Jaga Stabilitas Rupiah, BI Diprediksi Tahan Bunga Acuan 4,75%

- BI diprediksi akan mempertahankan suku bunga acuan (Bi-Rate) dalam Rapat Dewan Gubernur pertama di 2026 untuk menjaga nilai tukar rupiah yang cenderung melemah.
- BI harus independen memperhatikan kondisi moneter dan hati-hati dalam menentukan arah suku bunga ke depan, dengan prioritas menjaga stabilitas nilai tukar dan selisih suku bunga dengan Amerika Serikat.
- Sikap BI mempertahankan bunga acuan akan membantu menjaga selisih suku bunga, mendukung kepercayaan pasar, dan mengendalikan volatilitas mata uang di tengah ketidakpastian global yang persisten.
Jakarta, FORTUNE – Bank Indonesia (BI) diprediksi akan mempertahankan suku bunga acuan (Bi-Rate) dalam Rapat Dewan Gubernur pertama di 2026. Keputusan menahan ini dirasa perlu untuk menjaga nilai tukar (kurs) rupiah yang cenderung melemah hingga mendekati Rp17.00/US$ dalam beberapa hari belakangan.
“Dalam kondisi saat ini, BI diperkirakan akan menahan suku bunga, sebab bila ada pemangkasan justru berisiko memperkecil daya tarik imbal hasil aset rupiah, sehingga tekanan pada kurs bisa bertambah,” kata Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede saat dihubungi Fortune Indonesia di Jakarta, Rabu (21/1).
Bila pelemahan nilai tukar dibiarkan terus menerus dikhawatirkan bakal menggerus cadangan devisa hingga merembet dampaknya terhadap kenaikan harga barang impor, serta mengganggu pembentukan ekspektasi inflasi.
“Inflasi akhir 2025 memang sudah naik lagi menjadi 2,92 persen pada Desember 2025 akibat gangguan pasokan pangan, meski masih dalam sasaran BI. Karena itu, prioritas BI cenderung menjaga stabilitas nilai tukar dan menjaga selisih suku bunga dengan Amerika Serikat agar gejolak tidak meningkat,” kata Josua.
BI harus independen memperhatikan kondisi moneter

Menurutnya, BI harus hati-hati dalam menentukan arah suku bunga ke depan. Sebagai bank sentral, BI harus independen berada di tengah memperhatikan kondisi pasar serta stabilitas moneter. Namun demikian, Pemerintah juga terus berupaya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.
“Sentimen yang paling menentukan naik-turunnya proyeksi BI-Rate ini adalah kombinasi faktor global dan domestik antara lain penguatan dolar dan arah suku bunga The Fed yang cenderung masih ketat pada awal 2026. Ketidakpastian geopolitik yang mendorong pelarian ke aset aman, serta kekhawatiran pasar pada posisi fiskal yang bisa menambah premi risiko bisa menahan minat investor pada tenor panjang,” jelas Josua.
Sementara itu, Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI, Teuku Riefky memandang ketidakpastian geopolitik juga mengganggu ekonomi global. Menurutnya, penguatan dolar AS bisa terjadi kapan saja di tengah perubahan ekspektasi kebijakan moneter AS.
“Meskipun Indonesia terus mencatat aliran modal masuk setelah pemotongan suku bunga The Fed dan BI rate, aliran modal tersebut tidak cukup untuk sepenuhnya menyeimbangkan tekanan eksternal terhadap Rupiah,” kata Riefky.
Bank Indonesia mencatat, aliran modal portofolio bersih masih positif sebesar sekitar US$1,49 miliar sejak pertengahan Desember 2025. Dalam kondisi ini, sikap BI mempertahankan bunga acuan akan membantu menjaga selisih suku bunga, mendukung kepercayaan pasar, dan mengendalikan volatilitas mata uang di tengah ketidakpastian global yang persisten.
Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan hari ini (21/1) tercatat bergerak menguat 1 poin atau 0,01 persen menjadi Rp16.955/US$ dari sebelumnya Rp16.956/US$. Dalam data yang dihimpun LPEM FEB UI, Rupiah mengalami depresiasi sebesar 1,26 persen secara year-to-date (YtD) hingga pertengahan Januari 2026. Bahkan, kinerjanya disebut lebih buruk dibandingkan dengan sebagian besar mata uang regional dan global.
Sementara itu, beberapa mata uang, termasuk Rupee India, Peso Filipina, dan Lira Turki, mengalami pelemahan yang lebih moderat, mata uang lain seperti Ringgit Malaysia, Baht Thailand, dan Yuan Tiongkok menguat selama dua minggu pertama tahun 2026.


















