Dolar AS Tembus Rp17.000, Rupiah Cetak Rekor Pelemahan Baru

Dolar AS tembus Rp17.000 setelah rupiah melemah ke level Rp17.019 per dolar pada pembukaan perdagangan 9 Maret 2026.
Lonjakan harga minyak dan konflik Timur Tengah meningkatkan permintaan dolar sebagai aset safe haven.
Pasar juga mencermati risiko fiskal domestik setelah Fitch menurunkan outlook peringkat utang Indonesia menjadi negatif.
Jakarta, FORTUNE — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah dan menembus level psikologis Rp17.000 per dolar AS pada perdagangan Senin (9/3).
Pada pembukaan pasar, rupiah tercatat berada di Rp17.019 per dolar AS, turun sekitar 0,56 persen dibandingkan posisi penutupan akhir pekan sebelumnya di level Rp16.925.
Pelemahan tersebut menjadi catatan baru bagi rupiah karena melampaui beberapa periode tekanan sebelumnya, termasuk saat pandemi Covid-19 pada Maret 2020 yang berada di kisaran Rp16.600–Rp16.700 per dolar AS.
Level ini juga melewati titik terlemah saat krisis moneter 1998 yang sempat menyentuh sekitar Rp16.800 per dolar AS dalam perdagangan intraday.
Table of Content
Rupiah tertekan bersama mayoritas mata uang Asia
Tekanan terhadap rupiah terjadi di tengah pelemahan mayoritas mata uang Asia terhadap dolar AS. Beberapa mata uang regional mencatatkan penurunan pada awal perdagangan.
Won Korea Selatan memimpin pelemahan dengan penurunan sekitar 0,85 persen, diikuti yen Jepang sekitar 0,58 persen, ringgit Malaysia 0,49 persen, serta rupee India sekitar 0,16 persen.
Di pasar spot, rupiah sempat melemah sekitar 0,64 persen ke Rp17.015 per dolar AS setelah indeks dolar AS menguat 0,7 persen menjadi 99,67.
Kepala strategi valuta asing di National Australia Bank Ltd, Ray Attrill, menjelaskan bahwa penguatan dolar AS dipicu meningkatnya permintaan terhadap aset aman di tengah ketidakpastian global.
“Dolar AS mendapat banyak dukungan dari statusnya sebagai aset safe haven tradisional serta posisi AS sebagai eksportir energi bersih. Pada saat yang sama, ekspektasi pelonggaran kebijakan Federal Reserve pada 2026 mulai dikurangi,” ujar Ray Attrill, dikutip Bloomberg News.
Penguatan dolar tersebut mendorong pelemahan mata uang di berbagai negara berkembang, termasuk Indonesia.
Lonjakan harga minyak dan konflik Timur Tengah tekan pasar
Sentimen global menjadi salah satu faktor utama yang menekan nilai tukar rupiah. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah memicu lonjakan harga minyak mentah dan meningkatkan ketidakpastian di pasar keuangan global.
Konflik antara AS, Israel, dan Iran yang terus meningkat menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi dunia. Sejumlah kapal tanker minyak dilaporkan tertahan di Teluk Persia dan belum dapat melanjutkan perjalanan menuju Selat Hormuz.
Kondisi ini mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia yang kini berada di kisaran 117 dolar AS per barel. Lonjakan tersebut berpotensi memicu inflasi global dan menunda kebijakan pelonggaran moneter di berbagai negara.
Pengamat pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan ketegangan geopolitik menjadi salah satu faktor yang memperkuat tekanan terhadap pasar keuangan.
"Trump mengatakan akan memusnahkan, akan mengganti rezim yang ada di Iran. Ini yang membuat apa? Ketegangan di Timur Tengah melonjak tinggi berakibat terhadap penutupan Selat Hormuz. Banyak analis yang mengatakan kemungkinan besar harga minyak mentah ini akan mencapai level 200 dolar AS per barrel apabila dalam jangka waktu 1 bulan ini belum ada penyelesaian tentang krisis di Timur Tengah," kata Ibrahim dalam keterangannya, Senin (9/3).
Kenaikan harga minyak juga meningkatkan risiko terhadap negara-negara pengimpor energi seperti Indonesia karena dapat memperlebar defisit transaksi berjalan.
Kekhawatiran fiskal domestik turut memengaruhi rupiah
Selain sentimen global, pasar juga menyoroti kondisi fiskal Indonesia yang dinilai menghadapi sejumlah tantangan.
Lembaga pemeringkat Fitch Ratings sebelumnya menurunkan prospek peringkat utang Indonesia menjadi negatif, yang memicu kekhawatiran investor terhadap keberlanjutan fiskal negara.
Ibrahim Assuaibi menilai salah satu faktor yang menjadi perhatian adalah rendahnya rasio pajak Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.
“Dalam satu dekade terakhir, tax ratio Indonesia selalu berada di kisaran 9-10 persen terhadap PDB. Bahkan, angkanya cenderung menurun seperti yang terjadi pada tahun lalu dari 10,08 persen pada 2024 menjadi 9,31 persen pada 2025,” ujarnya.
Pasar juga mencermati potensi peningkatan belanja pemerintah, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diperkirakan menyerap sekitar 1,3 persen terhadap PDB selama periode 2025–2029.
Lonjakan harga minyak dunia yang melampaui asumsi pemerintah sekitar 92 dolar AS per barel juga berpotensi meningkatkan tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Menurut Ibrahim, kondisi tersebut dapat memperlebar defisit fiskal hingga sekitar 3,6 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) jika harga energi bertahan tinggi.
Investor beralih ke aset safe haven
Ketidakpastian global dan tekanan terhadap fiskal domestik mendorong investor untuk meningkatkan kepemilikan aset yang dianggap lebih aman.
Dolar AS menjadi salah satu instrumen yang paling banyak diburu karena dinilai memiliki stabilitas lebih tinggi di tengah volatilitas pasar global.
Pergerakan ini juga diikuti oleh arus keluar modal dari pasar negara berkembang menuju aset safe haven, yang semakin menekan nilai tukar mata uang di kawasan Asia.
Di tengah kondisi tersebut, pergerakan rupiah masih diperkirakan akan fluktuatif dalam jangka pendek.
Ibrahim Assuaibi memperkirakan nilai tukar rupiah akan bergerak dalam kisaran Rp16.850 hingga Rp17.010 per dolar AS sepanjang pekan ini, seiring pelaku pasar terus memantau perkembangan konflik geopolitik dan dinamika ekonomi global.
FAQ seputar dolar AS tembus Rp17.000
| Mengapa dolar AS tembus Rp17.000? | Rupiah melemah akibat penguatan dolar AS, lonjakan harga minyak dunia, serta ketidakpastian geopolitik global. |
| Apakah level Rp17.000 menjadi rekor baru rupiah? | Ya, level tersebut melampaui pelemahan rupiah saat pandemi 2020 dan intraday krisis moneter 1998. |
| Apa dampak lonjakan harga minyak terhadap rupiah? | Kenaikan harga minyak berpotensi memperlebar defisit transaksi berjalan dan meningkatkan tekanan terhadap rupiah. |


















