarkan data Cove, lokasi hunian mencatat kenaikan lebih dari 20 poin persentase sebagai pertimbangan dalam tiga tahun terakhir.

    Pada 2026, Jakarta Selatan menjadi area yang paling banyak diminati penghuni Cove dengan 64 persen, diikuti Jakarta Pusat 43 persen dan Jakarta Barat 35 persen.

    Kedekatan dengan pusat aktivitas juga tercermin dari profil penghuni. Sebanyak 51 persen penghuni Cove tahun ini merupakan orang yang sebelumnya sudah tinggal di wilayah Jabodetabek, bukan pendatang dari luar kawasan tersebut.

    Data tersebut menunjukkan bahwa pasar hunian sewa tidak hanya berasal dari kebutuhan migrasi ke kota besar. Penyewa yang sudah tinggal di kawasan metropolitan juga menjadi pasar potensial ketika mereka mencari tempat tinggal yang lebih dekat dengan kantor, akses transportasi, maupun pusat aktivitas lainnya.

    Selain lokasi, Cove mencatat tiga alasan terbesar penghuni Gen Z dan Milenial memilih hunian pada 2026 adalah fasilitas kamar pribadi yang lengkap sebesar 79 persen, jarak ke kantor dan transportasi umum 52 persen, serta fasilitas bersama seperti gym, rooftop, dan kolam renang sebesar 51 persen.

    Sementara itu, kebersihan dan kondisi bangunan menjadi salah satu faktor yang paling sering membuat calon penyewa membatalkan pilihan terhadap hunian yang sebelumnya mereka survei. Sebanyak 52 persen responden menyebut kondisi tersebut sebagai keluhan utama.

    Kelengkapan fasilitas berada di posisi berikutnya dengan 43 persen. Fasilitas yang dicari antara lain area parkir, Wi-Fi yang stabil dan lift untuk bangunan bertingkat.

    Perubahan tersebut turut menggeser persaingan di bisnis hunian sewa. Penyedia tidak lagi hanya menawarkan ruang untuk tempat tinggal, tetapi perlu mempertimbangkan durasi kontrak, lokasi, kondisi bangunan, serta fasilitas yang sesuai dengan kebutuhan penyewa.

Share Article
Editorial Team
Ekarina .
EditorEkarina .

Latest in Business

See More