MSCI Ancam Downgrade Pasar Modal RI, Danantara Nyatakan Sikap

- Danantara Indonesia menyiapkan tambahan dana US$1 miliar atau Rp18 triliun untuk pasar modal domestik hingga akhir tahun, melengkapi alokasi sebelumnya sebesar US$3 miliar.
- Langkah ini diambil saat IHSG melemah dan MSCI mewacanakan penurunan status bursa Indonesia dari emerging market menjadi standalone market.
- Danantara menilai valuasi emiten, terutama perbankan, menarik untuk investasi jangka panjang serta mendukung OJK memperkuat penegakan aturan dan transformasi pasar modal.
Jakarta, FORTUNE – Danantara Indonesia menyiapkan tambahan dana US$1 miliar atau ekuivalen Rp18 triliun untuk masuk ke pasar modal domestik hingga penutupan tahun ini. Keputusan tersebut bertepatan dengan pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) serta wacana Morgan Stanley Capital International (MSCI) merevisi status bursa Indonesia dari emerging market menjadi standalone market.
Tambahan modal US$1 miliar tersebut melengkapi alokasi US$3 miliar yang sebelumnya telah disiapkan Danantara untuk investasi saham dan obligasi pada tataran domestik maupun asing.
CEO Danantara, Rosan Roeslani, menyatakan komitmen masuk ke bursa saham dengan memanfaatkan ekosistem investasi institusi. Dia memproyeksikan sejumlah emiten, terutama pada segmen perbankan, memiliki potensi pertumbuhan ke depan.
“Kami melihat kembali valuasi perusahaan-perusahaan kita sangat baik, sangat solid, dan valuasinya juga boleh dibilang sekarang menjadi sangat murah. Tentunya kita sebagai investor, baik di pasar modal maupun BUMN yang kita miliki, justru melihat ini sebagai opportunity untuk investasi jangka panjang,” ujar Rosan di Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (19/10).
Secara paralel, Managing Director Global Relations & Communications Danantara Indonesia, Pahala Nugraha Mansury, berupaya mendorong Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegakkan aturan bursa sebagai bentuk reformasi.
Pahala memastikan Danantara akan terus berada di pasar dengan merujuk pada angka pertumbuhan ekonomi kuartal II-2026 pada level 5,29 persen sebagai indikator fundamental makro.
“Kami selalu mendukung adanya proses transformasi di pasar modal Indonesia, tentunya bersama juga dengan pihak OJK, dan juga mendukung adanya enforcement yang sudah dilakukan oleh pihak OJK,” kata Pahala usai konferensi pers Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 di Jakarta, Senin (19/10).
Perdagangan bursa saat ini tengah mencatatkan koreksi. IHSG ditutup melemah 3,64 persen ke level 4.996 pada perdagangan Senin (19/10).
Sebelumnya, pada Jumat (16/10), bursa mengalami penurunan 8,01 persen pada pembukaan perdagangan, sehingga Bursa Efek Indonesia (BEI) memberlakukan penghentian perdagangan (trading halt).






















