Comscore Tracker
FINANCE

Gen X Lebih Yakin Berbelanja Online Selama Pandemi

Kajian memakai 10 juta sampel transaksi di lapak e-commerce.

Gen X Lebih Yakin Berbelanja Online Selama PandemiPixabay/Preis King

by Bonardo Wahono

Jakarta, Fortune - Banyak hal berubah ketika pandemi COVID-19 merebak. Salah satunya aktivitas belanja. Riset “Perilaku Konsumen e-Commerce Indonesia” yang dirilis oleh Katadata Insight Center dan Kredivo pada pekan kedua Juni 2021 menunjukkan, hal terpokok dari kajian tersebut adalah berubahnya kepercayaan konsumen terhadap transaksi digital terutama di segmen gender dan usia.

Kajian ini memakai 10 juta sampel transaksi di Blibli, Bukalapak, JD.ID, Lazada, Shopee, dan Tokopedia yang dilakukan 1 juta pengguna Kredivo sepanjang tahun 2020. Selain itu, riset memanfaatkan survei online yang melibatkan 3.560 responden pada akhir Maret.

Pada fragmen usia 36 – 45 (Gen X), peningkatan penjualan tercatat mengalami perubahan dari 13% pada 2019 menjadi 19% pada 2020. Sementara, pada golongan gender, konsumen laki-laki lebih sering berbelanja dan menghabiskan lebih banyak uang untuk berbelanja online daripada konsumen perempuan. Ini berkebalikan dari 2019 ketika perempuan memberi sumbangan lebih besar terhadap volume transaksi secara keseluruhan.

Pada laporan tahun sebelumnya, Gen Z (18 – 25 tahun) dan millennials (26 – 35 tahun) mendominasi dengan sumbangannya pada aktivitas transaksi digital sebanyak 85%. Pada 2020, dua generasi yang dikenal lebih luwes menyerap produk teknologi (tech savvy) ini sumbangannya menurun hingga nyaris 10 persennya. Meski begitu, kelompok yang penghasilannya lebih rendah dari Gen X ini tetap tercatat menghabiskan lebih banyak uang di berbagai platform e-commerce.

Saat dipecah lagi dengan lebih detail mengenai apa saja yang dibeli konsumen, terlihat bahwa konsumen laki-laki melakukan lebih banyak transaksi pada kategori busana dan aksesorinya, kemudian pulsa dan voucher, lantas peralatan rumah tangga.

Konsumen laki-laki pun lebih banyak berbelanja busana dan aksesorinya ketimbang konsumen perempuan, yakni 1,2 kali, juga produk makanan (1,5 kali). Sementara, konsumen perempuan lebih condong berbelanja produk lebih mahal seperti komputer, gawai, dan perkakas elektronik. Dalam perkara ini, uang yang dikeluarkan perempuan lebih banyak ketimbang laki-laki: 38% untuk gawai, dan 48% untuk elektronik. 

Namun, transaksi terkonsentrasi di kota-kota berpenduduk besar yang berada di Jawa. Itu wajar karena pulau terpadat di Indonesia ini lebih unggul dalam hal infrastruktur digital, penetrasi internet, dan pendapatan daerah. 

Menurut laporan JPMorgan mengenai tren pembayaran e-commerce Indonesia pada 2020, pasar digital hanya mencatatkan 3% saja dari seluruh penjualan ritel nasional. Namun, pandemi sedikit mengubah peta penjualan.

Meski begitu, tantangan bagi sektor ini untuk berkembang lebih cepat terhalang oleh kondisi geografis negeri ini yang tersekat-sekat oleh air dan pulau. Di sektor pengiriman barang, tantangan dari situ sangat besar.

Dengan penetrasi internet kabel yang tidak merata, konsumen pasar digital jadi mengandalkan jaringan 4G. Meski baru-baru ini mulai ada operator yang memperkenalkan jaringan 5G, tapi untuk menjangkau area yang lebih luas masih akan butuh waktu.

Selain itu, ada kultur konsumen di segmen tertentu yang masih belum terbiasa dengan sistem pembayaran pasar digital. Seperti terbukti pada video yang viral melalui media sosial beberapa pekan lalu. Video berisi pembeli tak puas dengan barang beliannya, lalu memaki-maki kurir. Pembeli melakukan sistem bayar di tempat alih-alih menerapkan pembayaran digital.

Related Articles