Comscore Tracker
FINANCE

BPS: Inflasi November Tertinggi Selama 2021, Tanda Ekonomi Menggeliat

Transaksi barang dan jasa mulai meningkat.

BPS: Inflasi November Tertinggi Selama 2021, Tanda Ekonomi MenggeliatPenjual melayani pembeli di Pasar Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Rabu (1/12/2021). ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya/foc.

by Luky Maulana Firmansyah

Jakarta, FORTUNE - Tingkat inflasi atau indeks harga konsumen (IHK) Indonesia pada November 2021 menjadi yang tertinggi sepanjang tahun ini. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), laju inflasi tersebut mengindikasikan perbaikan aktivitas ekonomi dalam negeri.  

Berdasarkan data BPS, tingkat inflasi bulanan November mencapai 0,37 persen, naik dari 0,12 persen pada Oktober. Jika dibandingkan secara tahunan (year-on-year/yoy), inflasi juga lebih tinggi dari 0,28 persen pada November 2020.

“Kalau kami perhatikan series selama tahun 2021, (inflasi November) merupakan inflasi yang tertinggi di tahun 2021,” kata Kepala BPS Margo Yuwono dalam telekonferensi, Rabu (1/12). “Sedangkan, untuk inflasi tahunan di November ini sebesar 1,75 (persen) dan ini juga tertingi sepanjang tahun 2021.”

Dengan begitu, tingkat inflasi tahun kalender (November 2021 terhadap Desember 2020) mencapai 1,30 persen. Sementara, inflasi tahun ke tahun atau yoy sebesar 1,75 persen.

BPS melakukan survei inflasi ini terhadap 90 kota IHK. Dari jumlah tersebut, 84 kota mengalami inflasi dan 6 kota deflasi. Secara mendetail, inflasi tertinggi ada di Sintang, Kalimantan Barat (2,01 persen) dan deflasi terendah di Tual, Maluku (0,16 persen).

Makanan minuman dominan, terutama minyak goreng

Inflasi bulan lalu banyak disumbang oleh kelompok pengeluaran makanan–minuman (0,84 persen). Menurut catatan Margo, inflasi kelompok ini terutama disebabkan kenaikan harga komoditas minyak goreng. Inflasi juga didorong lonjakan harga telur ayam ras, cabai merah, dan daging ayam ras.

Setelah makanan–minuman, kelompok lain yang dominan menyebabkan inflasi adalah transportasi (0,51 persen), perawatan pribadi dan jasa lainnya (0,37 persen), dan perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga (0,35 persen).

Jika ditinjau berdasarkan komponennya, harga bergejolak mendominasi kenaikan harga mencapai 1,19 persen. Berikutnya, masing-masing disumbang oleh kelompok harga diatur pemerintah (0,37 persen) dan inflasi inti (0,17 persen).

Perbaikan aktivitas ekonomi

Data BPS juga menunjukkan pada periode yang sama inflasi inti tahunan mencapai 1,44 persen, naik dari 1,33 persen pada Oktober 2021. Meski begitu, laju inflasi inti tersebut masih lebih rendah dibandingkan 1,67 persen pada November 2020.

Secara umum, inflasi pada November 2021 menunjukkkan perbaikan dan nilainya cukup tinggi. Kata Margo, kondisi demikian mengindikasikan gejala perbaikan ekonomi.

“Transaksi barang dan jasanya semakin banyak dan inflasi naik itu juga indikasi bahwa di situ sudah mulai tanda-tanda pemulihan ekonomi,” katanya.

Related Articles